
Jam baru menunjukkan pukul satu siang. Rendi sengaja pulang cepat dari kantor. Dia sudah rapi dan bersiap, beberapa kali dia kembali mematut dirinya di cermin. Setelah merasa penampulannya sudah oke, Rendi bernafas lega.
Riko yang kebetulan lewat di depan kamar abangnya dengan pintu terbuka lebar tampak heran. Tumben si abang lama mematut dirinya di cermin, biasanya mana pernah berdandan lama seperti itu, sudah ganteng dari lahir dek, ucap abangnya itu selalu.
Semenjak kejadian kak Nay, bang Rendi seperti tidak ada semangat untuk hidup, tiap hari dia hanya pergi bekerja, selebihnya dia adalah raga yang tanpa jiwa. Dan hari ini, hendak bertemu siapa abang? Apa abang sudah melupakan mbak Nayna? Apa abang sudah menemukan cewek lain yang menggantikan mbak Nay? Riko terus bertanya sambil memandang abangnya itu.
Rendi hendak keluar kamarnya dan melihat Riko yang masih tertegun.
"Rik, kalau mami pulang, nanyain abang, bilang abang keluar ada janji yah," ujarnya meninggalkan Riko.
__ADS_1
Riko mengangguk saja, tapi tiba-tiba terngiang ucapan abangnya barusan. Ada janji.
"Bang Rendi janjian sama siapa," Riko sudah mengejarnya ke garasi mobil.
"Siapa lagi yang membuat abangmu sebahagia ini," sahut Rendi dari balik kemudi mobilnya.
"Mbak Nayna maksud bang Rendi," tanya Riko sendiri.
Tepat pukul tiga belas tiga puluh, Rendi sudah tiba di Cafe. Dia memilih meja sudut agar lebih enak dan santai saat berbicara dengan Nay. Hatinya sudah tidak karuan, entah perasaan bagaumana yang kini menggelayutinya. Setelah memesan minuman dia memainkan handponenya untuk mengusir jenuh. Biarlah menunggu, daripada terlambat dan membuat Nayna yang menunggu, pikirnya.
__ADS_1
Sementara di sudut meja lain sepasang mata terus menatapnya tanpa Rendi ketahui.
Tepat pukul dua kurang dua kurang lima menit Nayna sudah tiba di cafe seperti yang diminta Rendi. Nay akhirnya memutuskan datang setelah dengan pergulatan hati yang cukup alot. Dia berat dan memutuskan untuk tidak datang menemui Rendi sesuai permintaannya. Karena Nay sudah memutuskan melepas semua hal yang berhubungan dengan Rendi. Dan juga untuk tidak membuat Rey menjadi salah faham, karena bagaimanapun, Nay juga sudah memutuskan memilih Rey dan meneruskan hidupnya. Tapi Nayna juga sangat penasaran, darimana Rendi mendapatkan kontaknya, sekaligus ingin menjelaskan pada Rendi kalau hubungan mereka sudah lama berakhir. Nayna ingin mereka menjadi hidup masing-masing. Sama seperti yang mereka lakikan lima tahun yang lalu.
Nay sudah masuk ke dalam cafe. Pandangannya langsung menangkap sosok laki-laki yang duduk di meja sudut. Badannya yang tegap dan bidang itu di balut kaos yang tidak terlalu pas body, tapi tetap tidak dapat menutupi otot lengan dan roti sobeknya itu. Tiba-tiba saja Rendi menatap ke arah Nayna. Pandangan merekapun bertemu. Pertemuan sekian lama setelah kejadian buruk waktu itu.
Rendi kembali mengedarkan pandangannya, dia cukup bersabar menunggu tiga puluh menit di cafe itu. Hingga tatapannya tertuju pada sosok seorang gadis manis mungil yang baru memasuki cafe. Dia Naynaku, bisik hati Rey. Nayna memakai Skiny Pants berwarna Cream, dipadukan dengan blouse feminin berearna biru lembut dengan rumbai di dada, blouse itu berlengan sedikit hampir tanpa lengan juga model rumbai yang memperlihatkan lengan mulus Nayna. Dipercantik dengan ankle strap pumps sehingga membuat kaki Nayna bertambah jenjang. Rambut panjgnyapun di biarkannya terurai lurus dengan menyatukan sedikit bagian rambutnya di sisi kiri dan kanan lalu di jepit ke tengah. Sederhana tapi sangat manis, gumam Rendi lagi.
Ahhhh, andai kau tahu Nay, betapa aku sangat ingin memelukmu saat ini. Aku rasanya tidak bisa mengendalikan rasa rindu yang telah berkumpul di dadaku. Tapi sekali lagi, Rendi terus berusahà menguatkan diri dan hatinya, untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuatnya menyakiti Nayna kembali.
__ADS_1