Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Rendi dan Nayna


__ADS_3

Untung dia gadis yang kuat, tidak pingsan di tempat tadi. Kalau tidak bagaimana aku bisa mendengar teriakan minta tolongnya, batin Rendi


Kebanyakkan kasus kekerasan seperti ini, biasanya korban sudah jatuh pingsan terlebih dahulu, sehingga menjadikan para ******** itu lebih gampang dan leluasa untuk melakukan tindakan kekerasan bahkan perkosaan.


Setelah dirasa cukup tenang, walaupun masih terdengar isakan tangisnya. Rendi melepaskan pelukannya, kemudian menyandarkan tubuh Nayna di dinding, perempuan itu diam saja, rasa takut dan trauma akan kejadian barusan seperti masih membayanginya.


Rendi melepaskan jaket kulitnya dan memakaikannya di tubuh Nayna. Tidak mungkin dia mengantar Nayna pulang dengan pakaian tercabik-cabik seperti habis digigit binatang buas seperti ini.


Lalu diangkatnya tubuh Nayna menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian.


Nayna ingin berontak, tapi tubuhnya sudah lemah dan tidak mau berkompromi dengan keinginannya. Nay membiarkan saja Rendi mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Rendi juga tidak mengerti mengapa dia bisa menyetir mobilnya sampai ke tempat sepi ini. Atau memang Tuhan sengaja mengirimkannya untuk menolong Nayna. Karena tempat ini memamg sepi dan jarang dilalui orang. Rendi tidak habis berfikir seandainya saja dia tidak melewati jalan ini tadi, entah apa yang terjadi pada Nayna, kekesalan masih menyelimuti wajahnya.


Nayna sudah duduk didepan di kursi samping kemudi. Gadis itu meringkuk ke arah samping menghadap Rendi, sambil menyandarkan badannya pada jok mobil. Rendi memiringkan badannya memasangkan sabuk pengaman. Tiba-tiba saja Nay menoleh, membuat wajah mereka berdua semakin dekat. Merekapun tidak sengaja bersitatap, mata merekapun bertemu dan saling memandang.


Entah apa yang menggerakkannya tangan Rendi sudah membelai rambut Nayna, menyibakkan anak rambut yang memenuhi dahinya. Kemudian membelai lembut pipi Nayna. Sekilas dia melihat darah di sudut bibir gadis itu, dia mengelap darah itu dengan ujung jarinya.


Tiba-tiba ada dorongan kuat dalam hatinya untuk mengecup bibir tipis yang sexy itu. Bibirnya kini telah menempel pada bibir Nayna, dikecupnya lembut dan ringan seolah takut menyakiti empunya. Bibir mungil berwarna pink itu terasa begitu lembut dan manis. Rendi ingin ciuman itu membantu menenangkan Nayna.


Air mata Nayna tiba-tiba saja mengalir, titik air mata itupun jatuh menyentuh pipi Rendi.


Rendi terbelalak melihat Nayna menangis. Dia spontan melepaskan ciumannya, kembali menatap gadis di hadapannya ini yang terpejam, menangis dalam diam.

__ADS_1


"Bisa-bisanya aku mengambil kesempatan dalam kondisi Nayna seperti ini. Lalu apa bedanya aku dengan penjahat kelamin yang barusan ingin memperkosanya," umpat Rendi merutuki dirinya.


"Maaf Nay......," ucapnya tulus


"Tidurlah, aku akan menjagamu dan mengantarkanmu pulang," ujar Rendi lagi.


Sebenarnya Rendi mengajak Nayna untuk melaporkan kejadian ini terlebih dahulu kepada pihak yang berwajib. Tapi mengingat kondisi Nayna rasanya tidak mungkin. Rendi melirik sekilas Nay yang sudah tertidur, isakannya masih terdengar di sela-sela tidurnya.


Rendi berinisianif menelepon anak buahnya untuk membuat berita acara, menceritakan detail kejadian dan pelakunya, dan menyuruh anak buahnya mengejar dan melakukan penyelidikan.


Tangannya mengambil topi kupluk yang tadi berhasil di tariknya dari kepala ******** itu, lalu memasukkannya ke dalam plastik, topi ini cukup menjadi bukti sementara, dan untuk mengambil sidik jari pelaku, gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2