
Mami memandang bergantian Nayna dan Rendi. Matanya menatap mereka tajam, seolah belati yang siap di tancapkan.
"Jangan coba-coba bohongin mami," ujarnya lagi
Baik Rendi dan Nay masih sama-sama bungkam. Tidak seorangpun dari mereka yang mau memulai untuk bicara.
"Oke, kalau antara abang dan Nay memang tidak ada hubungan apa-apa, mami kembali ke rencana asal untuk menjodohkan Nay dan Bayu," ujar maminya itu kembali memancing
"Kenapa mesti Bayu mi?" spontan keluar pertanyaan itu dari bibir Rendi
"Loh kenapa? Mereka berdua toh sudah saling mengenal, jadi tidak sulit bagi mereka berdua nantinya," pancing maminya lagi
"Lagipula Nay tidak masalah, iya kan sayang," mami menatap Nay. Sementara yang ditanya hanya tertunduk diam
"Adikmu juga sepertinya menyukai Nay," jelas mami lagi ragu.
Awalnya mami memang melihat putranya itu begitu antusias saat awal dia mengenalkannya dengan Nay. Tapi semakin ke sini, saat Bayu mulai mengenal Winda, sahabat Nay itu, mami jadi meragukannya. Percekcokan mereka membuat mami berfikir sebaliknya.
Rendi menatap Nay. Benarkah gadis itu juga menyukai Bayu, adiknya. Memikirkannya saja sudah membuat Rendi sesak, dia tidak rela laki-laki lain berada di sisi Nay, pun laki-laki itu adiknya sendiri.
__ADS_1
Tapi untuk melarang atau kembali masuk dalam kehidupan gadis ini rasanya sudah tidak mungkin. Nay pasti sudah menutup hatinya untuk Rendi, karena penghianatannya di masa lalu.
"Heiii.....mami ini sedang bertanya pada kalian berdua, bukan mau menonton film bisu yang melihat kalian saling menatap,"
"Nayyy.....," ujarnya lagi lembut pada putri temannya itu. Dia sudah melihat Nay tampak berkaca-kaca.
Mami mendekati Nay, memeluk gadis itu, membelai lembut rambut panjangnya.
"Maafin Nay mi," cicitnya
"Nay bukan tidak ingin jujur sama mami. Tapi Nay tidak sanggup untuk membicarakannya. Hati Nay sakit mi," ucapnya hampir tidak terdengar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Suara desahan Nay yang hampir tidak terdengar itu? berbeda di telinga mami yang berada di sampingnya. Mami mendengarkan semua yang Nay katakan barusan. Bisa dipastikan hubungan di masa lalu mereka berakhir karena kesalahan putranya, mami tampak geram.
Melihat Nay sudah tampak begitu sedih, Rendi merasa dadanya ikut terasa sakit. Belum sembuh rasa sakit yang pernah dia torehkan dulu, gadis ini lagi-lagi merasakan sakit oleh kejadian yang menimpanya. Yahhh, dia akan jujur pada maminya, walaupun dia sangat yakin, itu akan membuat maminya menjadi sangat murka.
"Nay adalah mantan Rendi mi. Kami pernah menjadi sepasang kekasih dulu," ucap Rendi jujur
Mami tidak terkejut, dia sudah menduganya. Dia melepaskan pekukannya pada Nay dan menatap putra sulungnya tersebut.
__ADS_1
"Laluuu.....," mami masih menuntut penjelasan
"Rendi terpaksa meninggalkan Nay karena memilih menikahi Mei mi,"
Terpaksa. Nay tersenyum sinis mendengarnya. Baru saja Nay hendak membuka mulutnya, mami kembali bersuara.
"Apa maksudmu dengan terpaksa bang?" cecar mami. Dia ingin permasalahan Nayna dan putra sulungnya menjadi jelas. Karena dia sangat tahu selama ini putranya itu tidak pernah mencintai Mei. Mereka menikah, tetapi seperti dua orang asing.
Rendi tertunduk. Berat mengungkapkan semuanya. Tapi dia harus karena ini memang kesalahannya. Dia ingin maminya tetap baik dan selalu menganggap Nay sepert itu, karena dia memang tidak bersalah.
Rendi menghela nafas dalam sebelum akhirnya menghembuskannya dengan kasar.
"Rendi mengkhianati Nay, Rendi bersama Mei saat kami masih berhubungan," jelasnya tertunduk sendu
"Awalnya Rendi hanya iseng mi. Rendi tidak serius berhubungan sama Mei. Rendi hanya mengikuti teman-teman Rendi saja," belanya lagi
"Heii bang, kau kira usiamu berapa saat itu. Kau masih anak ABG berseragam abu-abu yang masih suka galau. Bagaimana bisa kau terbujuk rayu oleh teman-temanmu yang mami yakin buka abege lagi juga," balas maminya dengan sinis.
Rendi kembali terdiam, dalam hati membenarkan semua omongan maminya.
__ADS_1