
"Nay nggak enak bang.....," Nayna tampak ragu, ketika mereka baru saja tiba di tempat acara.
Rendi memang meminta izin pada bunda untuk mengajak Nayna mendampinginya ke sebuah acara. Pesta syukuran yang diadakan salah satu petinggi Polri di mana Rendi bertugas.
"Tenang saja, kan datangnya sama abang," bujuk Rendi pada Nayna.
Pasti tidak ada seorangpun yang Nay kenal di pesta itu, tentu akan sangat membosankan, gumam Nayna kembali.
Lalu keduanya memasuki areal ruangan pesta yang sudah tampak sangat ramai. Beberapa tampak memberi hormat dan menundukkan kepalanya ketika berhadapan dengan Rendi. Walaupun masih muda, Rendi juga merupakan salah satu petinggi di Polri.
Tidak berapa lama acarapun dimulai. Sang empunya acarapun memberikan kata sambutan, bahwa acara ini di gelar sebagai ucapan syukur sekaligus berbagi kebahagian atas kelulusan putra tertua sang jenderal yang naik jabatan di usia muda di jajaran petinggi kepolisian, sekaligus atas lukusnya putra bungsumya sebagai seorang taruna polisi. Dan terakhir juga ucapan syukur untuk putri keduanya yang telah menyelesaikan pendidikan dokter speaialisnya. Wah benar-benar orang tua yang beruntung, fikir Nayna ikut menatap bangga.
Tapi tatapan Nayna seketika berubah saat MC memanggil ketiga orang putra dan putri sang Jenderal.
Dokter Melia, ujar Nayna menatap kaget sosok putri kedua sang jenderal yang sudah berdiri di atas panggung.
Ya Tuhan, kenapa dunia ini terasa sempit sekali. Kenapa pula aku harus bertemu wanita ini disini, bisik hati Nayna nanar.
Nay berniat menghindar, melangkah menjauh dari areal panggung setelah pembawa acara selesai memperkenalkan sang empunya acara, yang sudah mengucapkan sambutannya barusan. Tetapi langkah Nayna terhenti saat Rendi tampak menggandeng tangannya, menarik tangannya ikut menemui sang empunya acara. Seketika wajah Naynapun berubah menjadi pucat.
"Selamat Jendral.....," Rendi memberi hormat sebelum menjabat tangan dengan sang Jenderal.
"Terimakasih. Pantas saja Jenderal muda kita ini menolak perjodohannya dengan putriku ini, ternyata sudah ada seorang gadis di sampingnya," jawab si Jenderal tampak terkekeh.
Nay menelan salivanya dengan susah payah. Ucapan sang Jenderal barusan juga mengagetkannya. Menjodohkan bang Rendi dengan dokter Melia.
Kemudian Nayna ikut memberi selamat kepada sang Jenderal, juga menyalami dokter Melia.
"Selamat dokter Melia.....," ucap Nayna.
"Terimakasih Nayna.....," balasnya.
"Hei....kalian sudah saling mengenal?" tanya sang Jenderal dan Rendi hampir bersamaan.
Keduanyapun mengangguk dan mengiyakan. Sekilas Rendi dan dokter Melia juga saling menatap. Mungkin mereka belum sampai saling mengenal perihal perjodohan sang Jenderal, gumam Nayna melirik keduanya.
__ADS_1
"Kau lihatlah Melia. Rendi, jenderal muda kita ini. Sangatlah tampan dan mengagumkan, semuda ini dia sudah memiliki pangkat yang tinggi di kepolisian. Ayah sempat berfikir kalian pasangan yang serasi," ucapnya sang Jenderal sambil tertawa.
"Tetapi tentu saja ayah tidak dapat memaksakan jodoh seseorang. Jika nyatanya Jenderal muda ini sudah mempunyai pendamping yang begitu cantik. Kalian berdua terlihat sangat serasi," kemudian sang Jenderal memuji Nayna dan Rendi.
Dan Rendipun hanya tersenyum di hadapan atasannya tersebut.
"Mungkin memang jodohnya dokter haruslah juga seorang dokter. Apa dokter tampanmu itu belum datang Melia?" tanyanya kini pada sang putri.
"Belum ayah.....," jawab dokter Melia.
Degg. Jantung Nayna berdetak kencang lebih dari biasanya. Ada satu perasaan yang Nay sendiri tidak bisa mengartikannya saat sang Jenderal membicarakan dokter tampan pada putrinya itu.
Sudah pasti yang dimaksud Jenderal tersebut adalah dokter Rizki. Mereka menjadi lebih dekat rupanya sekarang, bisik hati Nanya kembali kelu.
"Silahkan lanjutkan bicara....saya tinggal menenui tamu-tamu yang lain...," pamit sang Jenderal menghampiri istrinya dan mengajak menyapa para tamu undangan.
"Rizki.....dokter Rizki....," teriak Melia ketika menangkap seseorang yang baru memasuki ruang acara.
Rizki tampak tersenyum dan melangkah menghampiri Melia. Tetapi senyum itu semakin lama semakin memudar saat matanya juga menangkap sosok Nayna di dekat Melia. Dan gadis itu tidak sendiri, seorang laki-laki tampan yang terlihat gagah juga berdiri di samping Nayna. Seketika Rizki berusaha menguasai hatinya, ada satu perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dia ucapkan.
"Makasih Ki....," balas Melia.
"Oh iya kenalin Jenderal muda kita Ki....," ujar Melia merujuk Rendi.
"Rendi.....,"
"Rizki......,"
Keduanyapun berkenalan dan saling memperkenalkan diri.
"Kalau Nayna, kan udah kenal. Jadi nggak perlu kuperkenalkan lagi kan yah......," ucap Melia lanjut.
Seketika keduanya saling bersitatap dalam diam. Dengan bermacam fikiran di isi kepala mereka masing-masing.
Jadi Rizki sudah sedekat ini dengan dokter Melia. Inikah alasannya agar aku menjauh darinya. Dengan membebaskanku dekat dengan lelaki manapun. Ahhhh, tidak ingatkah bahwa kau sudah melamarku, gumam Nayna sedih.
__ADS_1
Siapa laki-laki ini. Kenapa mereka terlihat sangat dekat. Kenapa hatiku panas. Kenapa aku tidak rela jika Nay bersama aki-laki lain. Tapi aku yang sudah mendorongnya bersama orang lain, gumam Rizki seakan tidak rela.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiiii🖐🖐
Views tercintaahh🤩😍😘
Jangan lewatin up up selanjutnya yah🙏🏻🙏🏻
Author jamin kisah selanjutnya akan jadi milik Nayna✌🤗
Yang suka baca Novel Author ini
Mohon Vote Author🙏🏻
Like 👍
☆☆☆☆☆
Comentnya💬
Tip
Baca dan dukungannya juga tuk Novel Author yang lain🙏🏻
👇
☆ Cinta 90
☆ Mengejar Cinta Ustad
Salam Manis😊
Author
__ADS_1