Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Menyembunyikan Hati


__ADS_3

Nayna kembali tertunduk. Andai Rendi tidak berada di sana pada hari yang sama. Nay sama sekali tidak membayangkan apa yang akan dilakukan ******** itu padanya.


"Sekali aku ucapin makasih banget Ren. Aku berhutang nyawa padamu, karena kalau tidak ada kamu hari itu, entah apa yang terjadi padaku Ren."


ucap Nayna sendu.


"Bukankah sudah kukatakan padamu tadi. Aku bersyukur berada di sana saat hari kejadian," Rendi berusaha menenangkan Nayna


"Aku juga bersyukur bahwa orang itu adalah aku," ujarnya lagi mantap.


Nayna tertunduk. Air bening itu akhirnya lolos juga.


"Sudah Nay, jangan kau ingat lagi kejadian yang lalu, itu akan membuat hatimu bertambah sakit," Rendi menatap Nay lembut.

__ADS_1


Nay makin tertunduk, hatinya sakit kembali. Ingatan kelam itu kembali menyergapnya. Bulir bening itu tak mampu lagi dibendungnya.


Namun sesaat Nay tersadar, dihapusnya air mata yang keburu jatuh itu.


"Maaf, aku menjadi lebih cengeng akhir-akhir ini," Nay memcoba tersenyum walaupun samar, dia malu kenapa mesti menangis di hadapan laki-laki ini.


Rendi tertegun sejenak. Ditatapnya kembali gadis yang ada di hadapannya ini. Dia berusaha terlihat kuat kembali, air matanyapun sudah terlihat samar jejaknya. Kenapa tidak mau terlihat lemah dihadapanku Nay. Aku sudah bukan orang yang berarti lagi bagimu, sehingga kaupun tidak ingin berbagi sedihmu itu padamu, keluh Rendi dalam hati.


Tidak lama Nay kembali memanggil pelayan cafe, dia mempersilahkan pelayan mencatat pesanan Rendi.


Namun tidak bagi Rendi. Sikap formal yang ditunjukkan gadis itu barusan di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit. Dia tidak ingin Nay seperti memberi jarak, mereka bukan orang yang baru bertemu saat kejadian itu. Mereka jg bukan orang yang baru saling mengenal. Bagaimana bisa gadis itu bersikap seolah-seolah tidak pernah ada hubungan apapun antara mereka.


Rendi tidak rela, walaupun dia sadar dia bukan siapa-siapa bagi Nayna, tapi hatinya terus berharap sebaliknya.

__ADS_1


Rendi menarik nafas dalam, sebelum menghembuskannya lagi dengan kasar.


"Baiklah Nay, aku terima ucapan terimakasihmu. Anggaplah kau tidak berhutang apapun padaku. Karena walaupun gadis yang aku bantu saat itu bukan dirimu, tapi orang lain. Aku tetap akan membantu dan melakukan hal yang sama," Rendi menjelaskan dan berusaha bersikap biasa.


Okey, jika itu memang maumu Nay. Aku akan bersikap sama denganmu, anggaplah kita dua orang yang baru saling mengenal, Rendi menyeringai.


Nayna tersentak. Ucapan Rendi barusan sungguh mengejutkannya. Seolah tersirat kalau dia berniat membantu itu karena prikemanusian, kepeduliannya kepada orang lain. Bukan karena gadis itu adalah dirinya. Nay menatapnya tidak percaya, wajah Rendi yang sedari tiba tadi penuh dengan senyuman dan sikap lembut. Kini berubah menjadi biasa saja, tampak begitu datar dan dingin.


Kenapa hatiku jadi tidak rela kau bersikap acuh dan dingin seperti itu Ren, batin Nayna akhirnya.


Andai saja ada orang lain diantara mereka berdua.


Orang itu pastilah akan tertawa melihat tingkah mereka. Menunjukkan keegoisan mereka berdua, sok sok_an mau bersikap dingin dan angkuh. Saling menutupi perasaan masing-masing dengan sikap formal seolah mereka berdua sama-sama orang baru yang belum lama saling mengenal. Mereka berdua mungkin bisa mengambil sikap berbalik dari perasaan mereka masing-masing. Tapi mereka lupa bahwa pandangan mata mereka saat saling menatap, sudah jelas menggambarkan apa isi hati di dalamnya.

__ADS_1


Dan tanpa mereka berdua ketahui, ada sepasang mata menatap intens kedekatan mereka. Sepasang mata yang tidak pernah lepas memandang tajam ke arah Nayna dan Rendi sedari tadi.


__ADS_2