
Rey semakin mendekatkan wajahnya pada Nayna, hidung mereka sudah saling bersentuhan, nafas merekapun sudah memburu.
Tiba-tiba Rey menarik tangannya yang menggenggam tangan Nayna. Dia sudah membelai lembut wajah Nayna. Kemudian jempolnya mengusap lembut bibir mungil sexy milik Nayna.
Nay terdiam dan terpaku. Nafasnya semakin tidak beraturan. Ahhh.....sial, aku menikmati semua sentuhannya, batin Nayna menggerutu.
Rey menatap lekat mata gadis itu, jarinya berhenti tepat di bibir tipisnya.
Rey tidak dapat berbohong. Naluri kelaki-lakiannya sudah menggebu. Dengan jarak sedekat ini, dia semakin tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Berbeda saat Karin menciumnya tadi. Rey sama sekali tidak merasakan apa-apa. Dia bahkan sangat tidak menyukai ketika bibir gadis itu menyentuh bibirnya.
Rey menjaga diri dan hatinya selama ini. Dia tidak pernah bermain-main dengan wanita seperti partner-partnernya sesama pengusaha. Bukan saja karena Rey tidak menyukai gadis-gadis bayaran itu, tapi dia memang menjaga dirinya hanya untuk satu-satunya wanita yang di cintainya. Karena Rey percaya, saat dia menjaga diri dan hatinya, seseorang yang dia cintai disanapun akan menjaga hati dan dirinya.
__ADS_1
Rey mengucapkan istighfar dalam hatinya, dia ingin meredakan semua rasa yang berkecambuk. Kemudian direngkuhnya kepala Nayna. Dipeluknya saja gadis itu dengan erat. Debelainya rambut panjang Nay dengan sangat lembut, kemudian mencium pucuk kepala Nay dengan sangat hati-hati.
"Aku tidak akan melakukannya Nay. Aku hanya akan melakukannya nanti ketika kita sudah bersatu. Aku sudah berjanji dari dulu bukan, kalau aku akan menjagamu. Bukan saja dari lelaki lain, tapi dari nafsuku sendiri sebagai laki-laki," Rey berbisik di telinga Nayna.
Nay membiarkannya saja. Pelukan Rey menghangatkan hatinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau bisa sehangat ini dalam dekapan laki-laki di hadapannya ini.
Kata-kata Rey barusan begitu menyentuhnya. Saat seseorang laki-laki berada dekat dengan wanita yang dicintainya, nafsu pasti akan mengalahkan logikanya. Tapi Rey berbeda, laki-laki ini bisa menjaga marwahnya sebagai seorang wanita. Tiba-tiba saja pelupuk matanya basah, Nay tidak dapat menahan harunya.
Rey melepaskan pelukannya. Dilihatnya air mata di mata wanita yang dicintainya itu. Rey segera mengusapnya dengan tangannya.
Nayna cuma membalasnya dengan tersenyum.
"Apa kau menyesal aku tidak jadi menciummu tadi. Benarkah kau mau juga dicumbu," goda Rey lagi membuat Nayna tersipu malu.
__ADS_1
"Iiihhh.....apaan sih kamu Rey," Nay menepuk lembut bahu Rey.
Rey tertawa melihat Nay sudah semakin tersipu. Dengan wajah memerah begitu, dia semakin terlihat menggemaskan, batin Rey lagi.
"Ayo kita pergi makan siang, perutku sudah sangat lapar," ajak Rey akhirnya.
"Itu kesalahanmu sendiri. Aku sudah membawa bekal untuk kita makan siang bersama di kantormu," keluh Nay kembali
"Iya maaf....maaf, Naynaku sayang," rayunya dengan tersenyum.
"Sudah sana cuci mukamu dulu. Aku tidak mau dikira orang melakukan KDRT saat orang melihatmu nanti," tawa Rey
Nayna terdiam. Bibirnya kembali cemberut. Lalu kemudian beranjak hendak menuju toilet. Begitu dia teringat dia berada di rumah Rey, Nay menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Lurus aja Nay, di sebelah kanan dapur," jelas Rey. Dia tahu apa yang hendak di tanyakan gadis itu.
Setelah Nay berlalu, Rey memilih masuk kamarnya, mencuci mukanya dan berganti pakaian, dia tidak mau bau parfum Karin masih melekat di bajunya. Walaupun bau parfumnya sudah tercampur parfum Nayna saat dia memeluk gadis itu tadi itu.