
Karin sudah masuk ke dalam kamarnya, mencuci muka dan menggosok gigi. Reyhan baru masuk ke kamar saat Karin baru saja keluar dari kamar mandi.
Karin duduk di atas tempat tidur, masih menunggu Reyhan keluar dari kamar mandi. Ini kali keduanya mereka satu kamar lagi setelah pernah satu kamar saat berada di rumah orang tua Karin ketika acara empat bulanan waktu itu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Reyhan menatap Karin.
"Jadi benar kita akan tidur sekamar," tanya Karin masih ragu
"Ya tentu saja, bik Yati dan mang Ujang bahakan sudah memindahkan semua pakaian dan barang-barangku kembali ke kamar ini," jawab Reyhan.
"Baiklah, aku akan tidur di sofa kalau begitu,"
"Kenapa kau harus tidur sofa. Kita tidur di atas tempat tidur berdua," perintah Reyhan
Karin diam saja, lalu duduk di pinggir tempat tidur sebelah kanan, memgambil beberapa bantal dan selimut, kemudian meletakkannya di tengah sebagai pembatas antara dirinya dan Reyhan.
"Kita tidak memerlukan ini semua," Reyhan menyingkirkan semua pembatas lalu naik ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Karin mengubah posisinya yang sudah terlentang menjadi duduk. Dia mengeryitkan alisnya, berusaha mencerna semua tindakan Reyhan barusan.
"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk memberiku satu kesempatan saja. Kita mulai semuanya dari awal," ucap Reyhan memutar tubuhnya menghadap Karin.
Karin masih diam saja dan berusaha bisa mencerna semuanya.
"Karin kita mulai semuanya dari awal. Menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Bukan hanya sampai anak kita lahir, tapi seterusnya bersama-sama membersarkan anak-anak kita nanti," ujar Reyhan tulus.
Apa yang dikatakannya Reyhan tadi. Anak-anak kita nanti, apa itu berarti, Karin bertanya bingung.
"Bagiku menikah itu cukup satu kali, istripun hanya satu saja. Kita adalah pasangan suami istri yang sah menurut agama dan negara. Dan akan tetap begitu, hingga nanti Tuhan mengambil salah satu dari kita," ucapnya kembali.
"Lupakan semua yang sudah terjadi. Mari kita mulai lagi semuanya dari awal. Dan semuanya akan di mulai dari kamar ini," ucap Reyhan dengan tegas.
Karin terdiam. Dia masih menatap Reyhan dengan berbagai perasaan juga tanya di hatinya.
"Boleh aku bicara dulu dan mengelus anak kita sebelum tidur," pinta Reyhan pada Karin.
__ADS_1
Lama Karin terdiam sebelum akhirnya menganggukakan kepalanya.
Reyhan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Karin. Lalu mulai mengusap lembut perut Karin yang sudah mulai sedikit terlihat dengan sangat lembut.
"Assalamualaikum sayang. Ini daddy sayang. Mulai hari ini daddy berjanji padamu nak. Kalau daddy dan mommy akan selalu berada bersamamu, menjaga dan membesarkanmu bersama-sama. Daddy janji, kamu tidak akan pernah kehilangan kasih sayang dari daddy dan mommymu. Maaf kalau daddy terlambat menyadari bahwa kalian berdualah harta daddy yang paling berharga. Jangan nakal-nakal di sana, jangan bikin mommymu susah ya sayang,"
Cup....Cup....Cup....tiba-tiba saja Reyhan menundukkan kepalanya dan mengecup perut Karin diatas pakaian yang dikenakan Karin.
Karin tampak terkejut, matanya yang sudah memerah karena sedari dari menahan agar air matanya tidak tumpah, kini sudah benar-benar lolos, air bening itu sudah mulai penuh membasahi wajahnya. Karinpun jadi terisak.
"Heiii....kenapa menangis," Reyhan menghapus air mata Karin.
"Mulai hari ini selalulah bahagia. Jangan lagi bersedih, karena itu akan mempengaruhi anak kita, dia pasti akan merasakan semua yang kamu rasakan. Maaf kalau menyakitimu terlalu lama," ucap Reyhan mengecup kening Karin.
Karin terdiam. Reyhan yang selama ini dikenalnya sudah kembali. Reyhan yang baik, yang lembut, yang sopan, Reyhan yang soleh yang telah membuat Karin menjadi buta karena cinta.
"Sudah sana tidur, udah malem, istirahat." ujar Reyhan akhirnya pada Karin.
__ADS_1
Karin merebahkan tubuhnya di sisi kanan tempat tidur, sementara Reyhan berada di sisi kiri, memiringkan badan saling menghadap. Mereka saling menatap dalam diam sebelum akhirnya terlelap dalam buaian mimpi membalut lelah dari tubuh yang butuh pelepasan.