
"Mom dan dad ke kamar dulu ganti pakaian," ujar mom ketika sampai di rumah.
"Bik Lastri siapin makanan yah. Ini belum pada makan siang semua," perintah mom pada bik Lastri.
"Baik nyonya....," jawab bik Lastri bergegas menuju dapur.
"Non Rena sama non Nayna cantik sekali," bik Lastri sempat memuji nona-nona mudanya itu, sebelum menuju dapur.
"Aihh bibik, bisa gombal juga," sahut Rena yang di sambung senyum mengembang milik Nayna.
"Nay bawa pakaian ganti sayang?" tanya mom pada Nayna.
"Bawak mom. Ada di bagasi mobil bang Ki. Tadi pas jemput nggak dikeluarin, karena kan langsung ke gedung mom," ujar Nay menjelaskan.
"Mbak.....,"
"Ya udah biar abang ambil tasnya. Kamu ke kamar abang aja sayang. Bersihin make upnya dulu aja, ntar abang bawain pakaian gantinya ke kamar," potong Rizki ketika Rena hendak bicara.
Ini anak pasti mau menguasai Rena lagi. Nggak ada puasnya di sana tadi. Nggak mikirin abangnya sama sekali, ujar Rizki dalam hatinya.
"Widiihhh....bang Ki udah sayang-sayangan aja. Kita semua masih ada nih bang. Dikiranya kita semua ngotrak kali," goda Roby si bungsu.
"Siriik aja ini anak kecil," balas Rizki sewot.
"Nay gantinya di kamar Rena aja bang," ujar Rena pelan.
"Nggak usah. Ntar Nay malah ribet ngurusin si Rena aja," tolak Rizki mentah-mentah.
"Ihhh bang Ki jahat banget deh," rajuk Rena kemudian.
"Kan Rena sama mbak Nay bisa saling bantu bukain sanggul," jawab Rena kembali memberi alasan.
"Mbak Nay biar abang aja yang bantuinnya," jawab Rizki cepat.
"Ya udah, Rena biar mom yang bantuin. Bang Ki sana ambil pakaian ganti Nay di mobil," mom akhirnya memberi perintah.
__ADS_1
Perintah yang membuat Rena tersungut-sungut tidak suka. Dan Rizkipun merasa menang dan segera berlalu menuju garasi di mana mobilnya terparkir, mengambil pakaian ganti milik Nayna.
"Nay sana ke kamar bang Ki. Bersihin make up sama buka sanggulnya aja dulu," ujar mom pada Nayna.
Walaupun awalnya ragu. Nay akhirnya menuruti perintah mom juga. Menaiki tangga menuju lantai dua kamar Rizki.
Nay masuk ke dalam kamar Rizki. Untunglah kamarnya tidak terkunci. Aroma khas maskulin campur mint milik Rizki begitu terasa di dalam kamar ini. Aroma yang sangat disukai Nayna. Aromanya begitu gentlemen dan macho bagi Nayna. Kamar Rizki yang di dominasi warna abu-abu ini, seperti biasa saat Nay pernah masuk ke dalam kamar sebelumnya, tetap selalu bersih dan tertata rapi. Sepertinya dokter tàmpan ini pencinta kebersihan dan kerapihan, atau mungkn juga pencinta kesempurnaan, ujar Nayna dalam hati.
Nayna menatap kaca besar di sudut kamar. Menarik kursi dan mengeluarkan alat make up di dalam tasnya. Untunglah Nay tadi membawa tasnya jadi tidak perlu menunggu Rizki untuk membersihkan sisa make up di wajahnya. Nayna mulai menyapukan pembersih wajah pada make up tebalnya hari ini. Setelah semua bersih Nay lalu memakai pelembab pada wajahnya. Uhhh....wajahku sudah terasa segar, ujar Nayna kembali dengan tersenyum menatap kaca besar di hadapannya. Nayna sebenarnya memang tidak suka memakai make up tebal, kecuali ada acara resmi saja. Nay lebih suka make up yang natural dan flowy saja.
Sementara di balik pintu yang terbuka, sepasang mata sudah menatapnya dengan tersenyum. Dengan tas di tangannya dia melangkah pelan mendekati Nayna.
"Mau abang bantu?" tanya Rizki begitu dilihatnya Nayna tampak kesulitan melepaskan jepit-jepit lidi kecil yang memenuhi sanggulnya.
Nayna terkejut dan sontak menoleh ke arah Rizki. Menatap lekat netra hitam teduh yang begitu dekat dengan wajahnya, lalu menganggukkan kepala dan menghindari tatapannya sendiri.
Rendi melepaskan dengan hati-hati jepit lidi yang membungkus sanggul di kepala Nayna. Nayna cuma terdiam duduk menghadap kaca dan menerima satu demi satu jepit lidi yang dìlepaskan Rizki dari rambutnya. Setelah sanggul dan semua jepit lidi telah terlepas dari rambut Nayna. Rambut Naynapun bebas tergerai. Untung saja tadi Nayna meminta tidak terlalu banyak memakai hairspray untuk membentuk sanggul di kepalanya, sehingga rambut Naypun jadi tidak terlalu kusut.
Nayna menyisir rambut hitam lebat bergelombangnya. Wajah cantiknyapun telah tersapu bersih dari riasan make up tebal yang dipolesnya ketika acara wisuda Rena tadi. Setelah dirasa Nayna telah selesai, dia berbalik menatap Rizki lembut.
"Eee....aakk...iii.....," Rizki yang sedari tadi memperhatikan Nayna mematut dirinya dari balik cermin tampa berkedip sedikitpun tampak terkejut dan kaget.
"I...itu tasnya Nay. Abang tarok di dekat lemari," jawab Rizki begitu lepas dari kegugupannya, menujuk tas milik Nayna.
"Makasih bang Ki.....," ujar Nayna.
Lalu Nayna mengambil pakaian ganti dan handuk kecil yang memang sudah dipersiapkan Nay dari rumah, di dalam tas yang tadi diambil Rizki. Ketika menelepon Nay kemarin, mom memang menyuruh Nay untuk membawa pakaian ganti.
"Nay ganti baju dulu ya bang," ucap Nayna berlalu.
Rizki cuma mengangguk dan menatap lekat tubuh Nayna yang akhirnya menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mendengar Nayna mengunci pintu kamar mandi, dan terdengar suara keran air dihidupkan. Rizki membuka kemeja dan celana panjangnya. Berganti memakai kaos oblong dan celana pendek, tampilan Rizkipun menjadi lebih santai. Lalu menuju wastafel di samping kamar mandi, mencuci dan membersihkan wajahnya. Rizki menatap kaca wastafel sambil mengelapkan handuk ke wajahnya.
Lumayan segar, ujar Rizki berkata sendiri di depan cermin. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Meluruskan badan dan tulang-tulang di tubuhnya yang terasa lumayan capek, sambil menunggu Nayna keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hii🖐🖐
Views Tercintahh🤩😍
Uwuww banget bang Ki dan Nayna🤩😍😘
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤