Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Kerumitan Cinta Segitiga_Bayu


__ADS_3

"Mas Bayu, kata mbak Winda masuk aja," ujar Rini begitu keluar dari ruangan Winda.


"Ahh yang bener, serius loe Rin," Bayu meragu.


"Mas Bayu dibilangin malah nggak percaya. Ya udah aku bilangin mbak Winda lagi kalau mas Bayu nggak jadi masuk," balas Rini memutar badannya kembali.


"Eeee, mau kemana," panggil Bayu


"Ya masuk lagi. Mau biilangin ke mbak Win kalau mas Bayunya mau balik,"


Bayu menghadang Rini, di tatapnya lagi gadis itu.


"Sana balik ke mejamu," perintah Bayu


"Yeeee, tadi nggak percaya. Giliran udah diancem aja takut," Rini menjulurkan lidahnya mengejek.


Bayu sudah mengetuk pintu ruangan Winda. Dia membuka pintu dan masuk setelah mendengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya masuk.


"Duduk Bay," sapa Winda dengan sopan.

__ADS_1


""Terimakasih," jawab Bayu begitu dilihatnya Winda sudah duduk manis di sofanya.


Gadis itu masih selalu menawan seperti biasanya, walau wajahnya terlihat tampak pucat. Dia segera mengambil langkah duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Winda.


"Ada perlu apa," tanya Winda lagi.


Sementara Bayu masih terus mengamati wajah cantik di hadapannya ini. Wajah cantiknya yang selalu tersenyum itu seakan menghilang, menyiratkan kesenduan dan kesedihan di sana. Padahal senyum itulah yang paling Bayu sukai, senyumannya itu membuat Winda selalu menjadi begitu manis dan ceria, tapi nyatanya awan mendung menutupi keceriaannya itu.


"Kamu kenapa Win," tanya Bayu tanpa menggubris pertanyaan Winda barusan. Dia malah membalikkàn pertanyaannya.


"Bang David," Rini tampak terkejut ketika kekasih bos nya itu sudah berdiri di hadapannya.


Coba kalau mbak Nay juga masih di sini. Bisa gila aku ditunjukkan kesempurnaan bagai dewa wajah ganteng mas Rendi dan mas Rey. Tuhan, mohon kuatkan hatiku, Rini jadi ngelantur sendiri.


"Winda ada di ruangannya, Rin," tanya David memupuskan lamunannya.


Bang David bertanya dengan sopan dan lembut. Dan inilah memang kekebihan bang David, pikir Rini. Selain tampan dan macho, bang David itu begitu sopan dan lembut. Wajar saja mbak Win menolak mas Bayu, dan kekeuh bertahan dengan mas David. Aduhhh, siapa sih yang menolak disapa tiap hari sama laki-laki ganteng selembut ini, Rini kembali dalam khayalannya. Hingga panggilan David kembali menyadarkannya.


"Rin, ditanya malah melamun," David tersenyum.

__ADS_1


"Ee....eng....ada bang, mbak Win ada di ruangannya tapi....," Rini menjawab gugup.


Waduh gimana nih, kan lagi ada mas Bayu di ruangan mbak Win, Rini jadi ketakutan.


"Kamu kenapa Rin. Menjawab...gugup begitu," tanya David kembali.


"Eee, nggak bang," Rini tersenyum.


Jatuh cinta padamu bang, itu mah kalau boleh, sempet-sempetnya Rini masih berharap, atau tepatnya lagi berkhayal.


"Ya udah aku ke ruangan Winda dulu ya....," David sudah melangkah


"Tapi bang.....," teriakan Rini sudah percuma.


David memberi kode jari telunjuk di mulut dari jauh, agar Rini bungkam. Dia sudah berdiri di pintu ruangan Winda yang memang terbuka. Winda sengaja membuka pintunya, karena tidak ingin menimbulkan fitnah, lagipula dengan begitu ada sektetarisnya di luar yang bisa mengawasi.


David menghentikan langkahnya begitu di dengarnya ada suara laki-laki dari dalam ruangan Winda. David memutuskan mendengarkan sebentar percakapan mereka. Jika laki-laki itu klien perusahaaan Winda, dia akan mengurungkan niatnya masuk dan menunggu saja di sofa meja Rini. Tapi jika laki-laki itulah yang selama ini mengejar-ngejar Winda, dia akan lebih dulu jadi penghalang mereka. David tidak mau masalahnya dengan Winda malah memberi peluang laki-ĺaki itu jadi masuk dalam kehidupan kekasihnya itu.


Sementara Rini sudah was-was ketakutan saat dilihatnya dari jauh bang David berhenti di samping pintu ruangan mbak Winda. Otaknya sibuk memikirkam apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


__ADS_2