
"Assalamualikum," sapa suara di seberang telephone begitu tombol hijau telephone di pencet.
"Waalaikumsalam. Ada apa bang," sambut suara di telephone.
"Aku nggak ada praktek siang. Kamu mau di samperin buat makan siang bareng dek," tanya suara di seberang lg.
"Hmmm, bentar bang," beberapa saat telephone berhenti, seorang gadis tampak sibuk membuka-buka buku agenda.
"Ya udah bang. Sehabis makan siang juga nggak scedule, kayaknya bisa langsung pulang juga," ujarnya lagi setelah beberapa saat.
"Oke. Kalau gitu abang OTW yah. Assakamualaikum," sapa suara di seberang lagi menutup telephone.
"Walaikumsalam,"
Dr Rizki keluar dari ruang prakteknya dengan wajah tampak sangat bahagia. Dia tidak lagi memakai baju putih dokternya. Kemejanyapun tampak di gulungnya sampai siku, memperlihatkan otot lengan dan dada bidang sang dokter tampan.
"Siang dr Melia. Apa anda praktek siang," sapa dr Rizki ketika dr Melia baru tiba dan hendak masuk menuju ruangan prakteknya.
"Ee..Iy...dr Rizki....iya saya ada praktek siang," jawab dr Melia terbata-bata.
Dr Melia sama sekali tidak menyangka dr Rizki yang menyapanya barusan. Pelipisnya sedikit berkerut menunjukkan keheranan.
"Oke. Selamat beraktifitas. Saya permisi dulu dr Melia," jawab Rizki dengan ramah dan tersenyum.
"Ba...Baik dr Rizki," jawab dr Melia.
Dr Melia masih mematung di tempatnya berdiri. Dia masih memandangi dr Rizki yang berjalan menjauh. Hingga saat punggung dr Rizki sudah berbelok dan tidak lagi terlihat, dr Melia masih tetap setia berdiri di depan pintu ruang prakteknya.
Dr Rizki tadi menyapa dengan ramah dan tersenyum. Dua hal yang tidak pernah dilakukannya, bahkan tidak pernah terlihat sekalipun sejak dia bertugas di rumah sakit ini. Apa benar yang dikatakan seluruh penghuni rumah sakit. Kalau dr Rizki sudah punya pacar. Tampaknya pacarnya itulah yang akhirnya merubah sosok dingin dan beku dr Rizki, gumam dr Melia masih mematung, menatap dari kejauhan.
Dia terliahat sangat bahagia. Benarkah dr Rizki telah jatuh cinta, tanya dr Melia kembali dalam hatinya.
"Dr Rizki kalau ramah begitu, makin ganteng aja. Tapi sayang sekarang dia sudah punya pacar. Aku pernah melihatnya saat dia membawa pacarnya ke rumah sakit beberapa minggu kemarin," ujar seorang perawat.
__ADS_1
"Mahluk terganteng di rumah sakit ini akhirnya Sold Out juga....hiks....hiks....," seorang perawat menyahuti dengan sedih.
"Apa kau melihat bagaimana pacar dr Rizki," tanya si perawat yang sudah mengubah mode sedihnya menjadi penasaran.
"Tentu saja. Dia sangat cantik, bahkan seluruh dokter dan perawat cantik di rumah sakit ini tidak bisa menandingi kecantikan pacar dr Rizki. Kecantikan paripurna layaknya seorang artis saja. Apa mungkin pacar dr Rizki itu seorang model," jawab si perawat yang sudah pernah melihat kedekatan dr Rizki dengan pacarnya.
"Darimana kalian tahu kalau itu pacar dr Rizki," dr Melia yang sedari tadi mendengarkan akhirnya tidak dapat menahan diri untuk ikut bertanya.
"Ee...dr Melia....siang dok," sapa kedua perawat serentak.
"Siang," dr Melia tersenyum menjawab.
Dr Melia memang sangat terkenal di rumah sakit ini selain dr Rizki. Kalau dr Rizki aktornya rumah sakit ini, maka dr Melialah aktrisnya.
"Dr Rizki sendiri yang mengatakan kepada saya saat saya bertemu mereka berdua dok," jawab si perawat menjawab pertanyaan dr Melia.
"Walaupun hati saya tidak rela. Tapi saya tidak memungkiri, kalau dr Rizki dan pacarnya adalah pasangan yang benar-benar serasi," tambahnya lagi menjelaskan.
"Ya sudah sana kembali ke pekerjaan kalian, jangan ngerumpi aja," perintah dr Melia pada kedua perawat.
Sementara dr Rizki, si dr tampan sudah masuk ke dalam mobilnya, mengemudikan pelan-pelan mobilnya dengan bahagia, karena hendak berjumpa sang kekasih hati. Dr Rizki sama sekali tidak tahu, bahwa hari ini dia sudah menghebohkan seantero rumah sakit, saat tersenyum ramah dan menyapa dr, perawat atau staf rumah sakit yang dijumpainya sepanjang jalan menuju parkiran mobil tadi. Seantero rumah sakit menggosipkan si pangeran es yang sudah mencair hatinya karena sudah bertemu seorang putri cantik. Ada-ada saja cerita orang, memangnya mereka hidup di rumah sakit negeri dongeng.
"Lidia, mbak keluar makan siang, tapi nggak balik lagi ke kantor," ucap gadis manis itu pada sekretarisnya.
"Baik mbak Nay," jawab Lidia.
Kalau ada yang cari mbak, atau ada yang penting, kamu segera hubungi mbak yah," ujarnya lagi memberi perintah.
"Siaaapp mbak," Lidia menunjukkan jari okenya pada Nayna.
"Mau kencan ya mbak," tanya Lidia penasaran.
"Ehhh.....ini anak kepo yah....," jawab Nayna tersenyum.
__ADS_1
Lidia memang diperintahkan Nayna tidak memanggilnya bos, cukup mbak Nay saya. Karena dia ingin akrab dengan sekretarisnya itu. Karena prinsip Nayna, kebaikan akan mencegah seseorang untuk berbuat curang.
"Pasti sama si dokter tampan," goda Lidia pada Nayna.
Nayna hanya terenyum mendengar godaan Lidia. Biarkan gadis itu dengan asumsinya sendiri.
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤
Coment 💬