
"Ay permisi tante," pamit Nayla pada mami bang Rendi yang sekarang adalah bos nya itu.
"Iya Ay. Tolong bantu abang ya Ay," ujar mami menatap lembut Nayla.
"Tentu saja tante. Tante jangan khawatir," balas Nayna tersenyum manis.
Lalu keduanya melamgkah menuju kantor milik Rendi. Walaupun usaha Rendi adalah usaha kuliner rumah makan padang, tapi Rendi telah memiliki beberapa cabang hampir di sebagian wilayah tanah air. Jadi usaha yang dijalani Rendi bukanlah ecek-ecek. Rendi memiliki sebuah kantor magament perusahaan yang mengatur semua urusan pengeluaran dan penghasilan dari banyaknya cabang rumah makan ynag dijalaninya.
Nayla dan Rendi sudah tiba di perusahaan milik Rendi. Sebuah kantor yang letaknya sangat strategis dan juga manis. Bagaimana bisa kantor ini jadi menyerupai kantor tante Ratih, begitu asri dan sejuk. Taman bunga yang mengelilingi kantor, bahkan sangat instragamable. Mau tidak mau Nayla jadi tersenyum sendiri.
Bagaimana bisa, laki-laki dingin dan ketus macam bang Rendi membuat kantornya jadi begini cantik, fikir Nayla. Walaupun Nayla bisa menduganya, siapa dibelakang semua ìni.
"Jangan senyum-senyum begitu. Yang mengatur dan menghias kantor ini semuanya mami," ujar Rendi ketus begitu menangkap Nayla yang sedang tersenyum senyum sendiri.
"Ay tahu bang, pasti tante Ratih. Lagipula kan nggak mungkin bang Rendi yang dingin dan ketus kayak gini berhati hello kitty," ujar Nayla spontan.
Ucapannya membuat Rendi melototkan matanya pada gadis itu. Kukira dia persis Nayna. Ternyata suka bicara juga, gumam Rendi berlalu lebih dulu.
Nayla yang memang sama mungilnya dengan Nayna berusaha mengejar langkah Rendi. Langkahnya panjang sekali, berjalan cepat pula, gumam Nayla yang tidak mampu menyeimbangi Rendi.
"Jalannya cepet banget sih bang.....hufttt....," Nayla mengatir nafasnya kerika sampai di ruangan kantor Rendi.
"Kamu aja yang jarang olahraga. Gini aja udah bengek," cibir Rendi dingin.
Dasar kulkas satu pintu, maki Nayla kembali dalam hati karena cibiran Rendi.
"Itu meja kamu Ay....," tunjuk Rendi pada meja sekreraris sebelumnya.
"Semua berkas yang perlu kamu pelajari ada di sana," ujar Rendi kembali.
"Bang, pesenin Ay minum dulu dong. Ay haus banget, tenggorokan kering. Bang Ren nggak liat nih nafas Ay ngos-ngosan ngikutin langkah abang," sungut Nayla pada Rendi.
Rendi tertawa dalam hati. Gadis ini lucu juga, gumam Rendi
__ADS_1
Tetapi Rendi sangat pintar menutupi perasaannya sendiri. Rendi tetap menunjukkan tampang dingin dan ketusnya pada Nayla.
Rendipun memanggil OB melalui earphone kantor, meminta diantarkan dua es jeruk peras.
"Terimakasih bang," ucap Nayla tersenyum lembut.
"Biasa saja jangan berlebihan. Aku hanya tidak mau jika mbakmu menganggap aku bersikap buruk pada adiknya,' ujar Rendi dengan kejam.
Ah iya, aku lupa bang. Kalau kau itu hanya mencintai mbak Nay. Aku lupa kalau mbak Nayku adalah satu-satunya wanita yang kau cintai, bahkan mungkin hingga detik ini, jawab Nayna dalam hati sendu.
Rendi mengerutkan alisnya. Menatap bingung perubahan yang ditangkapnya dari wajah Nayla.
Kenapa wajahnya berubah sedih begitu, bukankah aku mengatakan yang sebenarnya, gumam Rendi.
Untunglah terdengar suara ketukan di pintu. Pak Kosim, masuk membawakan dua gelas es jeruk sesuai permintaan bosnya.
Nayla menyambut hangat dengan segera menegak setengah dari isi gelas yang sudah tersaji tepat di atas mejanya.
Huk...hukkk....hukkkk.....tiba-tiba Nayla tersedak.
Nayla terdiam. Bukannya dibantuin, di tepuk-tepuk kek. Ini malah ketus banget, Nayla mengerucutkan bibirnya.
Rendi tersenyum, sebenarnya ingin tertawa melihat bibir Nayla yang mengerucut begitu. Tatapi Rendi menahannya saja. Memasang wajah dingin dan ketus seperti biasanya. Rendi tidak ingin gadis di hadapannya ini menjadi salah faham. Rendi tidak ingin dekat dengan siapapun, termasuk adik kandung Nayna ini sekalipun.
"Berhenti ngedumel dalam hati. Tidak baik memaki orang lain dalam hati. Apalagi mengatai orang lain dalam diam," ketus Rendi kembali.
Kayak dukun saja, tahu kalau lagi aku umpatin, ujar Nayla makin kesal.
Nayla mulai membuka file-file yang ada di mejanya. Menyalakan laptop. Meneliti tiap laporan dan keterangan apapun yang mengharuskannya untuk diperiksa. Wajahnya Naylapun berubah menjadi sangat serius.
Rendi sendirì masih sibuk dengan laptopnya sendiri. Sekali-sekali juga mengecèk handphonenya. Suasana menjadi sangat lenggang.
Diam-diam ujung matanya melirik Nayla. Gadis itu masih tidak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
Ternyata dia bisa seserius ini, jika sedang bekerja. Mami tidak salah memilih seseorang untuk menjadi kepercayaannya sepertinya. Kita lihat saja, apakah semua yang di fikirkan mami itu tepat.
Rendi menghentikan aktifitasnya sesaat. Matanya makin lekat menatap Nayla. Heii....kenapa semakin dipandangi gadis ini persis sekali dengan Nayla. Liatlah ekspresi lucunya itu kala sedang berfikir. Sikap yang di tunjukkannyapun menyerupai Nayna. Hhmmmm.......Aku jadi merindukanmu kembali Nay, Rendi kembali mendesah.
Desahannya bahkan terdengar di telinga Nayla. Nayla melirik melalui ekor matanya. Rendi tengah menyandarkan kepalanya di ujung kursi, matanya menatap langit-langit.
Apa yang tengah difikirkannya. Kenapa ada nada putus asa dari nada suaranya. Nayla kembali melirik Rendi. Menelusuri wajah tampan di hadapannya ini.
Ya Allah, maha sempurna kau ciptakan laki-laki di hadapanku ini. Ibarat pahatan nyata dewa-dewa yang dilukiskan indah dalam mitoligi yunani.
Nayla menyusuri dengan nafsu, mulai dari hidung bangirnya, alis tebalnya, bibirnya yang sexy itu. Kumis tipis dan jambangnya itu membuat bang Rendi makin terlihat macho saja. Rahang keras milik bang Renlah yang paling disukai Nayla. Rahang itu membuat Rendi terlihat sangat laki-laki di mata Nayla. Aku bisa sakit jantung, jika di suguhi wajah abang setiap hari, gumam Nayla deg-deg an.
Tiba-tiba saja Rendi kembali duduk seperti biasa. Menatap Nayla yang saat itu juga tengah menatapnya lekat. Nayla memutus pandangan mereka, mengalihkan matanya kembali kepada berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya, menundukkan kepalanya dalam. Sementara Rendi yang sama terkejutnya berusaha menyembunyikan senyumnya melihat kegugupan Nayla.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
UwU bang Rendi🤩😍 Author juga padamu bang😁🤭
Mohon maaf karena kesibukan Author
Baru update kembali🙏🏻✌
Jangan lupa Vote & Likenya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah cinta dalam diamnya Rania mengejar sang ustad🙏🏻
Kisahnya nggak kalah serunya sama kisah Nayna & Nayla👌🙏🏻
__ADS_1
Vote & Like juga yahh reader tercintahhh✌
Author kasih double kiss deh😗😙😚