Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Hari-Hari Indahku


__ADS_3

Setelah melewati berbagai drama dan air mata. Akhirnya Nayna juga bisa merasakan apa itu kebahagian. Apa itu indahnya cinta. Hatiku benar-benar bahagia. Ada Rey dan cintanya yang tidak akan pergi. Kami akan berjuang berdua melewati apapun kesulitannya. Rey pasti akan sembuh dengan terapi rutin yang di ikutinya. Walaupun sejujurnya separuh hatiku merasa ngilu. Aku sangat takut kalau kebahagian ini hanyalah sementara, rasa bahagia ini hanya semu.


Bagaimanapun, aku juga sempat trauma saat bersama Rendi dulu. Saat sedang bahagia-bahagianya merajut cinta. Saat harapan dilambung angan untuk bersatu dalam bahtera pernikahan, janji untuk memulai awal berdua. Tiba-tiba saja kandas, tanpa angin tanpa hujan, badai yang menghampiri. Menggulung kepercayaan atas nama cinta dengan sebuah penghianatan. Dan yang lebih menyakitkan, penghianat cinta itulah yang kemudian bertahta mengalahkan hubungan indah yang selama ini telah terjalin. Bukan satu kali, cinta laki-laki itu bahkan menghancurkannya sekali lagi.


Nayna menghembuskan nafas gusar. Ya Allah, semoga ini cinta terakhirku. Apakah belum cukup kau mengujiku selama ini. Mencoba rasa sabar dalam hatiku, menguji diri atas semua peristiwa. Aku takut ya Allah, kalau kali ini aku akan kalah, tidak lagi sanggup bertahan, kalau kaupun mengambil rasa yang sudah mulai tercipta, batin Nayna sedih.


Saat Nay kembali makin tenggelam dalam fikirannya, tiba-tiba handponenya berdering mengejutkannya, serta merta mengembalikan kedasarannya.


Dilihatnya nama Winda tertera di kontak, Naypun segera mememcet gambar terima di handponenya.


""Assalamualaikum," sapa Nay ramah sudah mengembalikan mode standart hatinya.


"Waalaikusalam," balas suara di seberang dengan tidak bersemangat.


"Heiii.....ada apa Windaku sayang, kenapa kelihatan malas begitu," tanya Nayna dengan cerianya.


"Nay lagi mana?" Winda tidak membalas


"Di kantor Win,"

__ADS_1


"Ada waktu nggak, aku ke sana yah," tanya Winda


Nay melirik jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi juga waktu makan siang. Makan siang dengan sahabatnya itu tentu menyenangkan, batin Nay.


"Untuk kamu selalu ada waktu sayangku," balas Nay dengan tersenyum.


"Tapi ada apa nih? Mau curhat kayaknya," selidik Nay lagi.


Dan lagi-lagi tidak ada jawaban di seberang telpon. Winda malas menjelaskan, dia akan langsung saja curhat dengan sobibnya itu nanti.


"Aku meluncur ke sana ya Nay," ucap Winda


"Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam," putus Nayna.


Winda sudah membereskan berkas-berkas di mejanya sebelum dia menelpon Nayna tadi. Dengan tidak semangat Winda mengambil tasnya keluar menuju mobilnya.


"Rin, kalau ada yang penting, telp aja ya."

__ADS_1


"Oke mbak Win. Mbak sekalian makan siang ya," tanya sekretarisnya.


Winda melirik jamnya sekilas, benar saja sebentar lagi jam makan siang. Lalu Winda menganggukkan kepalanya dan pergi.


Karena jam-jam sibuk waktunya makan siang, otomatis jalanan padat merayap. Hampir setengah jam lebih Winda baru tiba di kantor Nay.


"Heii......masuk aja," sapa Nayna begitu Winda baru saja berada di depan pintu ruangangannya. Nay sengaja tidak menutup pintu ruangannya karena dia memang menunggu Winda.


Winda melangkah masuk sambil menutup pintu. Kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan Nayna.


"Kusut amat neng," sindir Nayna memamdang wajah kusut sahabatnya itu.


Winda cuma mendengus kesal sambil tambah mengerucutkan bibirnya.


"Udah deh, ayok. Ngobrolnya di sini, atau sambil makan siang," tanya Nay terus terang.


"Tapi aku juga baru aja nyampe Nay," Winda tampak enggan.


"Nggak jauh kok Win.Restoran belakang kantorku aja, lagian tempatnya juga nyaman, lesehan gitu," jelas Nayna yang membuat Winda setuju dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Naek mobilmu aja Nay. Gue lagi males nyetir, ke sini aja kepaksa karena nggak ada yang bisa nganterin," keluh Winda lagi. Kemudian mengikuti saja langkah kaki Nayna.


__ADS_2