
Nayna gugup. Sangat gugup. Baru minggu lalu Nay berbicara jujur panjang lebar dengan bang Rendi. Dan hari ini, tepat di minggu selanjutnya, berganti Rizki yang mengajaknya berbicara serius. Nayna sebenarnya ingin menghindar saja, tapi Rizki sudah terlanjur datang dan memergokinya sedang berada di rumah. Nay terpaksa menyetuju ajakannya untuk berbicara. Mereka berdua, Nay dan Rizki menuju taman samping rumah Nayna. Tempat yang dirasa paling tenang dan nyaman untuk berbicara.
"Please, jangan menghindari abang seperti ini Nay," ucap Rizki memegang tangan Nayna.
Nayna tertunduk. Entah bagaimana perasaannya Nay kini. Entah apa pula yg sedang difikirkan otaknya saat ini.
"Nay.....," ucap Rizki kembali.
"Nay nggak menghindar bang. Bukankah bang Ki sendiri yang telah memilihkan jalan yang harus Nay tempuh. Bang Ki yang memutuskan pertunangan kita. Dan bang Ki juga yang mendorong Nay untuk bersama orang lain," potong Nayna ketus, melepaskan tangannya yang digenggam Rizki.
Rizki terdiam. Semua sudah terlanjur menjadi bubur. Dan sepertinya Nay terlanjur terluka dengan keputusannya.
"Abang minta maaf Nay. Abang tahu abang salah. Tapi jangan menghindari abang lagi. Tolong mau bicara dan dengarkan penjelasan abang dahulu," pinta Rizki.
"Penjelasan.....penjelasan apa lagi bang. Bagi Nay semua sudah sangat jelas. Buat apa lagi bang. Nay terima saat abang memutuskan pertunangan kita. Nay tidak berniat mencegah apalagi memohon pada abang. Bukankah sejak keputusan itu abang buat, Nay menerima saja semuanya," bantah Nayna.
"Bukan saja sejak keputusan yang abang buat. Sejak abang kecelakaan, bukankah Nay juga menerima semua perlakuan yang abang lakukan pada Nay. Bahkan saat terakhir kali kita bertemu, saat berada di acara keluarga dokter Melia. Nay juga bisa menerima, kalau akhirnya abang memutuskan pertunangan kita, demi memilih dekat dengan wanita itu. Lalu abang mau Nay mesti bersikap bagaimana lagi," ujar Nayna kembali berapi-api.
Nayna sudah menahan semua perasaannya. Menelan sendiri rasa perih dalam hatinya. Saat Rizki memutuskan pertunangan mereka, dengan berdalih memberikan keadilan bagi Nayna agar bisa bersama laki-laki lain, karena Rizkipun sedang dekat dengan wanita lain. Nay memilih menerimanya saja, meski hatinya begitu terluka. Terasa sakit, sesakit diiris sembilu. Dilepaskan oleh seseorang yang kita cintai, seperti barang bekas yang dibuang karena tidak berharga lagi. Atau sekedar remahan yang dipandang hina.
"Sekali lagi abang minta maaf Nay....," ucap Rizki tulus.
"Nggak ada yang perlu di maafin bang.....," tolak Nayna.
"Beri abang kesempatan memperbaiki semuanya," ujar Rizki kembali.
"Untuk apa bang. Toh ini yang bang Ki inginkan. Bukannya sejak kecelakaan itu, abang memang tidak ingin Nay ada di hidup abang. Sekarang abang bisa dengan tenang untuk bisa bersama dokter Melia. Nay sudah memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya bang," tangkis Nayma kemudian.
Rizki terdiam. Kesalahannya ternyata membekas dalam di hati gadis ini.
"Tidak adil jika Nay bisa memberi kesempatan untuk mantan Nay itu. Sedangkan abang tidak diberi kesempatan sedikitpun," ujar Rizki kemudian setelah menarik nafas dalam.
__ADS_1
Rizki terpaksa mengatakannya. Ini jalan terakhir ketimbang Nay terus saja membantah dan mendebat semua perkataannya.
"Jangan membawa orang lain dalam persoalan kita bang," ujar Nayna mulai tersulut emosi.
"Abang terpaksa Nay. Agar Nay juga bisa adil dengan memberi abang kesempatan," balas Rizki.
Mendengar kata adil, dada Nayna jadi semakin bergemuruh. Emosinya makin tersulut.
"Adil. Bang Ki selalu memakai kata ini sepertinya. Saat abang memutuskan pertunangan kitapun. Adil menjadi alasan abang. Abang melepaskan Nay agar abang memberi Nay keadilan bisa dekat bersama laki-laki lain, seperti halnya abang yang dekat dengan wanita lain," jawab Nay sinis.
"Itu kesalahan abang Nay. Tapi apa laki-laki masa lalumu itu juga bersih tanpa kesalahan. Nay bisa memaafkan bahkan melupakan kesalahan yang diperbuatnya. Tapi kenapa tidak bersikap yang sama pada abang," Rizki kembali menekan Nayna.
"Ini berbeda bang......," elak Nayna.
"Apanya yang berbeda Nay. Kalau Nay punya maaf untuk semua kesalahannya. Lalu kenapa tidak ada sedikitpun kesempatan untuk abang. Beri abang satu kali kesempatan saja, " balas Rizki kembali.
"Abang bukan minta di maafkan Nay. Abang hanya ingin diberi kesempatan saja. Kesempatan untuk abang membuktikan kalau abang mrnyesali semua kesalahan yang pernah abang lakukan sebelumnya. Perkara Nay mau memaafkan abang atau tidak, itu terserah Nay nantinya," ujar Rizki lagi melembut.
"Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi. Abang tidak akan kehilangan ingatan abang. Abang tidak mungkin melupakan Nay di memori abang. Kecelakaan itu membuat abang tidak mengingat Nay, membuat abang tidak mengingat hubungan kita. Yang abang lakukan itu benar-benar diluar kendali abang Nay....," jelas Rizki kembali.
Nay makin tergugu. Menyadari bahwa memang semua bukan sepenuhnya kesalahan Rizki. Kecelakaan itulah yang akhirnya mengubah semuanya.
"Tolong bantu abang Nay....," Rizki kembali memohon.
Ditatapnya lekat netra Nayna. Netra indah berbulu mata lentik itu terlihat mengerjab indah di mata Rizki. Wajah cantik berlesung pipi milik Nayna membingkai manis di mata Rizki. Hatinyapun seakan menghangat, walau sekedar hanya menatap wajah yang terkasih.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hii🖐🖐
Views Tercintahh🤩😍
__ADS_1
Rizki hanya minta diberi satu kesempatan saja🙏🏻✌
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
__ADS_1