Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Pelaminan Biru


__ADS_3

Entah karena Reyhan dan Karin memang sama-sama mabuk waktu itu. Atau semuanya memang sebuah jebakan yang memang sudah Karin rencanakan sebelumnya. Akhirnya Reyhan harus berada di sini, mempertanggung jawabkan perbuatannya. Setelah Karin, gadis itu hendak bunuh diri, memotong nadinya sendiri, saat mengetahui dirinya hamil.


Entah sadar atau tidak, mau ataupun tidak mau, cinta ataupun tidak cinta, terpaksa ataupun tidak, semuanya menjadi tidak penting lagi bagi Reyhan.


Ada nyawa seorang anak manusia di perut Karin. Ada calon seorang anak yang tidak bersalah di perut gadid itu. Dan anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Cukuplah Reyhan dan Karin yang sudah melakukan dosa besar di benci Allah, dia tidak ingin menambah dosa lagi dengan dengan tidak menerima janin itu. Dengan sangat berat Reyhan mengakhiri semuanya. Menutup kisah cinta sejatinya pada Nayna. Dia akan selalu mencintai Nayna, di sini, di sudut hati ini namanya akan selalu terukir di hati. Tapi mencintainya kini hanya dengan cara melepaskannya, menitipkan Nayna pada laki-laki yamg juga mencintainya. Reyhan selalu berharap Naynanya akan selalu berbahagia.


Reyhan dan Rendi POV


"Ada apa, tumben mengajak gue kertemu?" tanya Rendi ketus setelah dia duduk berhadapan dengan Reyhan.


"Baik, gue to do point aja. Gueingin membicarakan soal gue dan Nay," jawab Reyhan.


"Gue sama sekali nggak tertarik kalo lo mau meminta pendapat gue tentang rencana pernikahan kalian," balas Rendi lagi tidak kalah ketus, kemudian sudah berdiri dan berniat pergi.


"Tunggu. Ini bukan tentang rencana pernikahan kami," balas Rey cepat.


Rendi terdiam mendengar penjelasan Reyhan, kemudian meletakkan bokongnya kembali ke kursi.

__ADS_1


"Okey. To do point aja, apa yang ingin lo bicarain," tanya Rendi setelah kembali duduk.


Rey menghela nafas panjang, kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Gue mau nitipin Nayna. Tolong gantiin gue menjaga Nay. Jaga dia seumur hidup lo. Jangan sekalipun menyakitinya. Buatlah Nay selaku berbahagia," jawab Rey jelas.


Kening Rendi berkerut, alisnyapun bertaut.


"Maksud lo......," tanya Rendi bingung.


Reyhanpun menceritakan semuanya pada Rendi.


"Berjanjilah untuk lebih menahan nafsu lo. Jangan ulangi kesalahan yang sama kembali. Gue pamit bro. Ini gue titip undangan gue sekalian. Assalamammualaikum," Rey sudah beranjak pergi meninggalkan Reyhan


"Walaikusalam,"


Rey masih duduk di tempatnya. Menenangkan otak dan fikirannya yang belum sepenuhnya mencerna semua perbincangannya dengan Reyhan barusan.

__ADS_1


Bunda dan kedua adik Nayna sudah naik ke atas panggung hendak bersalaman.


"Selamat menempuh hidup baru Rey," ucap bunda mendekati Reyhan.


"Maafkan Rey bunda. Rey menyakiti Nay dan mengecewakan bunda," ucap Rey sendu.


"Semua sudah jalannya. Tiap orang itu cuma menjalani takdirnya masing-masing. Bunda kenal kamu, kamu laki-laki yang baik. Semoga selalu bahagia bersama keluargamu nanti," bunda menepuk bahu Rey.


Rey memeluk bunda, mengucapkan terimakasih sudah bersedia datang. Walaupun dia sendiri belum tahu dan bahkan belum yakin bagaimana biduk rumah tangganya bersama Karin nanti. Rey tetap berterimakasih untuk semua doa dan harapan baik yang telah diberikan untuk dirinya maupun Karin.


"Maaf Nay tidak bisa datang, tapi dia menitipkan salam dan mendoakan kebahagiaan kalian," ucap bunda, kemudian menyalami Karin, istri Rey.


"Selamat ya nak. Bunda mendoakan kebahagian keluarga kecil kalian. Jaga yang di perut ini," ucap bunda tulus membelai perut Karin.


"Terimakasih...bu...bunda," jawab Karin dengan terbata.


Karin menatap lembut bunda Nayna. Wajahnya begitu lembut dan keibuan.

__ADS_1


Pantas saja Nayna itu begitu cantik dan lembut, pantas saja Rey begitu mencintai Nayna. Semuanya menurut dari bundanya, sama persis, batin Karin.


__ADS_2