
"Nay sayang, istirahat ya nak," pinta bunda begitu sedih melihat kondisi putri tercintanya.
Nay memejamkan matanya. Tubuhnya begitu lemah, kepalanyapun masih terasa pusing. Sekedar membuka mata, tersenyum dan menganggukkan kepalapun rasanya begitu berat bagi Nayna. Apalagi obat dari dokter barusan yang memeriksa Nayna sepertinya mulai bekerja. Nayna merasakan amat mengantuk.
Bunda kembali mengusap kepala Nayna. Memandang wajah pucat milik Nayna. Memperhatikan tubuhnya yang semakin kurus saja. Sudah satu minggu ini Nayna bolak balik Rumah Sakit. Bahkan sampai tidak memperhatikan kesehatannya sendiri. Bunda menyelimuti putrinya itu sambil menitikkan air mata.
"Mbak Nay udah tidur bun," tanya Nayla, putri keduanya itu.
"Iya Ay. Sepertinya obat dari dokter barusan mengandung obat tidur," sahut bunda lembut.
"Biarkan mbakmu beristirahat Ay....," ucap bunda lagi, kini sudah duduk di samping tempat tidur Nayna.
"Kenapa selalu saja ada yang mencegahmu untuk bisa bahagia sayang," keluh bunda memandangi kembali Nayna yang sudah lelap tertidur.
Bunda sudah tidak dapat lagi membentung air matanya. Bunda adalah satu-satunya sosok yang selalu berada di samping Nayna. Yang selalu berada di belakang putrinya itu dalam keadaan apapun. Bahkan dulu bunda sampai membujuk ayah Nayna untuk menjual rumah lama mereka, demi mengikuti keinginan putrinya menyembuhkan luka hatinya itu.
"Bunda, sudah jangan kayak gitu. Kalau bunda sedih, kasihan mbak Nay, sama siapa dia nanti akan mengadu," bujuk Nayla sudah duduk di samping bundanya.
Walaupun mata Naylapun sudah memerah sedari tadi, tapi dia berusaha menguatkan hatinya, membujuk sang bunda, dengan mengusap usap punggungnya.
"Kasihan mbakmu Ay. Baru saja dia mau merasakan kebahagian, kenapa Allah kembali menguji hatinya," ucap bunda terisak.
"Padahal satu bulan lagi Nay akan lamaran dan menikah. Kini laki-laki yang hendak menikahinya malah terbaring tidak sadar di Rumah Sakit. Kenapa Allah mengujinya begini berat," bunda kembali mengeluh.
"Bun, jangan menyalahkan Allah seperti itu," cegah Nayla yang sudah ikut terisak juga.
"Astagfirullah.......," bunda beristighfar.
__ADS_1
"Semoga Nay selalu sabar ya nak. Melewati semua ujian ini. Bunda tidak dapat berbuat apa-apa selain berharap suatu saat nanti, Nay akan merasakan kebahagian," ucap bunda penuh harap.
"Bunda......," Nayla sudah memeluk bundanya.
Berdua saling memeluk dalam tangis. Nayla sangat tahu bagaimana mbak tersayangnya itu sudah melalui semuanya. Bagaimana sakitnya di khianati bang Rendi. Bahkan sempat mengalami peristiwa hampir diperkosa. Bang Rendi, cowok pertama mbak Naypun hampir melakukan hal yang sama. Hingga sosok mas Rey, yang begitu mencintai mbak Nay hadir kembali. Mbak Nay berusaha mengubur semuanya, belajar mencintai. Tapi saat sudah mampu membuka hati dan mulai mencintai. Hati mbak Nay kembali terluka. Pernikahan yang sudah direncanakan harus berakhir oleh takdir. Mas Rey menghamili wanita lain. Bayangan-bayangan buruk itu berkelebat begitu saja, seolah roll film yang memutar ceritanya di kepala Nayla.
Nayla masih berpelukan berdua bunda. Di tatapnya lagi wajah Nayna. Ini kali keduanya mbak Nayna berencana menikah. Bahkan satu bulan lagi acara lamaran, disusul pernikahan. Dan semua rencana indahnya, semua kebahagiaannya kembali terancam gagal. Nayla tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Nayna, berulang kali hatinya merasakan sakit, cintanya seakan terus-terusan di uji. Wajarlah jika mbak Nay menjadi selemah ini, fisiknya saja sudah tidak mampu menanggung semua beban ini. Lalu bagaimana mentalnya, bagaimana hati mbak Nay, mampukah dia kembali bertahan lagi, Nayla lagi-lagi berbicara sendiri.
"Ayo bun, kembali ke kamar bunda. Istirahat, nanti saat mbak terbangun, kita kembali ke kamarnya," ajak Nayla.
"Tapi Ay.......," bunda berasa berat meninggalkan Nayna sendiri.
"Mbak Nay juga tidur bun. Mungkin besok pagi baru terbangun. Lebih baik bunda beristirahat juga, agar besok tubuh kita kembali fit, sehingga bisa mengurus mbak Nay yang lagi sakit," Nayla masih membujuk.
"Baiklah Ay, bunda akan beristirahat dan kembali ke kamar," ucap bunda akhirnya menurut.
"Bagaimana keadaannya," tanya ayah.
"Nay sudah tidur. Biarkan dia beristirahat," jawab bunda.
"Ya sudah, biar ayah ajak bunda juga beriatirahat. Kamu jaga mbakmu Ay....," pinta ayah pada Nayla.
"Baik ayah," jawab Nayla sendu.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
__ADS_1
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
__ADS_1
Coment💬