Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Sakitnya Pengkhianatan


__ADS_3

Rizki melajukan mobilnya dengan sangat ngebut. Dia membelah jalan ibu kota menuju ke arah pantai. Pantai ini selalu di datangi Rizki saat hatinya tengah gundah. Tapi kini hatinya bukan lagi gundah. Rizki merasakan sakit yang teramat sakit, dua orang sekaligus telah mengkhianati kepercayannya.


Aaaacchhhhhh.......teriak Rizki kencang, akhirnya dia menangis juga. Satu hal yang tidak pernah dilakukan Rizki sedari dulu. Rizki selalu berprinsip bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Laki-laki itu harus kuat, dan tidak boleh mengeluarkan air mata. Seberat apapun beban dan masalah yang dihadapi, tetap saja laki-laki tidak boleh menangis. Tapi kali ini, Rizki seolah tidak perduli, rasa perih itu seperti mengoyak hatinya. Perasaan sakit yang rasanya menggunung di dadanya itu tidak lagi bisa di tahanhya. Rizki mengeluarkan air mata, walaupun tanpa suara. Dibiarkannya saja air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit itu benar-benar mirip belati, menghujam tepat ke ulu hati.


Begitu lama Rizki duduk terdiam di pinggir pantai. Mataharipun sudah mulai terbenam di ufuk timur, tapi Rizki masih setia di sana. Pandangannya jauh mentap ke ujung pulau, menerawang setiap ingatan dan memori yang pernah tercipta. Air matanyapun sudah mengering sendiri di pipi.


Rey bangkit, masuk ke dalam mobilnya, melajukannya ke arah hotel terdekat di pinggir pantai. Sebelumnya dia mampiŕ ke kios-kios pakaian yang tertata rapi si sepanjang pantai bersejajaran dengan aneka kios kuliner dan oleh-oleh. Setelah membeli beberapa potong pakaian, celana juga underwear, Rizki kembali melajukan kendaraannya mencari hotel terdekat.


Setelah mendapatkan check in dan sengaja memesan suite room hotel tersebut, Rizki diantar seorang bell boy menuju kamar yang sudah dipesannya.


Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan sedikit tips, Rizki menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Bukan hanya tubuhnya yang sangat lelah, hatinyapun jadi bertàmbah lelah. Rizki tertidur tanpa mandi dan membersihkan dirinya lagi.


Sudah tiga hari Rizki di menginap di hotel tersebut. Dia hanya duduk melamun di pinggir pantai hingga sore hari, lalu kembali ke kamar hotelnya. Wajahnya sudah seperti sosok Zombie dalam film. Hidup tapi seperti tidak bernyawa. Tapi untunglah Rizki tidak lagi meminum minuman-minuman keras dalam kaleng iru, seperti hari pertamanya menginjakkan kaki di hotel ini. Rey tidak ingin menyakiti tubuhnya lagi, sudah cukup hatinya saja yang terluka. Tidak ada kegiatan yang dilakukannya, Rizki hanya terdiam tanpa suara. Sosoknya yang biasanya ramah dan bersahabat, berubah jadi pendiam dan dingin. Saat para gadis yang kadang berpapasan dengannya di lobi hotel, yang berusaha menari-nari menarik perhatiannyapun mendapatkan sikapnya yang acuh tak acuh. Bahkan selama tiga hari ini Rizkipun mematikan handponenya. Dia tahu mommy dan keluarganya pasti sangat khawatir tidak mengetahui dimana keberadaannya. Rizki sebenarnya tidak ingin membuat keluarga terutama mommynya itu menjadi khawatir. Tapi perasaan Rey sungguh masih tidak enak, hati dan fikirannya seakan tidak mau berfikir dan perduli. Kalau tahu cinta bisa membuatnya seterpuruk ini, Rizki lebih memilih untuk tidak jatuh cinta. Kalau nyatanya pengkhiatan rasanya lebih sakit dari di tusuk belati, lebih baik Rizki memilih untuk tidak mengenal mereka berdua. Rizki benar-benar terpuruk. Seorang dokter ganteng, keren, tajir dan terpandang, ternyata juga mengalami hal yang sama sekali tidak pernah diduganya, semua karena cinta.

__ADS_1


Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"


Mohon Dukungannya


👇


Vote


Like 👍


Favorit ❤


Coment 💬

__ADS_1


☆ Mengejar Cinta Ustad


☆ Cinta 90


Mohon juga Dukungan


👇


Vote


Like 👍


Favorit ❤

__ADS_1


Coment 💬


__ADS_2