
Tidak dapat dipungkiri. Seorang Rizki Rahman adalah laki-laki idaman setiap wanita. Bagaimana tidak, selain berfrofesi sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama, Rizki juga sangat tampan. Ketampanan paripurna yang mirip seorang aktor film. Tidak bakal ada seorang wanitapun yang tidak terpesona oleh pesonanya seorang dr. Rizki Rahman.
Bahkan di seantero rumah sakit, namanya sudah sangat terkenal. Dari dokter senior, dokter junior, para perawat, staf administrasi hingga office girl tidak ada yang tidak mengenal dr. Rizki Rahman. Rasanya namanya tidak kalah bersaing dengan para selebritis yang terkenal itu.
Tapi sayangnya dr Rizki Rahman itu bukan hanya dingin, dia bahkan lebih beku dari es balok. Iya es balok, coba bayangkan sendiri. Belum ada seorangpun yang bisa membuat wajah dinginnya itu sedikit mencair. Yah....sedikit saja biar tidak terlalu dingin. Kalau berharap dia tersenyum, sungguh sangat mustahil, ibarat menunggu angin surga. Apalagi sampai bisa membuatnya tertawa, rasanya itu harus menunggu matahari terbalik dan terbit dari timur.
Dan yang paling tidak masuk akal itu, dr Rizki Rahman adalah seorang dokter anak. Sudah di duga, pasti semua mengira anak-anak akan menangis bila berobat pada dokter dingin itu, yang tidak pernah sekalipun berwajah manis. Hahahhahaa......tebakan kalian semua salah, dr Rizki Rahman adalah dokter terbaik di mata anak-anak. Dia selalu punya cara agar anak-anak tidak menangis saat bertemu dengan seorang dokter yang biasanya sangat ditakuti anak-anak. Yah, kalau ingin melihàt dr Rizki Rahman yang tampan tersenyum, silahkan ajak anak atau keponakan anda pergi berobat. Dijamin anak-anak akan sembuh dari sakitnya, tetapi ibunya atau tantenya anak-anak yang jantungan saat melihat si dokter tampan.
"Selamat siang dok," sapa dr Melia, seorang dokter di rumah sakit yang sama saat mereka berpapasan di dalam Lift.
__ADS_1
"Siang....," jawab dr Rizki jutek
""Dokter tidak ada praktek sore," tanya dokter spesialis kandungan itu lagi berbasa-basi.
"Kalau kàmu liat saya sudah di lift menuju parkiran. Berarti saya tidak ada praktek lagi dan hendak pulang," jawab dr Rizki lagi masih ketus.
Dokter Melia menelan ludah, terdiam tidak lagi berniat bertanya. Rasanya hanya penolakan demi penolakan dengan sikap ketus dan jutek yang selalu diterimanya, meskipun dia selalu bersikap baik dan ramah. Perhatian demi perhatian yang diberikannya selama ini terasa hanya sia-sia saja. Dr Rizki sama sekali tidak ada respons baik, laki-laki dingin itu masih tetap membeku saja. Dr Melia bergegas pamit dan permisi ketika pintu lift terbuka belum sampai berhenti menuju parkiran mobil. Dia tidak lagi berniat untuk lebih lama berada dalam satu lift dengan dr Rizki.
"Siiaannnggg dr Rizki........," jawab para wanita cantik berseragam putih itu.
__ADS_1
Dr Rizki mengangkat alisnya memandangi wanita-wanita di hadapannya ini.
"Ada apa ini....," tanyanya ketus.
Seorang dokter menyerahkan setangkai bunga mawar merah, lalu ada yang memberikannya coklat, kemudian ada lagi yang memberikannya boneka berbentuk cinta.....
"Udah.....udah, ini bawak balik lagi.....saya tidak membutuhkannya," ujar dr Rizki.
"Ini memang bukan yang pak dokter butuhin.Tapi yang hati kami inginkan dok," ucap salah satu wanita berseragam putih, disambung jawaban histeris yang lainnya.
__ADS_1
"Dan saya tidak mau menerimanya. Minggir semua, jangan menghalangi mobil saya," dr Rizki mengusir wanita-wanita berseragam putih yang berjajar di depan pintu mobilnya, dia sudah habis kesabaran sedari tadi.
Cepat-cepat dr Rizki masuk ke dalam mobilnya saat para wanita bergeser memberinya jalan, dan melajukan mobilnya cepat menghindari mereka semua. Cepat-cepat dilajukannya mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit. Sementara para cewek berseragam putih tampak kecewa memegang benda yang di bawanya untuk dr Rizki tadi masing-masing. Sambil mengemudi, otaknya masih tidak habis berfikir, melihat wanita-wanita yang bertingkah sangat agresif. Mereka tidak tahu bakwa Dr Rizki paling anti cewek agresif.