
Nayna menatap Rendi. Dia berjalan ke meja Rendi dengan langkah ragu. Rendi berdiri dan mempersilahkan Nayna duduk.
"Terima kasih," ucap Nayna dengan terbata-bata
Rendipun menawarkan Nay untuk memesan minuman, sambil tidak puasnya menatap Nayna yang kini sudah duduk di hadapannya.
Manismu benar-benar seperti formalin, awet Nay. Padahal lima tahun lebih aku sejak memutuskan menikah, kau masih persisi sama seperti dulu, gumam Rendi.
"Kenapa mas Rendi memintaku bertemu di sini," tanya Nay tanpa basa-basi setelah cukup lama hening.
Rendi tampak terkejut dengan pertanyaan Nayna barusan
"Bukannya Nay yang whatsapp abang meminta bertemu," jelas Rendi lembut.
Kini gantian Nayna yang tampak kaget. Siapa yang telah menjebak mereka, bisik hati Nayna.
__ADS_1
"Ini pesan whatsapp yang abang terima masuk di handphone abang," Rendi menunjukkan ponselnya kepada Nayna karena tidak ingin dianggap pembohong.
Nayna mengambil handpone Rendi ingin membacanya lebih dekat. Tidak sengaja tangan mereka saling bersentuhan, lalu mereka berdua saling menatap untuk beberapa detik.
"Maaf," ujar Nay menarik tangannya. Dia membaca pesan whatsapp di hp Rendi dengan jantung yang sudah berirama. Rasa berdesir di hatinyà karena sentuhan Rendi barusan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi berfikir, siapa orang yang telah mempermainkan mereka. Dilihatnya Rendi telah menamai "Naynaku" nomor Nayna di kontak handponenya.
Sementara Rendipun merasakan hal yang sama. Sentuhan sesaat itu bukan hanya membuat hatinya yang sedari tadi sudah tidak karuan seakan mau meloncat keluar. Nafsu sedikit sudah memenuhi dirinya. Sentuhan yang sedikit itu berhasil membuatnya kesadarannya seakan melayang, dia menginginkan yang lebih. Nay, abang tidak pernah merasa seperti ini terhadap wanita manapun, keluhnya merintih.
Nay menunjukkan handphone. Ini pesan whatsapp yang Nay terima terima bang. Nay meletakkan saja handponenya di tengah meja. Rendi sadar, Nay tak ingin dia menyentuhnya. Diambilnya kemudian dibacanya pesan itu. Yang tertera di sana memanglu nomornya. Nay sama sekali tidak berniat menyimpan kontakku, bisik hati Rendi lagi. Lalu mengembalikan handponenya di hadapan Nay.
Tiba-tiba ingatannya melayang pada Karin. Yah, dia satu-satunya orang yang berpeluang melakukan ini, mengingat dia sangat tidak menyukaiku dekat dengan Rey, fikir Nay.
Nay ingat terakhir kali mereka bertemu. Kapan dia mengetik pesan itu dari handpineku, tanya Nay kembali.
Tapi apa tujuannya? Belum selesai Nay mengurutkan berbagai peristiwa dan menjawab sekian banyak pertanyaan hatinya, Rendi sudah berucap.
__ADS_1
"Abang tidak perduli siapa yang melakukan ini. Sejujurnya abang berterima kasih, dia telah membuat abang bisa bertemu Nay kembali, setelah hampir gila rasànya abang berusaha mencarimu," keluh Rendi.
Nayna terdiam. Dalam hati diapun menyetujui ucapan Rendi, hatinya seketika berbunga. Tapi Nay berusaha menepis jauh rasa bahagia itu.
"Tapi tidak mungkin orang itu hanya ingin mempertemukan kita begini saja bang. Nay yakin pasti ada tujuan lain, Nay curiga.
Nayna benar. Tanpa dia berkatapun, Rendi sudah tahu. Karena di seorang anggota kepolisian, hal-hal seperti ini bukan makanan baru baginya. Tapi kembali lagi, Rendi tidak perduli, apapun itu. Yang dia tahu, cukuplah rasa bahagia bertemu gadis yang di cintainya.
"Nay, bisakah kita memulainya kembali dari awal," tanya Rendi tidak terdengar, hampir seperti bisikan.
Nayna terdiam, matanya menatap kembali laki-laki yang ada di hadapannya ini.
"Maafin Nay bang," ucap Nay masih mengingat rasa sakit yang menggoresnya.
Rendi menatap Nay lekat, wajahnya tampak sendu, luka itu pasti belum sembuh, dia menggores luka yang sama, di hati itu kembali, walaupun atas nama cinta, gumam Rendi.
__ADS_1