
Nayna sengaja pulang kantor lebih cepat. Hari ini dia berencana akan langsung menemui Rizki di Rumah Sakit. Nayna sudah tidak sabar lagi, rona bahagia seakan membuncah di dada, saat akhirnya kesadaran sang kekasih sudah kembali. Ingatan Rizki akan dirinya, akan cinta mereka, akan rencana indah yang pernah tercipta, membuat Rania merasakan perasaan yang begitu indah di dada.
Tapi ternyata kenyataan kadang tak selalu seindah angan. Kenyataan selalu saja seakan berbanding terbalik. Baru saja Nayna membuka pintu kamar perawatan Rizki, baru saja Nay hendak masuk melangkahkan kakinya. Pemandangan yang dilihatnya kembali membuat hatinya kembali gundah. Nay terdiam di depan pintu, saat dilihatnya, di sana, di atas tempat tidur, Rizki sedang tertawa bahagia, ada dokter Melìa di sana, berdiri di sisi tempat tidur Rizki.
Apakah ingatanmu yang kembali tidak merubah perasaanmu pada dokter cantik itu. Apakah sembuhnya amnesiamu tidak berlaku untuk wanita itu, bisik kelu hati Nayna.
Nayna baru saja hendak memutar tubuhnya menuju pintu keluar.
"Nay sayang.....," panggilan Rizki menghentikan langkah Nayna.
Nay menarik nafas dalam, menguatkan hatinya, berusaha untuk tidak terlihat bersedih.
Nay memutar kembali tubuhnya, memasang senyum semanis mungkin yang bisa dia tunjukkan pada keduanya.
"Mau ke mana, baru nyampe udah muter badan kembali," tanya Rizki pada Nayna.
Rizki dan Melia, keduanya menoleh menatap Nayna.
"Ada yang tertinggal di mobil, tapi nanti ajalah ngambilnya bang," jawab Nayna sekenanya.
Nayna berjalan mendekat ke arah Rizki, kenapa tatapan dokter ini seolah hendak mengulitinya hidup-hidup, batin Nayna kembali.
Belum sampai langkah Nayna di samping tempat tidur Rizki, dokter Melia sudah berpindah di hadapan Nayna, seakan mencegah langkahnya untuk mendekat ke sisi Rizki.
"Maaf saya akan memeriksa dokter Rizki sekarang," ujar Melia menatap Rizki.
Dokter itu kemudian melakukan semua prosedur pemeriksaan yang harus dilakukannya pada Rizki.
Nayna masih berdiri di tempatnya. Tidak jauh dari sisi tempat tidur Rizki, tapi dibatasi jarak oleh dokter wanita ini. Nayna masih menatapnya saja tanpa bergeming. Nay fikir, ingatan Rizki yang telah kembali ternyata belum mengembalikan keadaan seperti sedia kala.
"Semua normal dan dalam kondisi baik. Kemungkinan besar dokter Rizki sudah bisa keluar dari Rumah Sakit sore ini," ujar Melia pada Rizki.
"Benarkah dokter? Syukurlah....saya benar-benar sudah tidak betah berlama-lama terus berada di tempat tidur. Terimakasih dok," jawab Rizki tersenyum sumringah.
Senyuman yang membuat dokter Melia tidak dapat mengalihkan pandangannya sama sekali. Senyuman tertampan yang bisa dilihat dokter Melia selama ini.
__ADS_1
"Apa saya boleh ikut mengantarkan dokter Rizki kembali ke rumah?" tanya dokter Melia tanpa ragu dan perasaan malu.
"Apakah dokter tidak ada praktek?" tanya Rizki yang membuat senyuman terbit di ujung bibir dokter Melia.
"Kebetulan saya hari ini praktek pagi, sore sudah tidak ada praktek lagi. Jadi saya bisa sekalian mengurus kepulangan dokter nanti," jawab Melia begitu percaya diri.
Nayna hanya menatap interaksi yang terjadi diantara keduanya. Hatinyapun mulai meredup kembali.
"Terima kasih dokter Melia. Tapi saya rasa tidak perlu. Tunangan saya sudah ada di sini, dia nanti yang akan mengurus semua persyaratan dan dokumen untuk kepulangan saya," jawab Rizki tersenyum manis menatap Melia.
"Oh iya maaf....saya melupakan tunangan anda dokter," jawab Melia lagi dengan perasaan tidak enak.
"Tapi saya boleh kan ikut mengantar sebagai teman dekat dokter selama ini," ucap Melia kembali dengan tanpa ragu.
Rizki kembali menatap dokter Melia dengan tersenyum.
"Saya mengucapkan terima kasih untuk bantuan dokter selama saya dirawat di Rumah Sakit ini," ujar Rizki pada dokter Melia.
"Sama-sama dokter. Itu sudah kewajiban saya sebagai seorang dokter yang dilimpahkan tanggung jawab langsung dari dokter Manuel," jawab dokter Melia lagi dengan rasa bangga.
"Karena kondisi saya alhamdulillah sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Saya rasa, kewajiban dokter Melia sebagai seorang dokter juga sudah selesai," ujar Rizki menolak secara halus.
Mengapa sampai ingatan itu cepat kembali, jika tidak, aku masih bisa terus mendekati dokter Rizkì hingga akhirnya dia resmi menjadi milikku sendiri, diam-diam dokter Melia mengumpat dalam hati.
"Sayang, kenapa cuma berdiri di situ. Kemarilah, dokter Melia sepertinya sudah selesai melakukan pemeriksaan," usir halus secara Rizki.
Bagaimanapun Rizki tidak mau sampai menyakiti hati wanita ini langsung dengan berkata kasar. Kalau saja dia bisa kembali bersikap dingin seperti dulu, akan tidak sulit baginya membuat dokter Melia menjauh dan pergi.
Tapi mau bagaimana lagi. Gadis cantik kekasihnya inilah yang telah mencairkan es di hati Rizki. Membuat sosoknya yang dingin kembali menjadi hangat dan lembut. Naynalah yang harus bertanggung jawab sendiri atas perbuatannya.
"Kalau begitu saya permisi. Saya akan memeriksa pasien lain," pamit Melia karena sudah merasa tidak enak hati.
Rizki terkesan mengusirnya secara halus. Sebelum melangkah pergi, dokter Melia terlihat menatap Nayna dengan wajah tidak senangnya.
Tatapan yang hanya bisa diartikan oleh Nayna dan dokter Melia sendiri.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiii views tercintaaahh🤩😍
Selanjutnya kisah cinta akan banyak diwarnai kisah antara Nayna dan Rizki🤩😍😘
Tentu saja diselipi kisah cinta lain sebagai pemanis🤗✌
Ikuti terus up selanjutnya yah cintahh🙏🏻✌🤗😘
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
__ADS_1
Like 👍
Favo