
"Kita harus bicara Nay. Duduklah di sini sebentar. Kita luruskan semua masalah, agar hati kita juga merasa lebih baik," pinta Rendi tulus.
Walaupun Nay memutuskan tidak mau lagi berurusan apapun lagi dengan Rendi. Tapi apa yang dikatakan Rendi barusan ada benarnya. Mereka harus bicara, menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan hati mereka berdua.
Nay lalu mengganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Rendi.
"Maafin abang Nay. Abang benar-benar menyesal. Abang tidak ingin menjelaskan kenapa abang memilih menikahi wanita lain lima tahun yang lalu," ujar Rendi tidak ingin menyebut nama wanita lain di hadapan Nay.
"Abang rasa Nay juga sudah mengerti alasan abang," tanya Rendi.
Dan Nay kembali hanya menganggukkan kepalanya. Nay tahu Rendi melakukannya dengan terpaksa. Walaupun hatinya sakit karena semua berawal dari pengkhianatan Rendi atas cintanya, namun Nay sudah ikhlas menerimanya.
"Dan jujur, dari hati abang yang paling dalam, abang tulus meminta maaf atas keikhlafan yang pernah abang lakukan waktu itu. Perbuatan abang pasti menyakiti Nay," tambah Rendi lagi.
__ADS_1
Nayna menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya dengan kasar. Jujur Nay sakit, kalau tidak ada Winda dan bukan berada di kantor, mungkin semuanya jadi terlambat.
Nay mengenadahkan kepalanya menatap langit-langit, dia menahan keras agar air matanya tidak jatuh. Nay tidak akan terlihat cengeng dan lemah di hadapan Rendi.
Nay tahu Rendi bersalah, tapi dirinya juga ikut bersalah. Saat itu Nay juga ikut terhanyut. Dia menikmati semua sentuhan yang Rendi berikan, wajar saja kalau akhirnya Rendi semakin tergoda dan bernafsu. Rendi laki-laki normal, sambutan hangat Nay saat itu mengisyaratkan persetujuannya. Walaupun pada akhirnya Nayna sudah menyadarkan Rendi untuk tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Sudahlah bang. Nay sudah melupakan semuanya. Nay juga sudah memaafkan abang, agar Nay juga bisa memaafkan hati Nay sendiri," balas Nayna akhirnya.
"Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk abang Nay," Rendi kembali bertanya.
"Nay sudah cukup bahagia sekarang bang. Nay harap abang juga jangan berlarut-larut. Mari kita lupakan semua, cobalah membuka hati, membuka awal yang baru, walau bukan bersama Nay," jawab Nay akhirnya dengan berat.
"Mari kita jalani hidup kita masing-masing bang," ucap Nay lagi.
__ADS_1
Rendi menarik kedua tangan Nay. Nay mencoba melepasnya, tapi Rendi menggengganya dengan erat.
"Biarkan seperti ini Nay. Hanya tanganmu saja, biarkan menggenggamnya sebentar saja. Agar abang bisa menyakinkan hati, bahwa tidak ada harapan lagi untuk bisa menggenggam tangan ini," keluh Rendi sedih.
"Nayna....." tiba-tiba suara yang sangat dikenalnya itu sudah berdiri di depan pintu cafe. Memandang Nay dengan tatapan tajam. Wajahnya sudah diliputi amarah, entah apa yang difikirkannya.
Sontak Nay menatapnya dengan terkejut, lalu menghempaskan tangannya yang sedari tadi dipegang Rendi.
"Maaf bang, Nay harus pergi," pamitnya pada Rendi.
Rendi melihat saja Nayna, gadis yang di cintainya itu berlari mengejar laki-laki lain. Wajahnya penuh ketakutan akan kesalahpahaman yang bisa terjadi saat tadi Rendi memegang tangan Nay.
Rendi mengusap wajahnya dengan tangan, meremas rambutnya kacau. Wajahnya tampak menunjukkan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Laki-laki itu. Rendi mengenalnya, saat masih sering mengejar Naynya dulu. Laki-laki teman sekolahnya itu, pernah memproklamirkan bahwa Naynalah cinta pertamanya. Laki-laki yang begitu mencintai Nayna mesti hanya dianggap sebagai sahabat.
Kini pengorbanan laki-laki itu mendapat balasan. Cintanya pada Naynanya akhirnya terbalas. Dan itu semua karena kesalahanku sendiri, keluh Rendi kembali dalam hatinya. Dia màsih terdiam dan terpaku di sudut cafe itu.