Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Kenapa Dicintai juga Sakit


__ADS_3

Nayna tersenyum-senyum sendiri. Setelah sekian lama hatinya terpuruk. Hari ini dia mencoba menatanya kembali. Dia memutuskan memulai segalanya bersama Rey. Laki-laki itu lebih tulus mencintainya. Dia telah sabar begitu lama menantinya untuk membuka hati. Kesetiaan dan cintanya tidak layak lagi Nay ragukan.


Nay berjanji bertemu di perusahaan Rey hari ini. Dia telah membawa bekal untuk mengajaknya makan siang bersama. Nay mengemudikan mobilnya dengan santai menuju lokasi yang di tujunya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Nay bergegas masuk lift menuju ruangan bapak direktur.


Sampai lift tiba di ruangan Rey, Nayna melihat meja sekretarisnya kosong.


"Mungkin sedang makan siang atau ke toilet, aku akan langsung ke ruangan Rey aja," batin Nay


Begitu sampai di depan pintu, Nayna seperti mendengar isak tangis perempuan. Hati Nay mulai tidak tenang, fikirannya jadi kacau, bahkan Reypun sudah memalingkan cintanya dariku, keluhnya sedih.


Tapi Nay berusaha menguangatkan hatinya, dibukanya knop pintu pelan tanpa diketuknya terlebih dahulu.


Gubrakkk. Rantang makanan yang di bawanya sudah jatuh di lantai. Pandangannya nanar. Dia melihat gadis itu mencium Rey, tangan gadis itu melingkat di leher Rey.


Mendengar benda jatuh, keduanya kaget, sontak menoleh. Wanita itu, Karin, dia memandang Nay lekat. Ini wanita yang bertemu waktu ìtu, yang membuat Rey mengalihkan pandangan dariku, ujarnya mengeluh.


Rey nampak kaget. Nayna sudah berdiri di sana dengan tak kalah terkejutnya.

__ADS_1


"Nay......," Rey menyentak keras tangan Karin supaya melepaskannya.


"Ma....maaf...Aa...aku mengganggu kalian," ucap Nayna dengan terbata-bata.


Nay bergegas berlari meninggalkan ruangan Rey.


Saat matanya bertatapan dengan sekretaris Rey, Nay menundukkan pandangannya, dia tidak mau terlihat kacau di depan bawahan Rey itu.


Nay sudah mau masuk ketika Lift terbuka, tiba-tiba seseorang menarik lengannya, Nay menoleh.


"Lepaskan aku Rey.....," Nayna berusaha meronta hendak melepaskan tangan Rey dari lengannya.


Laki-laki itu tidak menggubrisnya, Rey malah menyeret tangan Nay menuju Lift satunya. Lift direktur yang hanya dìnaiki sendiri olehnya.


"Aku bawa mobil sendiri, aku mau balik Rey," Nay membuka pintu mobil.


Rey tidak kalah cepat dengan mengunci pintu mobilnya. Gadis itu masih saja berusaha membuka pintu mobil, walau dia tahu Rey sudah menguncinya.


"Buka Rey.....," teriak Nayna.

__ADS_1


"Tidak, kita harus bicara. Biar nanti kusuruh karyawanku mengantarkan mobilmu ke rumah,"


Lalu Rey mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Nay diam saja sepanjang perjalanan mereka. Dia mengatur nafasnya untuk membuat hatinya lebih tenang. Dia tidak mau emosi menguasai fikirannya.


Rey tiba di rumahnya yang memang tidak begitu jauh dari lokasi kantornya, lalu membuka pintu mobil.


"Ayo nay.....," gadis itu masih duduk di kursi mobil, tidak sedikitpun bergeming, lalu menoleh ke arah rumah yang mereka tuju.


"Ini rumahku. Aku janji setelah bicara aku akan mengantarkanmu pulang....," ujarnya lemah.


Nay menatap laki-laki di hadapannya ini. Sebenarnya Nay tidak ingin meragukannya, tapi....


Rey menarik tangan Nay, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Masuklah, tidak ada siapa-siapa di sini. Bibik sore baru datang, karena izin mengantarkan cucunya," jelas Rey mengenai asisten rumahnya.


Nay menghempaskan bokongnya di sofa, matanya berkeliling memandang kediaman Rey yang terkesan modern dan klasik.

__ADS_1


"Minumlah dulu...," ujarnya menawarkan Nay


Nayna menegak minumanya, isi gelas itu sudah habis setengahnya, dia memang sudah sangat haus.


__ADS_2