Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Penyesalan tinggal Penyesalan


__ADS_3

Bayu mengambil kunci mobilnya. Lalu membawa mobilnya ngebut menunju kantor Nayna. Dadanya terasa sesak mendengar cerita Winda barusan.


"Kenapa bisa kayak gini bang," Bayu memukul setir mobilnya ketika sudah memasuki halaman kantor Nayna.


Bayu sudah berjalan tergesa menuju ruangan Nayna. Untung saja ruangan kantor Nayna dan Winda terpisah dengan karyawan lainnya. Jika tidak, Bayu yakin kelakuan abangnya sudah bikin heboh seisi kantor.


Bayu sudah tiba di depan pintu ruangan Nayna. Dilihatnya bang Rendi tengah terduduk lemas di lantai.


Braakk. Bayu menepak pintu. Seketika Rendi menoleh. Emosi Bayu jadi naik kembali. Dipegangnya kerah baju Rendi mengajaknya berdiri.


Buggk...Buggk....Buugggk....Bayu sudah memukul telak wajah Rendi, seketika Rendi terhuyung beberapa langkah ke belakang.


"Lo nggak waras bang. Apa yang lo lakuin sama Nayna," teriak Bayu menarik Rendi kembali. Tangannya mencengkram kerah baju abangnya itu dengan penuh amarah.


"Apa yang lo fikirin sampe berbuat begitu sama Nayna baanggg," lalu melepaskan kerah baju Rendi dengan kasar, hingga abangnya itu terhuyung kembali jatuh ke lantai.


Bayupun tertunduk, ikut luruh ke lantai. Mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Bukan karena dia punya perasaan lebih pada Nayna. Bayu sudah menyayangi Nayna sèjak dia tahu gadis itu putri dari sahabat maminya. Bayu sudah menyayangi Nayna seperti dia menyayangi Rendi dan Riko. Bayu sudah menganggap Nayna itu seperti adiknya sendiri, lepas dari perjodohan maminya.


"Lo yang nyelamatin Nayna dari ******** keparat yang berniat menodai Nay waktu itu bang. Lalu kenapa sekarang lo yang menggantikan ******** keparat itu kembali menyakitinya," Bayu begitu sedih.


Bayu mengingat Naynanya yang mungil, manis, baik dan imut itu harus mengalami kejadian yang sama untuk kedua kalinya. Dan orang itu Rendi, laki-laki yang dicintai Nayna.

__ADS_1


Aaacchhhhh, teriak Rendi. Dia menjabak rambutnya sendiri, wajahnya sudah penuh keringat dan air mata yang sudah mengering.


"Pukul gue dek. Lo pukul aja gue sampai mati," Rendi manarik tangan Bayu dan memukulkan tangan adiknya itu kembali ke wajahnya.


"Gue salah dek. Gue nggak bisa di maafin," Rendi kembali berteriak sambil menangis.


Bayu sedih melihat abangnya seperti itu. Walaupun Rendi memang bersalah. Tapi Bayu yakin tidak mungkin abangnya itu berniat menyakiti Nayna. Dia tahu betapa besar abangnya itu mencintai Nayna.


Bayu mengusap air matanya, lalu berdiri dan menghampiri Rendi.


"Bang, ini kantor orang. Jangan jadi bikin heboh kantor ini. Ayo pulang bang kita selesain di rumah," Bayu membimbing abangnya berdiri menuju mobil dan meninggalkan kantor Nayna. Sepanjang perjalanan tidak ada suara mereka di dalam mobil. Bayu tidak ingin membahasnya, sedangkan Rendi terdiam masih dengan penyesalannya. Terlihat jelas kesedihan dan penyesalan yang dalam di wajah tampannya


Ratih mendengar bunyi handphonenya. Kemudian tersenyum ketika dilihatnya nama Meli, sahabatnya itu di sana.


"Assalamualaikum Meli sayangku," sapa Ratih begitu memencet tombol terima di handphonenya.


"Walaikusalam," jawab Meli ketus.


Ratih terdiam, tidak biasanya sahabatnya itu membalas teleponnya seketus ini.


"Mel....ada apa?" tanyanya. Dia yakin ada masalah yang membuat Meli berbicara begitu.

__ADS_1


"Aku tahu kita bersahabat bukan baru, Tih. Bahkan sudah puluhan tahun, aku sudah menganggapmu itu saudaraku sendiri," jelas Meli.


"Yah...akupun sama Mel," potong Ratih.


"Kalau aku tahu putramu itu laki-laki yang telah menyakiti putriku lima tahun yang lalu, aku tidak akan mengenalkan Naynaku padamu," ujar Meli


"Maaf Mel. Aku juga baru mengetahuinya. Kalau Rendi dan Nayna itu pernah menjadi sepasang kekasih. Kalau aku tahu gadis itu adalah Nayna putrimu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi Mel," keluh Ratih lagi.


"Dan sekarang Rendi menyakiti Nayna kambali Mel. Kenapa putramu itu setega itu pada putriku," tanya Meli


"Apa maksudmu Mel," Ratih bingung sendiri.


"Saat kejadian itu, aku sangat berterima kasih karena Rendi telah menyelamatan Nayna dari ******** yang hendak menodainya. Tapi kenapa sekarang malah dia menjadi ******** itu. Tidak puaskah dia menyakiti hati putriku selama ini," Meli sudah terisak.


"Apa yang kau katakan Mel. Tidak mungkin, aku tahu bagaimana Rendi sangat mencintai Nayna," bela Ratih bingung.


"Naynaku, begitu banyak luka di hatinya karena putramu. Jika aku tahu dari awal, tidak akan kukenalkan putriku pada kalian. Tidak akan ada perjodohan Nay dengan Bayu, apalagi dengan Rendi," terdengar helaan nafas Meli kasar.


"Maaf, aku memutuskan berhenti menjadi sahabatmu mulai detik ini," ucap Meli tegas mengakhiri teleponnya.


Sementara Ratih masih terdiam di ujung telponenya. Dia tidak mengerti, sepertinya berita yang dia dengar belum tersampaikan oleh saraf-saraf di otaknya, Ratih masih terbengong tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2