
Nayna terlihat lesu. Aktifitas biasa setiap hari yang dilakukannya di kantor terasa sangat membosankan baginya kini. Sejak pembicaraannya dengan Rendi dan juga Rizki, Nayna merasa gamang, hatinyapun merasa tidak nyaman. Kenyataan yang mengharuskan Nayna berhadapan dengan dua pilihan sulit yang mendera hatinya, kini benar-benar membebani fikiran Nayna.
Nayna menerawang. Mengingat kembali kenangannya akan sosok Rizki. Dokter tampan yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya, karena persahabatan ayah Nayna dan dady Rizki. Dokter tampan yang awalnya dijuluki Nayna sebagai laki-laki es balok, karena sikapnya yang sangat dingin. Sifat angkuh, sombong dan juga percaya dirinya itulah yang membuat Nayna awalnya sangat tidak menyukai karakter Rizki. Apalagi saat Rizki seolah tidak pernah memandang Nayna sedikitpun. Ego Nayna seakan tergelitik. Walaupun dia belum ada perasaan pada Rizki, Nayna malah bersemangat untuk bisa mendapatkan hatinya.
Nayna tersenyum. Mengingat pada akhirnya laki-laki es balok itupun bisa mencair. Sikap aslinya yang lembut dan penyayang di tutupinya dengan karakter dingin yang tercipta, atau malah diciptakan Rizki sendiri, akibat dari kisah trauma masa lalunya akan cinta. Hilangnya kepercayaan dan keyakinannya akan sebuah cinta, telah membuat pribadinya berubah. Rasa kecewa, dikhianati dan rasa sakit hati yang mendalamlah yang sudah mengubah seorang Rizki, menjadi dingin dan cuek.
Dan Nayna akhirnya juga merasakan bagaimana akhirnya, ketika Rizki sudah kembali lagi pada dirinya yang dulu. Pada sosok aslinya yang ternyata sangat lembut dan pengertian. Pada sifat aslinya yang penuh cinta dan penyayang. Nayna bahkan mengingat ciuman pertama mereka. Nayna bisa merasakan kelembutan dan cinta yang tulus dari ciumannya itu. Nay menyukainya. Bahkan kini Nay seakan merasakannya kembali. Nay menyentuh bibirnya, memejamkan matanya, merasakan kembali sentuhan lembut bibir Rizki pada bibirnya.
Tetapi seketika, tiba-tiba saja wajah Rendi berkelebat. Terbayang di pelupuk mata Nayna senyum manis Rendi dan tatapan lembut netra coklatnya yang selalu menenggelamkan Nayna. Kini seakan berputar-putar di kepala Nayna. Layaknya roll film yang kini sudah berganti kisah. Ahhhh.....Nayna tidak bisa menyangkal, perjuangan dan usaha kerasnya melupakan Rendi selama ini, akhirnya sia-sia. Saat pemilik netra coklat itu kembali, hati Nayna, perasaannya dulu, seakan hadir kembali. Bersamaan dengan kembalinya laki-laki sosok cinta pertama Nayna itu.
Nayna lemah. Hatinya selalu kalah, oleh tatapan lembut menghanyutkan netra coklat itu. Oleh senyum manis yang selalu membuatnya tersekat seketika itu.
Kenapa aku harus memilih? Kenapa meski ada pilihan? Nayna mulai terisak sendiri. Menahan agar suara isaknya tidak semakin terdengar. Menahan agar air matanya tidak jadi luruh. Nay takut jatuhnya derai air mata ini akan membuatnya jadi benar-benar menangis. Dengan cepat Nay membungkam mulutnya, menghapus air matanya yang mulai sedikit menetes.
Tuhan. Aku tidak pernah minta banyak. Aku hanya minta satu cinta, yang setia, dan tidak akan pernah menyakitiku lagi. Selama ini aku menyerah. Aku tidak pernah mencoba menyangkal, akan semua kepedihan yang terjadi dalam hidupku. Aku ikhlas, meskipun berbalut tangis dan luka.
Tapi kini kenapa kau beri aku dua pilihan. Pilìhan yang sangat sulit untuk hatiku. Andai saja dada ini bisa dibelah. Nyata terpampang di sana, siapa pemilik separuh hatinya, dan siapa lagi yang menghuni sebagiannya.
Setelah selama ini Nay terus kehilangan. Kenapa harus mengembalikannya dua kali, dua orang, dua cinta, dua perasaan, dua hati, ujar Nayna sesak.
__ADS_1
Hiks....hiks....hiks....Nayna benar-benar menangis akhirnya. Sesegukkan. Andai ada orang lain yang kini berada di ruangan kerjanya, pastilah akan ikut merasa sedih oleh ratapan tangis yang keluar dari bibir Nayna. Beruntung ini saat jam makan siang, seisi kantorpun sepi. Jadi tidak pasti akan ada yang mendengar isak tangisnya.
Aku tidak tahu meski bagaimana. Aku tidak mengerti perasaanku sendiri. Dua-duanya kucintai. Dua-duanya kusayangi. Bagaimana bisa aku harus memilih salah satunya. Andai bisa kumiliki keduanya, aku tidak akan pusing memikirkanya, ujar Nayna sedikit keras.
Andai memang bang Rizki jodohku. Kenapa kau hadirkan bang Rendi kembali Tuhan. Dia sudah menjauh. Bahkan akupun sudah pulih dan menghapus rasa sakitku. Lalu untuk apa kau menghadirkannya kembali dalam hidupku.
Andaipun ternyata bukan bang Rizki, tapi bang Rendilah jodohku. Lalu kenapa kau hadirkan cinta baru bang Rizki tuk mengisi kekosongan hatiku. Kenapa.....kenapa Tuhan? Kenapa harus ada pilihan? Apakah aku harus menjauhi keduanya, agar tidak ada salah satupun yang akhirnya tersakiti, teriak Nayna kembali.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hii🖐🖐
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
__ADS_1
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤