Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Posisi Karin & Nayna


__ADS_3

"Nay.....Winda.....," sapa Rey tidak bisa menahan lagi hatinya, lalu melambaikan tangannya.


Nayna dan Karin tampak saling pandang, lalu dengan terpaksa menghampiri meja Rey.


"'Heiii....Rey, apa kabar," Winda lebih dulu menyapa dan menjabat tangan Rey.


Lalu kemudian Reypun menjabat tangan Nayna, wajahnyapun berubah menjadi begitu gugup.


Setelah dapat mengendalikan sedikit emosi dan gejolak di hatinya, lalu Rey menoleh ke arah Karin


"Oh iya Nay....Win, kenalkan ini temenku Karin," Rey mengenalkan

__ADS_1


Degg jantung Karin berdetak. Hanya teman, itu yang tadi Ray katakan. Mestipun hatinya tidak rela, nyatanya memang tidak ada hubungan apapun antara dirinya dan Rey saat ini.


"Haiii.....Karin," sapanya ramah membalas jabat tangan Winda dan Nayna.


"Oke Rey, kami cari meja dulu yah," hindar Nayna


"Kenapa nggak gabung aja Nay, meja ini cukup kok untuk kita berempat," tawar Rey dengan semangat.


Sementara Karin sudah tampak malas, mukanyapun berubah menjadi lesu dan tidak bersemangat.


"Kami tidak ingin mengganggu Rey. Biarlah aku dan Winda memilih meja di ujung sana, sepertinya kosong," ujar Nay lagi sambil menunjuk meja yang berada di sudut cafe.

__ADS_1


"Ayolah, tidak ada yang mengganggu, aku dan Karin juga hanya mengobrol biasa saja," ucap Rey lagi menahan keduanya.


"Lain kali Rey. Thanks tawarannya, kebetulan saat ini aku dan Nay lagi membahas masalah pekerjaan, dan kami juga sedang menunggu seseorang," Winda menengahi begitu dilihatnya Rey dan Nayna saling memaksa.


Tapi yang membuat Winda ingin menengahi justru saat dia melirik gadis yang duduk bersama Rey sedari tadi. Gadis itu sontak terdiam, menundukkan kepala dan memasang tampang sedih. Winda memaklumi kenapa dia jadi bersikap seperti itu, mengingat perhatian yang di tunjukkan Rey pada Nayna barusan. Lalu keduanyapun meninggalkan meja Rey menunju meja di sudut cafe yang tadi mereka pesan.


Sementara Rey tidak melepaskan pandangannya seolah sangat tidak rela mereka memilih mejanya sendiri.


Nay dan Winda tampak sudah asyik di meja mereka. Keringangan yang di tunjukkan keduanya terlihat sampai ke meja Rey. Walau jujur saja mata Rey sebenarnya cuma menatap Nayna seorang.


Karinpun jadi lebih banyak diam, dia hanya membalas pendek pertannyaan-pertanyaan Rey saja. Laki-laki itu sepertinya benar-benar sudah tidak merasa nyaman. Raganya saja yang duduk di hadapan Karin, jiwanya sudah melayang jauh ke meja sudut cafe itu.

__ADS_1


Andai dia punya keegoisan sedikit saja, rasanya Karin ingin meninggalkan Rey sedari tadi. Tapi tidak mungkin Karin pergi begitu saja karena aladan cemburu. Toh dia dan Rey memang bukan siapa-siapa. Hubungan mereka hanya sekedar pertemanan biasa, dan Karin yang paling tahu bahwa hanya dialah yang seringkali meminta Rey untuk bertemu. Kalaupun akhirnya Rey menyetujui, hanya karena laki-laki itu merasa tidak enak saja, bukan karena dia mulai membalas perasaan Karin.


Dan hari ini, di depan kepalanya sendiri, Nay membuktikan kalau Rey memang tidak akan pernah membuka hatinya. Gadis yang bernama Nayna itu benar-benar telah merajai hatinya. Membuatnya tidak bisa melihat wanita lain lagi, melihat cinta lain lagi, selain Naynanya itu.


__ADS_2