
Tante Meli mengajak Rendi keluar dari kamar Nayna. Dia sudah sangat tidak sabar untuk menanyakan pada Rendi perihal putrinya. Setelah duduk berhadapan di ruang tengah rumahnya, tante Melipun bertanya.
"Apa yang terjadi pada Nayna Ren," tanyanya langsung
"Bunda sebelum bicara, bisakah saya minta air minum tante, tenggorokan saya benar-benar kering," Rendi tampak memelas.
"Ya Allah, maafkan bunda Ren. Bunda begitu terkejut dan tegang, sampai melupakan etika bahwa kau adalah tamu,"
Tante Meli bergegas mengambil minuman ke dapur. Rendi pasti lelah, bukankah tadi dia menggendong Nayna sampai ke kamarnya.
Setelah cukup meneguk air putih dan membasahi tenggorokannya. Rendi menceritakan secara detail dari mulai dia datang ke tempat kejadian mendengar teriakan Naynà hingga mengantarkan Nayna pulang.
Tante Meli sudah terisak menamgis. Dia tidak dapat membayangkan kejadian apa yang akan menimpa putrinya seandainya Rendi tidak kebetulan lewat jalan itu.
__ADS_1
"Sabar bun. Alhamdulillah Allah masih sayang pada Nayna, sehingga tidak sampai terjadi tindak perkosaan," ujar Rendi yang membuat tante Meli menjadi semakin terisak.
"Lalu bagaimana pelakunya Ren?" Siapa yang tega melakukan ini pada Nayna?" tanya tante Meli lirih
" Tadi saya berniat membawa Nayna untuk melapor bunda. Tapi sepertinya kondisi Nayna tidak memungkinkan," jelas Rendi.
"Saya sudah mengerahkan anak buah saya untuk membuat berita acara, mengejar pelaku dan melakukan penyelidikan. Saya juga memegang bukti sidik jari pelaku bun. Saya pastikan tidak sampaì dua kali dua puluh empat jam pelaku pasti sudah bisa di ringkus," ujar Rendi lagi dengan nada geram.
Tante Meli menatap Rendi. Ada rasa panik, sedih dan cemas di mata pemuda ini. Apa mungkin dia masih menyimpan perasaannya pada Nayna. Tapi kalau dia mencintai Nayna kenapa dulu menghianati putriku, tante Meli bertanya dalam hati.
"Saya harap begitu Nay sudah pulih dan lebih baik kondisinya, dia bisa membuat laporan untuk melengkapi berita acara kepolisian," jelas Rendi lagi.
"Tapi kalau memang sulit, cukup mengabari saya saja. Saya akan memerintahkan petugas kemari meminta keterangan pada Nayna," tambah Rendi sambil menyerahkan kartu namanya pada tante Meli.
__ADS_1
Tante Meli mengangguk dan mengambil kartu nama tersebut. Dia membacanya sekilas, tampak wajahnya sedikit terkejut begitu membaca pangkat pemuda ini di kepolisian. Pemuda ini bukan polisi sembarangan lagi sekarang, batinnya.
Rendi pamit dan keluar menuju teras diantar tante Meli.
"Ren, terimakasih yah. Bumda belum mengucapkan terimakasih padamu tadi," tante Nayna menatap Rendi intens
"Andai tidak ada kamu, tidak dapat bunda bayangkan apa yang akan terjadi pada Nay," perempuan itu kembali terisak.
"Begini saja sudah membuat bunda tidak sanggup menerimanya," isaknya semakin keras.
Rendi memegang tangan tante Meli. Dia tahu betapa besar cintanya pada putri tertuanya itu. Dia bahkan ikut merasakan apa yang dirasakan tante Meli.
Rendi sendiri tidak berhenti bersyukur pada Allah yang seakan membimbingnya untuk melewati jalan itu. Andai dia tidak lewat tempat kejadian tadi, entah bagaimana Naynanya.
__ADS_1
"Yang sabar ya bun. Kita bersyukur Allah masih menjaga Nayna."
"Dan Rendi berjanji kepada bunda, Rendi akan menangkap pelakunya demi bunda dan juga Nay," ucap Rendi yakin, sebelum pamit meninggalkan rumah Nayna. Meninggalkan gadis tercintanya itu dalam kondisi seperti ini.