
Rendi duduk di halaman samping rumahnya. Sudah hampir satu minggu Rendi di sini. Sengaja tidak kembali ke rumah mami dan izin tidak masuk kantor. Rendi ingin menenangkan diri dahulu, tepatnya menenangkan hatinya yang tengah gundah gulana.
FlaskBack On
"Nay, apa yang mau dibicarakan dengan abang," tanya Rendi lembut.
Laki-laki lembut ini. Laki-laki cinta pertamanya ini, selalu saja membuat Nayna terpesona. Dan Nay berusaha menepisnya.
"Bang Ren. Abang tahu kan, Nay masih mencintai abang, walau tidak sama besarnya seperti saat pertama dulu. Nay tidak bisa bohong, kalau Nay bekum bisa sepenuhnya melupakan abang," ucap Nay pada Rendi.
Rendi masih menatap Nay lembut. Mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari bibir mungil milik Nayna. Senyum lembutnya tidak pernah lepas dari bibir saat menatap gadis terkasihnya ini.
Perasaan abang juga sama Nay. Kesalahan masa lalulah yang membuat abang tidak memiliki gadis yang abang cintai, jawab Rendi dalam hati.
"Nay tahu bang. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah berbuat salah. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari salah," ujar Nayna kembali.
"Karena itulah Nay sudah memaafkan semua kekhilafan abang dulu. Nay sudah melupakan semuanya, agar hati Nay sendiri juga bisa tenang dengan memaafkan. Agar tidak ada lagi sakit hati apalagi menjadi dendam bang," lagi-lagi Nay berujar.
Netra coklat itu kembali menatap Nayna lembut. Tatapan yang selalu membuat Nay luluh. Juga sekaligus tatapan cinta yang selalu Nay suka.
"Nay sempat meragu bang. Nay tidak bisa memilih antara bang Ren dan bang Ki. Nay mencintai kalian berdua, tentu saja dengan porsinya sendiri-sendiri. Nay hampir putus asa. Nay terus saja menangis dan merutuk, kenapa Tuhan harus menciptakan cinta yang begini sulit. Kenapa Tuhan harus menciptakan dua hati yang Nay meski Nay pilih untuk dimiliki," keluh Nayna sendu.
Rendi masih terdiam. Walaupun sebagai seorang perwira polisi, Rendi sudah bisa menebak ke arah mana ujungnya pembicaraan Nayna. Tapi sebagai seorang laki-laki yang mencintai gadis di hadapannya ini, Rendi masih terus memantapkan hati. Bahwa apa yang difikirkan hatinya saat ini adalah sebuah kekeliruan.
"Beruntung ada bunda yang menguatkan Nay. Mengatakan agar Nay melajukan shalat istikharah. Agar hati Nay menjadi tenang. Dan diberikan yang diatas jawaban dari pilihan yang terbaik," ujar Nayna kembali.
Kemudian Nay terdiam dan menatap Rendi kembali. Nay sengaja memberi jedah, agar bisa memberi Rendi kesempatan untuk sedikit saja berkomentar, atau sekedar memberi sanggahan, alasan atau apalah itu. Agar hatinya juga menjadi kuat untuk menyampaikan keputusan yang sulit ini. Tapi laki-laki manis ini masih saja setia untuk memilih diam.
"Berhenti jadi bayangan Nay bang. Berhenti untuk membohongi hati bang Rendi sendiri, kalau keputusan seperti itu menyakitkan. Barhenti seolah-seolah bahagia walau hanya menjadi sebuah bayangan," ujar Nayna sudah tergugu.
Nayna memang cengeng. Dia selalu saja menangis. Kadangkala air matanyalah yang lebih dulu luruh ketimbang kata-kata.
"Nay cinta abang, bahkan mungkin hingga detik ini. Tapi Nay meski jujur bahwa sejak abang menghianati Nay, dan bahkan menyakitì Nay kembali, perasaan Nay tetap sama bang. Tapi rasa sakit itu sudah mengubah kadar cinta Nay menjadi tidak sebesar awal dulu. Nay mencintai bang Rendi sekaligus juga mwmbenci abang,"
Kali ini air mata itu sudah benar-benar luruh. Mengalir deras membasahi pipi Nayna, matanyapun sudah sembab oleh air mata. Mencintai sekaligus membenci adalah dua hal yang sangat menyakitkan bagi Nayna.
"Maafin Nay bang. Maaf atas keputusan yang harus Nay ambil kali ini. Maaf untuk rasa cinta dan harapan yang sempat Nay tabur kembali, Maaf bang....," tangis Nay pecah kembali.
Nayna tergugu di tempatnya duduk. Sudah tidak diperdulikannya lagi berapa banyak pasang mata yang menatapnya dengan tanya. Dengan rasa ingin tahu, dengan rasa iba, atau bahkan dengan cibiran yang melihat seorang gadis menangis tersedu di hadapan seorang pria tampan. Entah apa yang ada di fikiran mereka, Nay sudah tidak perduli.
Rendi mendekat. Menghapus air mata yang sudah terlanjur tumpah. Menatap wajah Nayna untuk yang terakhir kalinya. Karena bisa jadi setelah hari ini, mereka tidak akan mungkin lagi bertemu. Karena bisa jadi setelah hari ini, gadis ini akan benar-benar pergi dari kehidupannya. Karena saat dia sudah menjadi milik orang lain, saat itulah Rendi harus sadar dan berhenti mencintai Nay.
"Abang mengerti Nay. Abang akan menerima keputusan Nay. Sama halnya saat Nay dulu menerima keputusan abang saat lebih memilih bersama gadis lain. Abang jadi mengerti bagaimana rasa sakit Nay dulu saat mengetahui abang telah berkhianat hingga akhirnya menikah," ucap Rendi sadar berusaha bijaksana.
__ADS_1
"Sudah, jangan lagi menangis. Abang bisa menerima bagaimanapun wujud rasa sakit itu. Tapi abang tidak akan pernah bisa tahan melihat air mata yang yang mengalir di wajahmu," ujar Rendi kembali pada Nayna.
Rendi berusaha tegar. Bukan karena hatinya kuat, bukan karena cintanya tidak terluka. Tapi lebih kepada menerima. Bahwa jalan cerita cinta memang kadang tidak selalu mulus, dan berakhir seperti yang kita mau. Bahwa kita akan tahu bagaimana rasanya mencintai sesungguhnya justru pada saat kita sudah merasa kehilangan.
Hari itu hari terakhirnya bisa menyentuh pipi Nayna. Mengusap air mata yang luruh membasahi wajah cantiknya. Bahkan mata Rendi sendiripun sudah mulai berkabut. Menyadari bahwa akhirnya kisah mereka akan benar-benar berakhir.
"Maafin Nay bang. Nay berharap dan berdoa abang akan bahagia, walaupun itu berarti bukan bersama Nay. Nay akan tetap menyimpan nama abang di hati sebagai cinta pertama yang pernah sangat Nay cintai. Selamat tinggal bang Ren. Selamat tinggal cinta pertama,"
Karena setelahnya Nayna sudah berlari dalam tangis. Meninggalkan Rendi sendiri setelah sebelumnya mengucapkan harapannya akan kebahagian Rendi. Bagaimanapun akhirnya, mereka adalah dua irang anak manusia yang pernah sama sama saling mencintai.
Rendi cuma terdiam. Menatap punggung Nayna yang sudah berlari menjauh. Berlari dalam tangis meninggalkan Rendi yang masih terpaku sendiri.
Rendi menyadari. Betapapun kerasnya dia menarik Nayna untuk mendekat.
Kalau bukan jodoh, Tuhan akan akan menunjukkan jalannya untuk terpisah.
Begitupun seberapa kerasnya dia menghindari Nayna.
Cinta pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk bersatu.
Itulah jodoh. Bahkan sudah di tuliskan jauh di Lauhul Mahfudz sebelum kita dilahirkan ke dunia.
FlaskBack Off
Senja juga membuatku faham makna dari kata "rela"
Bahwa seperti senja, kau juga akhirnya akan pergi. Keindahan senja yang sesaat lalu memudar keindahannya di tutupi langit malam.
Senjalah pula yang mengajarkanku untuk setia.
Satu kata yang pernah kukhianati dulu saat bersamamu.
Selamat tinggal kasih
Berbahagialah meski itu berarti bukan bersamaku.
Selamat tinggal cinta pertama
Rendi Wijaya
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiii views tercintaaahh🤩😍
__ADS_1
Ikuti terus up selanjutnya yah cintahh🙏🏻✌🤗
Rendi menyadari
Betapapun kerasnya dia menarik Nayna untuk mendekat
Kalau bukan jodoh, Tuhan akan akan menunjukkan jalannya untuk terpisah
Begitupun seberapa kerasnya dia menghindari Nayna
Cinta pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk bersatu
Itulah jodoh
Bahkan sudah di tuliskan jauh di Lauhul Mahfudz
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favo