
Nayna melajukan mobilnya. Dia memenuhi janjinya kemarin untuk bertemu Karin. Ya....Karin, wanita cantik yang sangat mencintai Reyhan itu mengajaknya bertemu di cafe ini. Nay bertanya-tanya sendiri, kenapa gadis itu mengajaknya bertemu.
Nayna baru saja masuk ke dalam cafe, tidak berapa lama matanya sudah menatap gadis cantik memakai dress biru lembut di ujung sana. Nay pernah bertemu dengannya saat dia bersama Rey waktu itu, Nay masih mengingat wajah cantiknya.
"Hai...." sapa Nayna di depan meja Karin.
Karin menoleh ke arah Nayna, lalu mempersilahkannya duduk.
"Terimakasih," balas Nayna berusaha ramah. Lalu keduanya duduk saling memandang cukup lama. Menerka sendiri fikiran mereka masing-masing.
Setelah mereka menyeruput pesanan minuman masing-masing. Nayna menanyakan tujuan Karin mengundangnya kemari.
"Baiklah nona Karin, saya permisi ke toilet sebentar. Saya harap saat saya kembali ke sini, anda bisa mengatakan saja terus terang tujuan anda mengajak saya bertemu hari ini," tanya Nayna tanpa basa basi, lalu berjalan menuju toilet. Dia tidak bisa menahannya lagi, apa karena bertemu wanita ini membuatnya jadi grogi begini.
Karin menatap Nayna. Dia masih mempertimbangkan keinginannya. Apa dia harus bersikap lembut atau bersikap kasar pada wanita," tanyanya dalam hati.
"Bagaimana hubunganmu dengan Rey," tanya Karin setelah cukup lama mereka saling terdiam.
Nayna mengeryit, menatap wanita di hadapannya ini.
"Maksudnya?" Nayna balik bertanya
__ADS_1
"Ya hubungan kalian berdua, apa tidak ada masalah," jelas Karin
"Maksudmu dengan masalah?" Nayna bukanlah gadis yang bodoh. Dia yakin ada hal yang disembunyikan Karin di balik pertanyaannya itu.
"Apapun.....Bukankah tiap hubungan belum tentu akan selalu lurus-lurus saja. Selalu ada masalah yang mewarnai suatu hubungan,"
"Tidak juga. Setiap hubungan akan baik-baik saja jika setiap pasangan tidak melihat semua hal menjadi masalah," Nayna membalikkan kata-kata Karin.
Karin tampak mulai kesal. Wanita ini ternyata pandai bicara, makinya dalam hati.
"Okey, anggaplah kalian tidak pernah ada masalah. Apa kau yakin sudah mengenal Reyhan luar dan dalam," Karin kembali bertanya.
Nayna sudah mencurigai wanita ini. Permintaannya beetemu tidak tukus. Apa dia mengetahui penyakit Rey. Apa dia ingin membuatku pergi karena penyakit yang diderita Rey, Nayna kembali menduga duga.
"Bukankah sebagai pasangan memang sudah semestinya kalian memahami dan mengenal pasangan masing-masing luar dan dalam," Karin memjelaskan.
Nayna tersenyum menatap wanita cantik di hadapannya ini. Wanita ini sangat manis, matanya itu saat bicara atau mengerjab benar-benar seperti bintang. Apalagi kalau dia tersenyum, senyumnya sungguh manis. Tapi sayang sekali, gadis semanis ini pasti sudah mematahkan hati banyak pria karena telah menutup rapat pintu hatinya hanya untuk Reyhan, gumam Nayna.
"Itu pendapat kamu nona Karin. Karena bagi saya, hubungan itu menerima kelemahan maupun kekurangan pasangan. Waktu dan kebersamaan yang akan membuat pasangan saling memahami, menerima, tanpa memghakimi kekurangan," jelas Nayna.
"Baiklah, to do point aja, apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku tentang Reyhan," skak Nayna.
__ADS_1
"Anda ternyata gadis yang pintar ya Nayna, pantas saja kalau Reyhan itu cinta mati kepadamu," sindir Karin.
Lalu mengambil amlop coklat dari dalam tasnya dan menyerahkan pada Nayna. Nayna membuka kemudian membacanya dengan teliti.
Nayna tampak terkejut, tapi dia cepat menyembunyikan keterkejutannya di hadapan Karin. Karena walaupun Nayna sudah pernah menyelidikinya, bahkan bertemu dengan kakak Rey yang seorang dokter. Nayna belum berani menyimpulkan analisanya. Tapi rekaman medis yang diterimanya dari tangan Karin jadi memperkuat hipotesanya selama ini mengenai Reyhan.
"Lalu kau ingin aku bersikap bagaimana dengan menunjukkan jejak rekam medis kesehatan Reyhan ini.....nona Karin," tanya Nayna dengan sangat tenang.
Karin menatap wanita di hadapannya ini. Kenapa dia bisa setenang ini, apa dia sudah mengetahui tentang penyakit yang di derita Rey. Tapi tidak mungkin, aku berkali-kali mengintai mereka berdua. Dan melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau wanita ini tampak syok dan ketakutan tiap kali sosok Rey berubah, dia sama sekali belum mengetahui penyakit yang diderita Rey, gumam Karin.
"Apa kau ingin aku menjauhi Rey dan memilih berpisah dengannya hanya karena masalah ini," tanya Nayna ketika dilihatnya wanita ini sedari tadi hanya diam tanpa berniat menjelaskan.
"Karin, bukankah dari awal tadi sudah kujelaskan kepadamu. Hubungan itu menerima. Menerima kelebihan, juga kekurangan pasangan."
"Dan kau berniat mengancamku dengan ini," Nay mengangkat amplop coklat yang diberikan Karin tadi padanya.
Karin terdiam. Karin tidak mau menyerah, dia tampak berfikir, dia mau wanita ini mundur. Karena tidak ada seorangpun yang mencintai Reyhan sebesar cintanya pada laki-laki itu. Bahkan lima tahun lebih dia mencoba bertahan. Saat Rey terpuruk dulupun karena wanita ini, Karin yang tetap setia selalu ada di sampingnya.
"Kau mungkin saja bisa menerima. Tapi kau tidak bisa memungkiri. Kaulah penyebab Reyhan menjadi depresi. Silahkan baca dengan teliti rekam medik itu. Semuanya dimulai lima tahun yang lalu saat kau meninggalkannya demi laki-laki lain yang sangat kau cintai itu," jelas Karin dengan sinis.
"Hiduplah bersama Reyhan dengan rasa bersalahmu itu. Terima kasih atas waktunya," Karin pamit dan beranjak pergi.
__ADS_1
Sepertinya dia sengaja memanipulasi hati Nayna dengan menekankan kata bersalah itu. Dengan menegaskan bahwa Naynalah penyebab perubahan pada diri Reyhan. Bahwa Naynalah yang harus bertanggung jawab atas semua penyakit yang akhirnya di derita Reyhan. Dan kalau dia masih punya hati. Harusnya dia merelakan kebahagian Reyhan.