
Bayu tidak juga menyerah. Hari ini setelah beberapa minggu menghilang. Bayu kembali menghampiri Winda ke kantornya. Tapi kenapa Winda tampak berbeda. Gadis tidak jutek dan bersikap kasar seperti biasanya. Dia hanya menatap Bayu tanpa berkata sepatah katapun ketika melihat Bayu sudah berada di luar ruangannya, tepatnya di Sofa di dekat meja sekretarisnya. Winda berlalu saja masuk ke ruangannya.
"Rin, kenapa dengan bosmu itu," tanya Bayu pada Rina.
Rina memang sudah kenal dan hafal dengan Bayu karena terlalu sering dilihatnya menunggu Winda, walaupun sering tidak di perdulikan. Bahkan kadang Rini menjadi tempat keluh kesahnya saat Winda tidak ingin dia temui.
"Nggak tahu mas Bayu. Sudah satu minggu ini mbak Winda yah seperti itu. Tidak terlihat seperti dia biasanya, yang selalu ceria dan lincah," jelas Rini.
Rini memang tidak memanggil Winda dengan sebutan bu Winda, walaupun dia bosnya. Karena Winda yang memberi perintah begitu. Cukup panggil mbak aja, biar mereka bisa lebih dekat dan akrab katanya.
"Tapi kan itu bagus mas. Tadi mas Bayu nggak lagi dijutek_in sama mbak Winda seperti biasanya," senyum Rini.
"Iya kamu bener juga Rin. Tapi daripada di didiemin gitu, trus liat mukanya kayak orang nggak ada nyawanya gitu. Mending juga di jutek_in kayak biasanya," balas Bayu
"Iya, bener juga ya mas," Rini menganggukkan kepalanya.
Rini menatap Bayu lekat. Menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia merasa ada yang berbeda pada diri Bayu hari ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa ngeliatinnya kayak gitu," selidik Bayu
"Nggak. Tumben aja mas Bayu ke sini masih pake seragam lengkap kayak gitu," Rini masih menatapnya.
Mas Bayu ini semakin diperhatiiin mirip banget sama artis pendatang baru "Rizky Billar". Bagai pinang tak berbelah. Loh kok tak berbelah, kan saking miripnya, Rini tersenyum dalam hati. Wajah ganteng, badan atletis, apalagi lesung pipi di kedua pipinya jika dia tertawa atau tersenyum. Kalau bukan karena mas Bayu mati-matian mengejar mbak Winda, adek nggak bakal nolak bang, ujarnya lagi dengan senyum merekah.
"Nah ini anak. Tadi ngelotot sampe mau loncat keluar itu mata. Kali ini senyum-senyum sendiri. Coba periksa panas nggak tuh badan," perintah Bayu.
"Ihhh mas Bayu," rajuk Rini.
Tapi bang David, kekasihnya mbak Winda juga nggak kalah gantengnya. Wajahnya agak ke Chinese mirip aktor laga "Joe Taslim". Tapi masih lebih ganteng bang David karena matanya nggak sipit, tapi teduh dan tajam. Sama2 berbody tinggi besar macam sang aktor. Baik mas Bayu maupun bang David sama baiknya, sama gantengnya, sama kerennya. Mana dua-duanya perwira polisi berpangkat tinggi, pengusaha pula, udah pasti berduta alias berduit bin cowok tajir. Sempurna banget yakk buat jadi calon imam. Aduuhhh.....mbak Winda kok bisa seberuntung itu sih hidupnya. Berada diantara dua laki-laki yang super keren itu. Aku aja kalau jadi mbak Winda bakalan pusing mau milih yang mana. Dilempar satu sisanya aja nggak bakalan nolak deh, suerr, lamun Rini.
Teguran Bayu mengagetkan Rini. Gadis itu terlonjak sangking kagetnya. Karena tadi benar-benar melamun menghayalkan body-body macho dua orang ganteng lagi keren yang mengelilingi Winda.
"Mas Bayu ngagetin aja," ujarnya memasang wajah cemberut.
"Jangan bilang kalau loe lagi ngelamun jorok," cecar Bayu kemudian
__ADS_1
"Apaaan sih màs Bayu, sembarangan aja," tolak Rini.
"Mas mau nemuin mbak Winda yah," Rini bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Lah iyalah, kan nggak mungkin nemuin loe," balas Bayu dengan tersenyum.
"Ya kaleee mas Bayu khilaf," jawab Rini tersemyum, membuat Bayu makin tertawa saja.
"Ihh mas Bayu, jangan ketawa sih," pinta Rini
"Loh kenapa?" tanya Bayu heran
"Mas Bayu jadi ganteng banget. Lesung pipinya itu, jadi nggak kuat natapnya mas," puji Rini tidak bercanda.
"Eeehhh, dia malah ngegombal. Udah sana laporan ke bosmu," perintah Bayu
"Hehehhh....Siap mas," ucap Rini sambil beranjak menuju ruangan Winda.
__ADS_1
Sementara Bayu cuma tersenyum menatap gadis yang sudah dikenalnya dan makin akrab itu.