
Rey hendak bergerak melangkah mencari bik Yati, saat terdengar suara ramai gelak tawa di halaman depan. Rey mengurungkan niatnya mencari bik Yati, dia memilih melangkahkan kakinya menuju halaman depan mencari sumber suara.
"Bibikk....Mang....cacing....," teriak Karin geli
Karin memang sangat tidak menyukai mahluk hermafrodit itu, yang membawa kedua organ **** pria dan wanita di tubuhnya.
Tetapi karena penelitian mengungkapkan bahwa lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya memang lebih subur. Pasalnya, tanah yang bercampur dengan kotoran cacing memberikan banyak manfaat bagi tanaman. Mau tidak mau Karin harus membuang rasa geli dan jijiknya itu.
"Bibik buangin aja cacingnya non," tawar bik Yati
"Jangan bik, biarin aja, cacing itulah yang membuat tanah menjadi subur," cegah Karin.
Kalau tanah di potnya nggak ada cacing, nggak bakalan subur, bunga-bunga Karin bakal mati nanti," jelas Karin lagi.
Bik Yati dan mang Ujang tampak menganggukakan kepalanya faham.
__ADS_1
Tiba-tiba saja saat tengah asyik mengaduk-ngaduk tanah, mencampur komposisi tanah dan kompos sesuai perintah Karin, bik Yati melihat cacaing tanah yang sangat panjang. Iseng si bibik memegang cacing tersebut mendekati Karin.
"Non, cacingnya panjang banget yahhh.....," bik yati menunjukkan cacingnya pada Karin.
Otomatis Karin terlonjak dan sontak berlari kecil, sementara bik Yati masih mengikuti Karin sambil memegang cacing di tangannya. Mang ujang ikut tertawa menyaksikan tingkah istri dan majikannya itu.
"Udah non, jangan lari-lari, inget non lagi hamil," bik Yati mengingatkan Karin dan membuang cacingnya kembali ke tanah.
Karin tertawa sambil medudukkan bokongnya di kursi.
"Bibil sih, udah tahu Karin geli," jawabnya lagi.
Dia benar-benar wanita yang baik, ucap Reyhan akhirnya. Tapi hatinya masih terus memungkiri, menutup semua hal dan kemungkinan yang akan membuat Karin masuk ke sana. Dan Rey masih berdiri di situ, beruntung kaca riben jendela ini berhasil menyamarkan dirinya yang mengintip sedari tadi.
Reyhan menyaksikan Karin meminta mang ujang memindahkan satu pot bunga ke satu tempat, melihatnya, berfikir lalu memindahkannya kembali, memilih letak-letak untuk mengatur semua pot itu hingga membentuk sebuah taman yang cantik. Sambil memberi perintah, tangan Karin masih sibuk mencampur tanah dan pupuk, lalu menanam satu persatu bunga yang ada di sana. Peluh tampak sudah membasahi pelipisnya, Karin mengelapnya menggunakan punggung tangannya yang tidak ikut kotor oleh tanah. Senyum tampak tidak pernah sirna dari wajahnya yang cantik.
__ADS_1
Akhirnya beres juga, ucap Karin dengan sangat riang. Dia menatap taman bunganya dengan bahagia, lagi-lagi seulas senyum terus menghiasi wajah cantiknya.
"Tinggal bangku-bangkunya mang," ujar Karin pada mang Ujang.
"Dua bangku mamang taroh di sini, dua lagi di sudut sana," Karin memberi intruksi.
"Asiiappp non," ujar mang Ujang lalu memindahkan bangku sesuai instruksi Karin.
"Ihhh si mang Ujang, kayak anak muda aja jawabnya," Karin tertawa geli.
"Kalau gitu, bibik mau bikin minuman dulu non. Mumpung udah ada bangkunya, jadi bisa minum santai di taman bunga non Karin," tawar bik Yati
"Okey tu bik. Karin juga udah haus banget ini," Karin tersenyum.
Bik Yati sudah pergi ke dapur. Mang ujang juga sibuk membereskan sampah-sampah bekas mereka berkebun tadi, sesekali menyapu sisa-sisa tanah dan pupuk yanf berserakan dengan sapu lidi.
__ADS_1
Karin duduk di salah satu bangku sudut, memandangi bunga-bunga cantik yang sudah tertata rapi dan indah menjadi sebuah taman bunga. Karin menghela nafas, menghirup udara pagi yang tampak masih segar. Matanya memandang takjub bunga-bunga yang bermekaran indah. Senyum di wajahnya menunjukkan wajah penuh kepuasan.
Setidaknya saat hatiku merasa sedih, aku bisa duduk di sini menenangkan diri, sambil memandangi taman cantik ini, ujar Karin dalam hatinya.