Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Permintaan Reyhan


__ADS_3

Reyhan baru saja tiba dan memarkirkan mobilnya di halaman. Dilihatnya Karin masih saja tertìdur. Bik Yati dan mang Ujang sudah menghampiri mereka.


"Ssstttt.....," Reyhan menempelkan jarinya di bibir memberi kode agar bik Yati dan mang Ujang tidak berisik.


"Bik belanjaan ini semuanya masuk ke kamar. Itu bungkusan makanan buat bibi dan mamang tuk di bawa pulang, yang bungkusan kecil bibi masuk kulkas aja kalau-kalau nanti pas kebangun Karin masih laper," jelas Reyhan pada bik Yati dengan suara pelan.


"Baik den....," jawab bik Yati.


"Mang mobil tolong dimasukkan ke garasi yah," Reyhan memberikan kunci mobilnya pada mang Ujang.


"Siapp den," jawab mang Ujang lugas.


Lalu Reyhanpun segera membopong Karin menuju kamar. Meletakkan pelan Karin di atas tempat tidur, jangan sampai dia terbangun. Dipandangnya wajah cantik Karin, lalu beralih memandang perut Karin yang sudah mulai terlihat. Reyhan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya, kini dengan leluasa dia bisa memandang raut wajah Karin. Kulitnya yang putih mulus, hidung mancung mungilnya, mata dan bulu mata lentik itu yang paling Rey suka. Dia akan memgerjab indah, bersinar bagai bintang, saat Karin tersenyum atau tertawa.

__ADS_1


Tiba-tiba Reyhan merasa bersalah, ada sedikit penyesalan di hatinya. Sejak mereka menikah, Rey selalu bersikap acuh dan cuek, dia bersikap seolah Karin orang lain, bukanlah istri yang dia nikahi. Rey faham, hati Karin pasti sakit. Tapi dia tetap bertahan, bahkan mengurus dan memperhatikan Rey dengan baik, walaupun dia selalu bersikap keterlaluan.


Apakah sudah saatnya aku berubah. Menerima Karin dan calon anakku. Kasian Karin. Kasian anakku, dia tidak bersalah, tidak tahu masalah orang tuanya, kenapa harus menanggung akibatnya. Saat di kandunganpun, sudah empat bulanan ini, bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang Daddynya, tidak pernah merasakan belaian ayahnya ini, Rey menyesal.


Tiba-tiba saja Rey sudah duduk di samping Karin, dekat ke arah perut Karin. Rey mengusapnya lembut.


"Ini daddy sayang. Maafkan Deddy ya nak, baru bisa melihatmu sekarang, baru bisa mengajakmu bicara sekarang. Terimakasih telah hadir di hidup daddy dan mommy. Terimakasih sayang selalu kuat bertahan bedua mommy," ucap Rey lembut.


Tanpa disadari Rey, Karin sudah terbangun sedari tadi, mendengar semua perkataan Rey dengan haru. Karin ingin mempercayainya dan bahagia. Tapi Karin takut itu semua hanyalah hanyalannya semata.


"Ini daddy sayang, setelah hari ini Daddy janji akan selalu memciummu, saat daddy berangkat kerja, pulang kerja, setiap saat Daddy akan menciummu nak....," ucap Reyhan lagi masih dengan lembutnya.


Karin sudah menangis. Air matanya sudah tidak bisa lagi dibendung. Hari ini kali pertamanya Reyhan mengakui anaknya. Bahkan berjanji untuk bersikap seperti itu untuk seterusnya. Karin semakin terisak. Isakannya di dengar Reyhan, dia langsung menoleh ke arah Karin.

__ADS_1


"Heii....mommy udah bangun tu nak," tegur Reyhan seolah masih berbicara dengan calon anaknya.


Karin berusaha duduk, Reyhan membantunya, kemudian memberikan bantal sebagai sandaran di punggung Karin.


"Heiii....kenapa nangis," ujar Reyhan menghapus air mata Karin.


Karin diam, tampak masih terisak. Dia berusaha menata hatinya. Berbagai perasaan berkecambuk di sana.


Reyhan mendekatkan tubuhnya. Memegang kedua tangan Karin, lalu menatap Karin lembut.


"Maaf kalau selama ini secara tidak langsung aku sudah menyakitimu dan anak kita," Reyhan menatap Karin lagi lembut, membuat Karin jadi kembali terisak.


"Karin, boleh aku mengajukan satu permintaàn padamu," pinta Reyhan.

__ADS_1


Karin masih tergugu, tidak menjawab semua pertanyaan Reyhan.


"Karin, berilah aku satu kesempatan. Kita mulai lagi semuanya dari awal," pinta Reyhan tulus memegang erat kedua tangan Karin.


__ADS_2