Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Awal Perjodohan dimulai


__ADS_3

"Sayang, sudah siap," tanya bunda sudah masuk ke dalam kamar Nayna.


Dilihatnya putrinya itu sudah selesai berdandan cantik. Nayna tampak cantik dengan setelan kulot warna broken white list hitam di leher dan bahu. Dandanan tipispun menghias wajah Nay yang memang sudah cantik.


"Anak bunda sudah cantik ternyata," ujar bunda tersenyum menatap Nayna.


"Ayo sayang, ayah sudah menunggu. Nggak enak kalau terlambat," ajak bunda.



Ayah, bunda dan Naynapun berpamitan pada adik-adiknya.


"Kalian berdua di rumah baik-baik, pintu jangan lupa di kunci," pesan bunda yang diangguki keduanya.


Tidak berapa lama sampailah mereka ke restoran yang dituju, tempat keluarga Rahman, sahabat ayah Nayna mengundang mereka.


Saat baru memasuki restoran, ayah Nayna langsung bisa mengenali sahabatnya itu yang sudah berdiri menyambutnya begitu mereka masuk.


"Budi, apa kabar......," sapa laki-laki itu pada ayah.


"Alhamdulillah, kabarku baik Man," balas ayah.


Lalu keduanya berpelukan layaknya sahabat lama yang sudah lama terpisahkan dan baru berjumpa kembali.


"Ayo.....mari....mari....silahkan,"


Lalu om Rahman dan ayah saling mengemalkan istri-istri mereka. Yang kemudian berpelukan dan berbicara seolah merekapun sahabat karib layaknya ayah dan om Rahman. Tante Hesti, istri om Rahman, sungguh sosok yang cantik dan baik. Mereka berdual benar-benar pasangan yang serasi.


"Oh iya, kenalkan, ini Rizki anakku," ujar om Rahman merujuk pada seorang pemuda yang masih duduk di kursi, sibuk memainkan handponenya, tanpa perduli akan keriuhan yang terjadi barusan.

__ADS_1


"Bang Ki......," panggil tante Hesti setengah berteriak.


Laki-laki itupun dengan enggan menoleh, menghentikan akrifitasnya lalu berdiri.


"Rizki....om....tante.....," ujarnya menyalami ayah dan bunda.


"Oh iya Ki....kenalkan ini anak om dan tante," ujar ayah menunjukku.


"Rizki.....," ujarnya mengulurkan tangan menatapku dingin.


"Nayna.....," aku menjawab dan membalas uluran tangannya.


"Ayo mari....mari....Kita ngobrolnya sambil santap siang saja," ajak om Rahman ramah.


Kemudian ayah dan om Rahmanpun tampak terlibat obrolan seru mereka sembari menunggu pelayan rumah makan menghidangkan pesanan makan siang yang sudah di reserve oleh om Rahman. Bunda dan tante Hestipun tidak ketinggalan ikut nimbrung ngobrol sambil tertawa-tawa bahagia.



Nayna memghela nafas lalu menghembuskannya kasar. Melihat ke arah ayah bunda, om Rahmat dan istrinya, yang masih asyik dengan cerita mereka, tidak terlihat kalau Nayna terdiam sendiri di sini, sementara laki-laki yang katanya hendak menjadi jodohnyanya ini juga dengan kesibukannya sendiri.


Nayna kembali menatapnya. Memang, Nay sendiri mengakui kalau laki-laki di hadapannya ini sangatlah tampan, ketampanan paripurna mirip seorang aktor.


Struktur wajahnya sangatlah sempurna, alis tebal mengapit hidungnya yang mancung, mata besarnya, bibir sedang, yang tidak tebal atau tipis, yang sedikit ditumbuhi kumis-kumis halus itu nyatanya di mata Nay sangatlah sexy. Dan yang paling Nay suka itu adalah tulang rahangnya. Laki-laki dengan tulang rahang keras begitu bagi Nay sangatlah tampan, sangat manly dan macho.


Aisss, kenapa aku malah memuji laki-laki ini, Nay membatin. Lalu mengalihkan pandangannya.


Percuma manly dan tampan kalau dingin begitu, bisik hati Nay kembali. Nay memilih mengambil handponenya, lebih baik bercerita dengan Winda via WA, bisik hatinya kembali.


Saat Nayna asyik berwhatsapp dengan Winda sambil sesekali tersenyum dan tertawa kecil. Tanpa di sadarinya laki-laki yang duduk di hadapannya kini balik menatapnya intens.

__ADS_1


Aku tidak menyangka, kalau daddy menjodohkanku dengan gadis secantik ini. Aku akui, dia teramat cantik. Wajahnya imut sekali, bukan hanya bibir sexynya yang bisa menarik perhatianku, tapi lihat matanya juga indah, hidung mancungnya begitu mungil. Dan lihat lesung pipi saat dia tertawapun membuat kecantikannya menjadi sangatlah sempurna. Dan sepertinya Selenakupun tersingkir oleh kecantikannya.


Shittt.......kenapa aku belum bisa melupakan Selena. Wanita itu seperti mengukungku, walaupun telah mengkhianati cintaku, Rizki mendesah geram.


"Jangan cuma dilihati aja bang Ki. Ajaklah Nay ngobrol," tiba-tiba tante Hesti menyeletuk, yang dengan terpaksa membuat Nay mengangkat wajahnya.


Nayna menatap wajah di hadapannya kembali. Akhirnya mata merekapun bertemu, saling tatap tanpa ada yang berbicara. Nayan melihat laki-laki itu seakan mengalihkan pandangannya, malu akan perkataan tante Hesti barusan.


"Eeehh ini anak, mommy bilang ajak ngobrol, malah liat-liatan aja," ucap tante Hesti kembali, yang membuat semua orang tua jadi tertawa.


"Maklum ya Nay sayang. Mommy harap kamu sabar menghadapi anak tante yang sedingin es balok ini," tante Hesti beralih menatap Nayna


"Mommy.....," ucap Nay dan Rizki berbarengan, lalu kembali saling tatap.


"Tuh apa mommy bilang, bicara aja berbarengan. Itu tandanya kalian memang jodoh," ujar tante Hesti menatap suaminya, bergantian menatap bunda dan ayah seakan minta persetujuan akan perkataannya. Kemudian keempat orang tua itu tampak tersenyum.


"Nay itu calon menantu mommy. Jadi harus panggil mommy juga sama kayak bang Ki," jelas tante Hesti kembali.


Nayna hanya tersenyum dan menunduk malu mendengarkannya. Entah bagaimana laki-laki di hadapannya, Nay tidak lagi berniat menatapnya.


"Dulu bang Ki ini cuma sedingin air es di kulkas. Gara-gara mantan tunangannya itulah sekarang dia berubah menjadi sedingin es balok," ujar tante Hesty kembali.


"Ayolahhh momm.....," ujar Rizki tidak suka.


"Sudah....sudah, nanti kita teruskan kembali. Mari kita santap siang dahulu, nanti keburu dingin," akhirnya om Rahman menengahi.


Dan siang itu Nayna bersama kedua orang tuanya santap siang bersama dengan suasana yang benar-benar seperti sudah menjadi sebuah keluarga.


Walaupun laki-laki di hadapannya itu masih tetap menjadi es balok.

__ADS_1


__ADS_2