Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Malam Pertama Bagi Karin


__ADS_3

Acara resepsi telah selesai. Karin sudah ikut kembali ke rumah Reyhan. Karena Reyhan memang biasa tinggal sendiri, rumahnya hanya punya satu kamar dan satu kamar tamu.


Ibu Reyhan diajak kakaknya menginap di rumahnya, semua kakaknyapun memilih kembali ke rumah mereka masing-masing. Dengan beralasan tidak mau mengganggu pengantin baru. Dan Karinpun juga sudah berpamitan pada orang tua dan keluarganya. Seterusnya sebagai seorang istri, dia akan memgikuti di manapun suaminya berada.


"Masuklah ke kamar, saya akan membawakan tasmu masuk nanti," ujar Rey menunjukkan kamarnya pada Karin.


Karin mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar Reyhan. Dia memandang sekilas kamar laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Kamar dengan


nuansa abu itu sangatlah rapi dan teratur. Walaupun aroma laki-lakinya sangat kentara, tapi semua barang dan perlengkapan tampak tertata apik dan rapi. Benar-benar mengungkapkan kepribadian asli sang pemilik kamar, batin Karin akhirnya.


Dengan susah payah dia sudah membuka pakaian pengantinnya, badannya terasa lengket, dia menuju kamar mandi. Setelah hampir setengah jam berada dalam kamar mandi, Karin menyelesaikan ritual mandinya.


Perlahan Karin membuka pintu kamar mandi, dilihatnya kopernya sudah berada di dalam kamar. Ternyata Reyhan sudah membawakan tasnya, ke mana Reyhan, pikir Karin.


Dia bergegas mencari pakaiannya di dalam koper, lalu memakai pakaiannya.

__ADS_1


Cekrek. Terdengar pintu kamar di buka dari luar. Reyhan masuk kedalam, mengambil baju di dalam lemari kamarnya, segera masuk ke kamar mandi. Karin hanya menatapnya saja tanpa berani bicara.


Tidak berapa lama Reyhan sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian santai. Celana pendek Navy dan Kaos oblong body fit warna biru laut. Penampilannya semakin manis, membuat Karin tertegun makin terpesona saja.


"Besok aku akan memindahkan barang-barang dan pakaianku ke kamar tamu, setelah itu kau bisa menyusun semua pakaian dan perlengkapanmu di dalam lemari," ujar Reyhan.


Alis Karin berkerut, memindahkan, apa dia bermaksud tidak akan tidur sekamar denganku, tanya Karin dalam hati.


"Malam ini aku tidur di kamar ini bersamamu, karena aku capek sekali. Besok pagi baru kita pindahkan dan atur semuanya." ujar Rey kembali.


"Mak...maksud...maksudmu kita tidak akan tinggal satu kamar," tanya Karin ragu dengan tergagap.


"Kau tinggal saja du kamarku, biar aku tidur di kamar tamu. Kita akan memindahkan semuanya besok," ujar Reyhan tegas tanpa andeng-andeng.


"Tapi.....kita kan sudah menikah Rey," tanya Karin dengan sangat lemàh hampir tidak terdengar

__ADS_1


"Jangan memaksa. Aku masih butuh waktu, kau sendiri tahu itu," ujar Rey menatap tajàm Karin.


Di tatap begitu tajam, Karin jadi melemah.


Ahhh, bagaimana mungkin aku bisa lupa. Kalau Reyhan tidak pernah mencintaiku. Kalau dia mencintaiku juga karena terpaksa. Andai tidak ada bayi dalam perutku ini, mungkin dia tidak akan menikahiku, bagaimana bisa aku mrlupakan hal itu, keluh Karin sedih.


Reyhan sudah naik ke atas tempat tidur, dia memilih ujung tempat tidur di sebelah kanan, sebuah guling telah diletakkannya di tengah-tengah, seakan dia memang membuat pembatas antara dirinya dan Karin.


Karin menatap Reyhan, laki-laki yang sangat di cintainya tulus dari dalam hatinya itu. Karin tahu ini adalah salahnya, Karin menerima semua konsekuensi yang harus dia terima dengan lapang dada. Bagaimanapun Karin sadar, bahwa Rey memang tidak pernah mengnginginkan pernikahan ini. Toh rencana indah pernikahan yang diidamkan dan dirancangnya itu adalah bersama Nayna, bukan dirinya. Dalam hati Karin sadar, dari sikap Rey, Karin yakin laki-laki itu pasti berfikir Karin yang menjebaknya. Sengaja membuatnya mabuk dan melakukan hal biadap itu agar dia bisa hamil, dan mempunyai alasan untuk menjerat dirinya, gumam Karin lagi.


Karin menghela nafasnya dalam. Lalu naik ke atas tempat tidur, dia tidur di posisi sebelah kiri, terpisah guling yang telah diletakkan Rey di tengah-tengah mereka. Dia menoleh ke kanan, menatap punggung Reyhan yang telah membelakanginya. Bahkan untuk menatapkupun dia tidak sudi, Karin sangat sedih.


Maafkan bunda ya sayang, maafkan ayahmu, dia hanya belum menyadari keberadaanmu saja, Karin mengelus lembut perutnya yang masih datar.


Karin memejamkan matanya. Ini adalah malam pertamaku, entah bagaimana malam-malam selanjutnya, bisik hati Karin dalam tangis, air matanya sudah lewat mengalir lembut di wajahnya.

__ADS_1


Sementara Reyhan sudah berusaha memejamkan matanya. Maafkan aku Karin, aku belum bisa, ucapnya dengan hembusan nafas kasar.


__ADS_2