Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Aku Milikmu


__ADS_3

Rey sudah mengecup kilas bibir mungil milik Nayna dengan sangat lembut seakan takut menyakitinya. Ini ciuman pertamanya pada gadis yang sangat di cintainya itu. Lepas dari cewek lain yang tiba-tiba nyosor sendiri ke bibirnya.


Bibir Nay begitu manis dan lembut, Rey baru tahu jika kecupan saja bisa memabukkan begini rasanya. Tapì apa begini rasanya mabuk, dirinya saja tak pernah menyentuh minuman haram itu.


Atau begini yang sering di sebut orang candu. Kenikmatannya seakan ingin terus di rasakan Rey tanpa henti.


Rey menatap wajah Nayna lagi. Gadis ini benar-benar telah membuatku jadi begini jatuh bangunnya mencintai. Aku tak pernah memandang gadis lain semanis dirinya. Bagaimana bisa cinta gadis ini menutup hati bahkan mataku, gumam Rey kembali.


Rey kembali mendekatkan wajahnya. Biarlah kurasakan candu ini sekali lagi saja, ucap hatinya.


Saat hidung mancungnya sudah menempel. Rey kembali mencium bibir Nayna, begitu lembutnya. Rey ingin Nayna merasakan cinta dalam ciuman lembutnya. Kali ini dia mencium cukup lama, menikmati kelembutan dan rasa manisnya.


Rey menatap Nayna, gadis itu tampak memejamkan matanya, menikmati saja tiap sentuhan lembut bibirnya. Melihatnya begitu, Rey menarik tengkuk Nayna untuk semakin memperdalam ciumannya, cukup lama dan penuh kelembutan.


Lalu perlahan Rey melepaskan ciumannya. Biarlah candu ini akan selalu membuatnya jadi candu dan penasaran, tanpa berniat melahapnya habis.


Dilihatnya Nayna masih memejamkan matanya, dia tampak menggigit bibir bawahnya tampak malu, kemudian membuka matanya perlahan.


Rey kabali mendaratkan ciumannya, kali ini di kening Nayna.

__ADS_1


"Terimakasih. Nanti saat waktunya tiba, aku akan menikmati candu bibirmu tanpa pernah melepaskannya," bisik Rey lembut di telinga Nayna.


Bukan saja ucapan Rey di telinganya yang membuat wajahnya menjadi semerah tomat. Tapi hembusan panas nafas Rey yang dirasakan menyentuh lehernya, semakin membuat darah Nayna berdesir.


Setelah cukup lama saling tatap, dihiasi senyum bahagia, dan bergumpul dengan jalan fikiran masing-masing. Nayna memutuskan mengatakan sejujurnya pada Rey.


"Rey....," panggil Nay masih menatapanya


"Hmmmm," sahut Rey yang juga masih menatap Nayna.


"Maaf.....Maaf jika selama ini aku sudah diam-diam bertemu dan berkonsultasi dengan dokter yang selama ini merawatmu," ucap Nayna pelan dan ragu.


"Aku mohon, mulai saat ini berhentilah mengkonsumsi pil penenang dan obat anti depresi itu. Dokter Donny mengatakan obat-obat itu tidak baik jika digunakan dalam jangka panjang," Nay berhenti sebentar mengambil nafas.


"Lebih baik konsentrasi saja dengan terapi, Rey. Aku berjanji akan selalu menemanimu terapi menemui dr Donny. Aku janji, Rey. Mulai detik ini aku akan selalu di sampingmu, terus di sisimu dalam keadaan apapun. Berusaha untuk sehat Rey. Bukan saja demi dirimu sendiri, tapi demi cintamu padaku," mohon Nayna.


Dan Rey masih tidak menunjukkan respon apapun. Dia menatap Nayna tanpa bergeming sedikitpun. Suasana tiba-tiba saja menjadi sunyi. Nay menundukkan wajahnya, dia mulai takut, jika Rey kembali terbawa emosi dalam amarah.


"Aku sudah mengetahuinya Nay," Rey akhirnya bersuara.

__ADS_1


"Awalnya aku marah. Aku takut kau akan pergi dan meninggalkanku kembali setelah mengetahui semua kebenarannya. Tapi untunglah, dr Donny berhasil menyakinkanku dengan niat hatimu yang sesungguhnya.," jelas Rey kembali


"Terimakasih Nay. Terimakasih mau menerimaku apa adanya. Terimakasih untuk tidak memilih pergi dengan sikap kasar dan amarahku akhir-akhir ini," ucap Rey tulus dengan sendu.


Nayna tidak dapat menahannya lagi, air matanya sudah sedari tàdi tumpah. Dipeluknya Rey erat, sangat erat.


"Aku akan selalu di sampingmu sayang. Aku janji akan mengganti semua luka dan rasa kecewamu selama ini dengan kebahagian. Aku milikmu sayang," ucap Nayna sangat yakin dengan masih memeluk Rey.


Rey tampak terkesiap. Rasanya dia tidak mempercayai pendengarannya. Nayna, gadis yang selalu dikejar hatinya itu, memanggilnya sayang.


"Benarkah yang kudengar," tanya Rey memandang Nayna, melepaskan pelukan gadis itu.


Nay menganggukkan kepalanya dengan memasang senyum termanis.


"Kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu honey," tnaya Rey kembali.


Nay tidak membalasnya. Dia hanya mendekatkan wajahnya, lalu memcium bibir Rey. Nay makin memperdalam ciumannya saat dirasanya Rey masih terkejut tanpa reaksi.


"Aku memberimu bonus candumu kali ini," bisik Nayna di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2