
Nayna terbangun, menggeliat meregangkan otot-ototnya. Walaupun sudah tertidur saja mengistirahatkan tubuhnya, Nayna tetap merasakan capek pada seluruh tubuhnya. Seakan sehabis bekerja keras menjadi kuli bangunan saja. Nayna tidak ingin bangun sebenarnya, tetapi suara cacing-cacing di perutnya tidak mau diajak kompromi.
Nayna menatap lembut laki-laki yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Senyum Nayna mengembang, menatap laki-laki tampan, pak dokter dingin yang notabene suaminya itu sekarang. Nayna kembali tersenyum mengingat pertemuan awal keduanya. Bagaimana awal mulanya ketika kedua orang tua Nayna dan orang tua Rizki memperkenalkan, untuk menjodohkan mereka.
Nayna hanya pasrah. Menyerahkan perasaannya pada laki-laki pilihan orang tuanya. Kegagalan demi kegagalan hubungan yang telah dijalani Nayna. Kekecewaan dan bahkan beberapa kejadian buruk yang mewarnai kehidupannya. Membuat Nayna mengambil keputusan untuk menerima perjodohan orang tunya. Nayna tidak perduli lagi, siapa laki-laki, apa dan bagaimana laki-laki pilihan orang tuanya itu. Nayna akan menerima konsekuensi apapun dari hibungannya kelak. Nayna akan pasrah dan menerima bagaimana nanti akhirnya hubungan perjodohan ini akan membawanya.
Laki-laki angkuh super dingin. Laki-laki yang selalu Nayna juluki es balok karena sikap angkuh, dingin dan sombongnya itu. Kini laki-laki yang sama itu adalah laki-laki yang telah merebut hatinya. Adalah laki-laki yang pada akhirnya Nayna jatuhkan pilihan, laki-laki inilah yang akan bersama Nayna mengarungi bahtera sebuah perjalanan panjang bahkan belum segera dimulai.
Sekali lagi Nayna tersenyum. Menatap lekat wajah tampan Rizki yang masih tertidur pulas. Nayna merasa masih seperti sedang bermimpi. Nayna seakan belum sepenuhnya mempercayai bila kini akhirnya diapun bahagia. Pada akhirnya kini Nayna bisa bersama laki-laki yang mencintainya. Laki-laki yang tidak sama sekali Nayna fikirkan akan begitu dicintainya. Yahhh, Rizki sudah menghapus kisah cinta pertamanya, yang Nayna sendiri bayangkan, tidak akan mungkin bisa dilupakannya. Kini semua ingatan masa lalu itu sudah benar-benar terganti dengan kisah baru. Nayna sudah merasakan cinta itu berbeda ketìka memutuskan memilih Rizki.
Terimakasih sayang. Terima kasih mencintaiku. Terima kasih akhirnya membuatku kembali merasakan indahnya jatuh cinta, walaupun meski dilalui dengan berbagai rintangan juga hambatan akan perasaan cinta itu sendiri. Terima kasih membuatku percaya bahwa ternyata Allah telah menggantikan cinta lain yang memang akan indah pada akhirmya. Terima kasih untuk membuatku percaya, bahwa aku juga pasti bahagia, ucap Nayna dalam hatinya, setitik kristal bening sudah hampir jatuh dari sudut netra coklat Nayna. Nayna mengusapnya perlahan. Bulir bening kebahagian itu sudah benar-bebar luruh. Nayna menangis dalam kebahagian.
Nayna menetralkan hatinya yang seakan menjadi sangat mellow. Perlahan turun dari pembaringan menuju jendela kaca kamar hotel. Menyibak gorden kamar dan membiarkan matahari yang sudah mulai meninggi itu menerobos masuk ke dalam kamar mereka. Entah apa yang sekarang di ada dalam fikiran Nayna. Matanya menatap jauh ke luar jendela, dengan satu tangan menyentuh pipinya sendiri dengan tersenyum. Nayna masih menggunakan baju tidur tipis satu jarinya. Bagian belakang baju tidur itu memperlihatkan punggung mulus milik Nay. Sememtara bagian depan baju berenda dengan belahan rendah membuat kedua bukit kembar mulus putih itupun menyembul dengan indah.
Nay masih setia berdiri di sana, hingga sebuah tangan yang memeluknya dari belakang membuyarkan semua lamunan Nayna.
Nayna tersenyum, tangan kokoh milik siapa lagi yang kini memeluk erat perutnya jika bukan suaminya tercinta, sang dokter tampan.
Rizki meletakkan kepalanya di curuk leher Nayna, menghirup dalam-dalam aroma wangi sang istri. Kemudian menyusuri punggung kembali ke curuk leher Nayna. Memberikan kecupan-kecupan kecil yang membuat Nayna kembali meremang.
Ahhh....tidak ada capeknya, kenapa dia bisa seperkasa ini, sementara tubuhnya sendiri sudah sangat lelah, batin Nayna.
"Sayang, apakah kau tidak lelah?" tanya Nayna dengan mendesah.
Karena kini bukan hanya menciumi curuk leher Nayna. Tangan Rizki bahkan sudah membelai lembut kedua bukit kembar yang kini menjadi favoritnya itu.
__ADS_1
"Sayang, aku lapar.....," ucap Nayna di sela-sela kegiatan suaminya yang tidak pernah lelah menjamah setiap jengkal tubuhnya itu.
Rizki menatap cahaya matahari yang sudah mulai meninggi. Pantas saja Nay merasa lapar, bahkan perut Rizki sendiripun sudah mulai bernyanyi.
"Baiklah sayang. Akan kupesankan makan siang kita di resepsionist hotel agar mengantarkannya ke kamar," jawab Rizki tidak menghentikan semua aktifitasnya menggerayangi tubuh istri cantiknya itu.
"Tapi sebelumnya biarkan aku menyapa si kembar sebentar....," ujar Rizki kembali membalikkan tubuh Nayna menghadap padanya.
Dan bisa dipastikan makan siang Nayna tertunda, karena saat ini dirinyalah yang menjadi santapan siangnya.
Nayna tidak habis fikir, ternyata Rizki jadi semesum ini setelah menikah. Seakan tidak ada capeknya, dan tidak pernah puasnya. Rizki baru mengaakhiri pergulatan panas mereka ketika Nayna sudah tertidur kembali karena kelelahan. Nayna benar-benar mengeluhkan betapa perkasanya suaminya ini.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Karena kesibukan Author✌
Author akan berusaha untuk selalu bisa up per harinya🙏🏻✌
Ikuti terus up selanjutnya yah cintahh🙏🏻✌🤗😘
Karena Author juga meski membagi untuk up novel Author yang satu lg.
Novel "Mengejar Cinta Ustad" yang saat ini mengikuti Kontes Menulis Novel "You Are A Writer S4"
Mohon baca dan dukungannya juga🙏🏻🤩😍
__ADS_1
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Rate 5
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
__ADS_1
Vote, Like, Favorit, Coment & Rate 5