Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Sekuel 2_Nayla & Bang Rendi


__ADS_3

Rendi sudah di balik kemudi mobilnya menunggu Nayla. Gadis itu sedang berpamitan dengan mami. Setelah Nayla masuk ke mobil di samping kiri Rendi yang mengemudi. Rendipun mulai melajukan mobilnya secara perlahan membelah jalanan.


Tidak ada percakapan diantara keduanya. Suasana menjadi begitu hening. Hingga akhirnya Nayla tidak tahan dan memulai bicara.


"Bang, Ay boleh bicara?" tanya Nayla memulai.


Rendi menatap Ay sekilas, tidak menyahut memberikan jawaban, lalu kembali fokus menyetir.


"Bang Rendi udah dewasa, masuk umur bahkan. Abang itu udah pernah menikah dan seorang duda," ujar Nayna.


Rendi kembali melirik Nayla, mengerutkan alisnya menatap bingung.


"Abang itu pasti sudah sangat faham dan mengerti atas semua sikap dan perhatian yang Ay berikan pada abang," ujar Nayla menjelaskan semua kembali agar Rendi memahami maksud dari perkataannya tadi.


"Meskipun tanggapan abang selama ini pada Ay sangatlah dingin dan terkesan cuek. Ay masih bisa memaklumi semuanya bang," ujar Nayla kembali.


Setelah mendengar semua penjelasan Nayla. Rendi masih tetap acuh. Entahlah, laki-laki itu memang benar-benar belum move on dari masa lalunya. Atau hanya egonya saja yang membuat laki-laki itu bersikap makin cuek dan dingin. Rendi bahkan merubah kehangatannya menjadi kebekuan kini.


"Ay tahu abang hanya menganggap Ay sebagai adik dari seorang mbak Nay, gadis yang sangat abang cintai dulu," ujar Ay kembali bicara setelah menarik nafas dalam.


"Tapi itu dulu bang. Mbak Nay sekarang sudah bersama bang Ki. Mereka sangat bahagia dan saling mencintai," Ay menekan kata sangat bahagia dan saling mencintai pada nada suaranya.


Rendi melihat sekeliling dari kaca spionnya, jalanan sekitar tampak langgeng. Karena mobil Rendi sudah memasuki kawasan rumah Nayla. Rendi segera menghentikan mobilnya. Kemudian memutar tubuhnya menatap pada Nayla.


"Oke. Abang beri kesempatan untuk kamu bisa membuat abang jatuh cinta kembali. Jika dalam waktu tiga bulan, abang tidak juga mencintaimu. Maka berjanjilah untuk berhenti terus berada di sisi abang," ujar Rendi serius dengan penuh penekanan menatap tajam mata Nayla.


Nayla terkesiap. Tidak menyangka jika Rendi akan berucap demikian. Mata Nayla sudah berkaca-kaca menahan tangisnya. Bang Rendi memberikan kesempatan atau memang membuangnya secara halus. Mencoba membuat Nayla menjauh dari sisinya, tapi tidak secara langsung.


Nayla memejamkan matanya. Menahan bulir bening itu agar tidak jatuh. Nayla menguatkan diri, jangan sampai terlihat lemah di hadapan Rendi. Nayla sangat pantang untuk diprovokasi. Hal itu malah akan membuatnya semakin ingin membuktikan diri. Nayla memang duplikat Nayna dalam sikap dan tutur kata. Tapi mereka dua orang yang berbeda. Nayla merupakan sosok yang lebih berani dan kuat.


"Baik, Ay setuju. Ay akan buktikan kalau Ay bisa membuat bang Rendi jatuh cinta pada Ay," jawab Nayla dingin dengan sorot mata tak kalah tajamnya, wajahnya memerah menatap Rendi.


"Baik, kita buktikan. Abang yang akan bertekuk lutut atau kamu akan segera tersingkir dari sisi abang," jawab Rendi dengan kejam.


Rendi dengan sengaja mengatakannya. Bukan untuk menyakiti Nayla, tapi dengan sengaja membuat gadis itu menyerah. Rendi tidak tahu, apa yang membuatnya tidak ingin bersama gadis itu. Bukan karena Nayla adiknya Nayna. Tapi entahlah, Rendi sendiri bingung, alasan apa yang makin mengeraskan hatinya.


"Ay akan buktikan. Bahwa Ay bisa membuat abang jatuh cinta. Abang lihat aja," ujar Nayla kembali dengan kesadaran penuh.


Hatinya makin mengeras. Pernyataan Rendi barusan membuat hati Nayla seperti tersayat. Antara perasaan tertantang dan terluka. Perpaduan perasaan itu kini berpendar syahdu dalam hatinya.


Bagaimana tidak terluka. Ucapan bang Rendi bukan ucapan biasa. Ucapan itu mempunyai arti yang dalam. Bang Rendi sengaja mengatakan hal tersebut pada Nayla. Dan Nayla yakin tujuananya agar Nayla menyerah dan berubah fikiran. Nayla tahu bang Rendi ingin menyingkirkan kehadirannya secara halus. Karena bang Rendi yakin, dalam waktu yang tiga bulan itu tidak akan mungkin dirinya mampu membuat bang Rendi bisa mencintainya. Dan Nayla sungguh terluka karenanya.


"Baik kita lihat saja. Abang akan membuktikan keyakinanmu itu," tantang Rendi pada Nayla.


"Tapi dengan syarat bang," ujar Nayla.

__ADS_1


"Syarat apa yang kamu maksudkan?" tanya Rendi memicingkan matanya heran.


"Karena abang sudah memberikan syarat pada Ay, dalam waktu tiga bulan Ay harus bisa membuat abang jatuh cinta. Dan Ay juga punya syarat untuk abang," jawab Nayla.


"Syarat bagaimana yang kamu maksudkan?" tanya Rendi kembali serius.


Nayla kembali menatap netra coklat teduh milik Rendi itu. Netra yang selalu bisa menenggelamkan Nayla di dalam keteduhannya itu, kini terlihat tajam.


"Abang harus mau membuka diri. Menganggap Ay sebagai seorang wanita yang mencintai abang. Karena akan percuma Ay berusaha jika abang selalu menutup diri," jawab Nayla lantang.


Rendi terdiam. Menatap Nayla kembali.


"Kenapa diam. Abang takut. Abang takut jika akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Ay?" cibir Nayla pada Rendi.


"Baik, mulai besok kita adalah pasangan kekasih. Abang akan lihat, bagaimana akhirnya kamu bisa membawa perasaan itu ke dalam hati abang," Rendi membalas tantangan Nayla.


Kedua netra mereka saling menatap. Dibalut perasaan yang tercipta dari hati masing-masing. Rasa yang berpedar mengikuti perasaan yang kini tengah memenuhi relung hati.


Rendi memutus lebih dulu kontak mata antara keduanya. Nayla memilih tetap diam, ikut berpaling menatap arah luar kaca mobil. Rendi sudah melajukan mobilnya kembali mengatarkan Nayla.


Tidak berapa lama mobil yang dikemudikan Rendi sudah memasuki pekarangan rumah yang sudah sangat dikenal Rendi itu. Setelah memarkirkan mobilnya. Rendi turun dan mengikuti langkah Nayla masuk ke dalam rumah.


"Mari kita mulai semuanya malam ini bang," ujar Nayla berbisik memeluk lengan Rendi.


"Bunda, ada bang Rendi....," ujar Nayla pada sang bunda yang sudah keluar dari kamar saat putrinya itu mengatakan kehadiran Rendi.


"Apa kabar bunda?" Rendi menyalami dan mencium punnggung tangan bunda.


"Alhamdulillah, bunda sehat. Bagaimama kabar mamimu?" jawab bunda.


"Alhamdulillah kalau sehat bun. Mami juga alhamdulillah sehat," ujar Rendi membalas pernyataan bunda.


"Ayo duduk dulu Ren," ajak bunda.


"Terima kasih bun. Abang nganter Ay aja. Karena sudah malam juga, Rendi permisi ya bun," ujar Rendi berpamitan dan kembali mencium punggung tangan bunda.


"Oohh ya udah kalau gitu. Makasih ya Ren, udah repot-repot nganterin Ay pulang," balas bunda kembali.


"Rendi pamit bun. Assalamualaikum,"


"Walaikimsalam. Salam buat mami ya Ren,"


"Baik bun....,'


Rendi melangkah ke teras yang di ikuti oleh Nayla.

__ADS_1


"Abang pamit Ay. Assalamualaikum," sapa Rendi melunak.


Rendi mengubah sikapnya pada Nayla, karena sepakat tidak menutup diri, dan membuka hati dengan memberikan kesempatan Nayla berusaha untuk merebut hatinya.


"Walaikumsalam. Hati-hati bang Ren," jawab Nayla tersenyum tulus.


Nayla masih di teras hingga mobil Rendi sudah berlalu dan tidak terlihat. Hati Nayla sedikit lega, setidaknya sikap Rendi yang membuka diri untuk memberinya kesempatan. Dan Nayla berjanji dalam hati, akan membuat bang Rendi jatuh cinta kepadanya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Aku bisa membuatmu


Jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta....kepadaku


Beri sedikit waktu


Agar cinta datang karena terbiasa


(Risalah Hati_Dewa 19)


Maaf baru update🙏🏻🙏🏻


Karena Author punya kesibukan di dunia nyata🙏🏻😢😢


Disamping juga mesti update Novel satunya lg👌👍🏻✌


Jangan lupa yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻


Dukungan Vote, Like, Fav & Coment🙏🏻🙏🏻🙏🏻


New Novelnya Author


Dukungan Vote, Favorit, Like & Coment🙏🏻


👇




Baca juga novel Author lainnya☝️


Baca juga kisah cinta dalam diamnya Rania mengejar sang ustad di Novel "Mengejar Cinta Ustad"🙏🏻

__ADS_1


Dukungan👉🏽Vote, Fav Like & Comentnya juga yahh reader tercintahhh✌


Author kasih double kiss deh😗😙😚


__ADS_2