
Sudah berjalan hampir tiga bulan. Nayla menjadi tangan kanan tante Ratih sekaligus asiaten pribadi Rendi. Setelah Nayla menunjukkan swmua kesalahan dan kelemahan dari sistem management Rendi. Nayla juga memberikan pendapat juga masukan membangun yang mulai dilaksanakan Rendi untuk usaha dan perusahannya.
Rendi malah semakin tidak ingin melepaskan Nayla. Seperti si mami, Rendipun menginginkan Nayla yang berada di sampingnya.
Naylapun tidak bisa menolaknya, tante Ratih sendiri yang terus memohon padanya.
"Bantulah bang Rendimu Ay. Cuma kamu yang tante percaya, bahkan Rendipun sudah mempercayaimu," bujuk tante Ratih kembali.
Dan kemudian senyum kebahagiaan terpancar di wajah cantiknya saat Naypa akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran bang Rendi. Yah....Nayla akan mencoba menjalani keduanya.
"Terserah Ay bagaimana mengaturnya, cara atau jam kerjanya. Yang baiknya saja, tante dan bang Rendi ikut saja," jelas tante Ratih kembali.
Dan di sinilah Nayla. Di ruang kerjanya di kantor bang Rendi. Nayla memutskan memusatkan semua pekerjaannya di kantor ini. Menjadikan satu tempat dalam satu ruangan untuk dua pekerjaan di dua perusahaan milik tante Ratih dan bang Rendi sekaligus.
Tapi Nayla tetap akan datang ke kantor tante Ratih dua kali dalam seminggu. Hanya untuk memberikan laporan, meriview laporannya, atau membahas masalah-masalah yang ada. Semua job, kerja, karyawan ataupun laba perusahaan sudah terprogram semua dalam laporannya setiap hari.
Ini jadi lebih mempermudah Nayla, ketimbang seperti sebelumnya dia harus bolak balik seperti setrikaan dari kantor tante Ratih menuju kantor bang Rendi, ataupun sebaliknya.
Dan hampir tiga bulan pula Nayla menunjukkan perasaannya pada Rendi. Meski sebagai perempuan Nayla tidak pernah terang-terangan mengungkapkan cintanya. Tapi Nayla selalu memberi perhatian lebih pada Rendi. Walaupun ujung-ujungnya perhatian itu hanyalah angin lalu bagi Rendi. Laki-laki itu sama sekali tidak pernah membalas perasaannya.
"Bang, Ay kemarin bikin kue. Ay sengaja bawa buat abang," ujar Nayla sumringah.
Meletakkan toples kecil berisi kue brownies di meja kerja Rendi.
__ADS_1
"Hmmm....Makasih," jawab Rendi cuek.
Nayla tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan sikap cuek dan dingin milik Rendi.
Walaupun sebenarnya hatinya terasa sangat sakit. Perhatian yang selalu ditunjukkannya pada Rendi tidak pernah mendapatkan respon. Laki-laki itu malah semakin dingin saja. Mungkin hanya karena tante Ratih saja, sikap bang Rendi nggak keterlaluan. Karena Nayla sangat yakin, jika bukan karena tante Ratih, bang Rendi mungkin sudah ketus dan terus terang agar tidak berusaha mendekatinya. Karena Ay pernah tidak sengaja mendengar sendiri, saat bang Rendi memaki di telephonenya.
"Darimana kamu dapet nomorku. Dengar yah, aku tidak ada perasaan apapun padamu. Dan meskipun kamu berusaha keras, kamu tidak akan bisa masuk ke dalam hidupku. Apalagi mencoba masuk dalam hatiku. Hentikan semua ini, sebelum aku murka," teriak bang Rendi kala itu. Dan bukan sekali itu saja. Nayla sudah sering mendengar Rendi teriak dan memaki di telephone.
Nayla terdiam. Ternyata banyak wanita yang tergila-gila dengan laki-laki ketus dan dingin itu. Dan sialnya, aku termasuk salah satunya.
Kalau bukan karena tante Ratih, kemungkinan bang Rendi juga akan sekasar itu padaku, gumam Nayla.
Atau karena aku adiknya mbak Nay, bang Rendi masih bertoleransi, gumam Nayla kembali.
"Atau aku tanya mbak Nay saja gimana bang Rendi itu. Mbak Nay pasti lebih tahu mengingat hubungan mereka dahulu, kembali Nayla mengggumam.
"Tapi bagaimana cara aku mengatakannya pada Nay, aku sangat malu. Tidak mungkin aku terus terang padanya kalau aku mencintai mantan kekasihnya itu, bisik hati Nayla kembali.
Sementara di sudut sana, ada sepasang mata yang memperhatikannya diam-diam dari kejauhan. Menyaksikan bagaimana gadis cantik di sudut sana, dengan seriusnya tengah bekerja. Memperhatikan gadis cantik yang sudah berapa bulan ini juga terus memberikan perhatiannya.
Yah....Rendi bukannya tidak tahu. Rendi mengerti, bahkan sangat mengerti bahwa perhatian yang Nayla berikan padanya bukanlah perhatian yang biasa. Bukan perhatian antara atasan dan bawahan saja. Meskipun keduanya tidak bertemu setiap hari, karena Rendi hanya datang ke kantornya satu minggu sekali, jika tengah libur dari profesi sebenarnya sebagai seorang anggota kepolisian. Tapi Rendi sangatlah faham perhatian dan kedekatan yang Nayla tunjukkan padanya itu.
Rendi sendiri bukannya ingin bersikap dingin dan ketus pada Nayla. Rendi juga kadang merasa tidak enak hati pada gadis itu. Berapa bulan ini, bagaimana dingin dan kerasnyapun Rendi bersikap, tidak membuat Nayla merubah perhatiannya sedikitpun. Rendi sebenarnya hanya belum siap untuk kembali membuka hubungan baru. Atau memang belum move on pada cinta pertamanya itu. Entahlah, hanya waktu nanti yang akan mampu menjawabnya.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
UUhhhh bang Rendi belum move on toh😱😱😱
Geber terus Ay, toh cinta akan datang sendiri karena terbiasa.....eaaaaa🤭😁😜
Mohon maaf karena lg sakit 😢
Baru update kembali🙏🏻😢
Jangan lupa dong Vote & Likenya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah cinta dalam diamnya Rania mengejar sang ustad🙏🏻
Kisahnya nggak kalah serunya sama kisah Nayna & Nayla👌🙏🏻
Vote & Like juga yahh reader tercintahhh✌
Author kasih double kiss deh😗😙😚
__ADS_1