
Nayla sudah bersiap rapi dan berjalan menuju meja makan. Bunda, mbak Nay dan bang Ki, juga Keyla adiknya sudah menunggunya di meja makan.
"Pagi......," sapa Ay yang tidak enak karena sedikit telat pagi ini.
"Pagi sayang, ayo cepat sarapan," sahut bunda tersenyum.
"Baik bunda," jawab Nayla mulai memakan sarapannya.
Sementara keluarga yang lain sudah memulainya sedari Nayla masih di kamar tadi.
"Semangat sekali Ay," sindir Nayna ketika adiknya itu telah menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru.
"Ay takut telat mbak. Karena saat awal bulan kayak gini, Ay akan meeting bulanan sama tante Ratih dan juga bang Ren," jawab Nayla lugas.
"Bunda rasa bukan itu aja deh alasannya," ejek bunda pada putri keduanya itu.
"Iihhh bunda Ay sebel deh. Udah cerita-cerita ke mbak Nay, sekarang malah ngeledikin Ay lg," sungut Nayla yang membuat bundanya dan Nayna tersenyum-senyum.
"Mbak Ay jatuh cinta yah?" tanya Kayla si bungsu polos.
Pertanyaan Keyla justru membuat Nayla makin bersungut mencebikkan bibirnya.
"Husstt.....anak kecil nggak boleh ikut-ikutan," Nayla melotot sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri agar Keyla tidak lagi bicara.
Maka makin meledaklah akhirnya tawa Nayna dan bunda. Betapa lucunya wajah Nayla saat ini di mata bunda dan mbaknya.
Sementara Keyla ikut bersungut kesal karena di pelototi dan dikatakan untuk tidak ikut campur.
"Sayang, ayo berangkat. Nggak usah bawa mobil, ntar aku droup sekalian, pulang aku jemput," ujar Rizki pada istrinya.
Menghentikan begitu saja suara yang tengah tertawa lucu.
"Sayang aku pergi sendiri aja. Karena sore janjian sama Ay mau ke rumah tante Ratih. Boleh yah sayang?" ujar Nayna menatap Rizki mencoba merayu.
"Tadi malam kau tidak mengatakan apapun padaku sayang?" tanya Rizki yang sudah pada on mode dinginnya kembali.
"Aku lupa sayang, maaf yah. Mangkanya sekarang mau minta izin," Nayna menampakkan senyum paling manisnya pada Rizki.
Berharap dokter tampan suaminya itu mau mengerti. Tidak menunjukkan rasa cemburu butanya itu di hadapan bunda dan adik-adiknya.
Huffft.....Rizki memdesah kasar. Namun Rizki juga tidak mau menunjukkan amarahnya di depan bunda mertua. Apalagi bicara ketus pada istrinya itu di depan bundanya. Rizki mengesampingkan semua emosi dan rasa tìdak sukanya, berusaha tersenyum sewajar mungkin.
"Baiklah. Hati-hati sayang. Jangan lupa untuk mengabariku," jawab Rizki memberi penekanan.
Mencium pucuk kepala istrinya itu sebelum akhirnya pamit mencium punggung tangan bunda juga.
Nayna mengantarkan Rizki ke mobilnya sambil bergelayut manja pada bahu kekar si dokter tampan.
"Uwwuu banget......jiwa jobloku meronta-ronta. Tuhan sisaku satu untukku, satu saja yang seperti bang Rizki yah," ujar Nayla yang di sambut tawa lucu sang adik.
__ADS_1
Bunda hanya tersenyum menatap putri keduanya itu. Benarkah perasaan yang Ay rasakan saat ini. Bisakah cinta hadir diantara mereka. Kalau hanya satu hati saja yang mencinta, rasanya kita seperti mengharap untuk bisa menyentuh bayangan, keluh bunda dalam tanya, memikirkan cinta sebelah tangan putrinya itu pada Rendi.
"Bun, Ay berangkat yah?" pamit Nayla mencium tangan bunda
"Nay juga berangkat ke kantor bun?" kali ini Nayna yang mencium punggung tangan bundanya.
"Ay berangkat bareng Nay?" tanya bunda pada kedua putrinya.
"Iya bun. Ay nebeng Nay aja, biar semobil aja ntar ke rumah tante Ratihnya "," jelas Nayna yang dianggukki oleh Nayla.
"Ooo gitu. Ya sudah......hati-hati ya sayang," pesan bunda pada keduanya.
"Baik bunda," jawab Nayna dan Nayla serempak.
"Key, mau nebeng mbak Nay mggak?" tanya Nayna pada adik bungsunya.
"Nggak deh. Key naik motor aja, ntar repot pulangnya kalau ikut mobil mbak Nay," balas Keyla pada Nayna.
"Ntar pulangnya mbak drop juga. Sekalian mau ke rumah tante Ratih sama Ay," jawab Nayna.
"Rumah tante Ratih?" tanya Keyla bingung.
Ngapain mbak Nay sama mbak Ay ke rumah tante Ratih. Ntar mbak Nay ketemu bang Rendi, kan bisa berabe. Auto ngamuk bang Ki, gumam Keyla sendiri bingung.
"Maksud mbak Nay bukan tante Ratih sahabatnya bunda kan?" Keyla mengulang bertanya.
"Memangnya kita kenal tante Ratih yang mana lagi?" jawab Nayna santai.
"Iya Key. Tante Ratih yang satu-satunya sahabat tercintanya bunda. Tante Ratih maminya bang Rendi, mas Bayu dan Riko.....jelas," Nayna menjelaskan dengan sangat detail.
Keylapun menganggugkan kepala membalas pertanyaan Nayna padanya.
"Apa mbak Nay nggak takut. Ntar bang Ki auto marah loh mbak," ujar Keyla dengan polos.
"Tenang aja, bang Ki udah jinak sama mbak Nay," ujar Nayla terkikik geli menjawab pertanyaan adiknya itu.
Karena bukan hanya Keyla. Ay juga sangat faham kecemburuan bang Ki pada bang Rendi.
Mbak Nay aja dipaksa Nayla dulu buat nemenin ke rumah tante Ratih. Dan tentu saja dengan ancaman bahwa kalau mbak Nay nggak mau, berarti mbak Nay masih ada perasaan sama bang Rendi.
Nayna yang tidak ingin adiknya berprasangka salah tentang perasaannya pada bang Rendi. Akhirnya dengan terpaksa menyetujui mememani adiknya itu.
Padahal Nayna sudah berulang kali menolaknya.
Flash Back On_Nay dan Ay
"Kan Ay sudah jadi asisten tante Ratih. Lalu untuk apa lagi mbak nemenin?" tanya Nayna pada adiknya itu.
"Karena tante Ratih lebih mengenal mbak Nay ketimbang Ay. Apa mbak Nay lupa mbak Nay itu calon menantu yang batal. Tentu tante Ratih akan lebih senang jika Ay datang bersama mbak," jelas Nayla membujuk.
__ADS_1
"Justru itu mbak jadi nggak enak Ay," Nayna berkelit.
Nayla menghela nafasnya dalam, menatap pada Nayn penuh harap.
"Please bantu Ay mbak. Bantu Ay mewujudkan cinta Ay. Kalaupun akhirnya Ay menyerah, Ay tidak akan menyesal karena sudah berusaha," ujar Nayla memelas.
Hufftt.....kali ini gantian Nayna yang menghela nafas kasar.
"Baiklah, kita bertemu di kantor mbak aja," jawab Nayna pada akhirnya menyerah.
Tapi fikirannya dipenuhi rasa takut karena akan menghadapi sikap Rizki. Tadi pagi saja, walaupun memperbolehkan. Tapi tidak mengubah raut wajahnya sangat menunjukkan rasa tidak suka.
Flash Back Off
"Key, bener nggak mau ikut," tanya Ay sekali lagi
"Nggak deh mbak Ay. Key nggak mau ikut-ikutan," ujarnya jujur.
"Bunda, Key berangkat yah," pamit Keyla mencium punggung tangan bunda.
"Iya nak. Hati-hati, jangan ngebut bawa motornya," pesan bunda pada putri bungsunya itu.
Tidak lama Keylapun berlalu bersama motor maticnya. Nayna dan Naylapun dalam kendaraan mereka masing-masing, siap untuk berangkat.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Bagaimana bang Rendi jika bertemu lagi sama Nayna yah🤔🤔
Author jadi ikutan cemas mikirinnya😕😕
Belum lagi bang Rizki yang auto cemburu buta....OMG😱😱
Maaf baru update
Karena Author juga ada kerjaan di dunia nyata🙏🏻😁🤭🤭
Disamping juga mesti update Novel satunya lg👌👍🏻✌
Jangan lupa dong yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Dukungan Vote, Like, Fav & Coment🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah cinta dalam diamnya Rania mengejar sang ustad di Novel "Mengejar Cinta Ustad:🙏🏻
Kisahnya nggak kalah serunya sama kisah Nayna & Nayla di novel Love Or Be Loved👌🙏🏻
__ADS_1
Dukungan👉🏽Vote, Fav Like & Comentnya juga yahh reader tercintahhh✌
Author kasih double kiss deh😗😙😚