
Satu bulan lebih sudah berlalu dari masalah yang menimpa Nayna. Para penjahatnya sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan saat pengacara mereka akan mengajukan banding selalu menelan kekalahan. Karena Rendi sudah memerintahkan para pengacara untuk mengambil langkah cepat menjegal segala upaya yang ingin mereka lakukan.
Rendi ingin mereka mendapàt balasan setimpal atas apa yang talah mereka perbuat. Dia ingin memberi efek jera. Dan tetap menjadi pemain di belakang layar untuk semua bentuk usaha yang dia lakukan.
Nayna sudah kembali menjadi dirinya lagi. Walaupun kadang masih terselip rasa takut di hatinya. Kini dia memutuskan akan mengerjakan semua draft maupun kotrak pada perusahaan mana saja di kantornya. Kalaupun memang terpaksa dilakukan di kantor klien, Nay pasti selalu membawa satu orang asisten kantornya.
"Nay, apa kau baik-baik saja" tanya Winda, sekretaris sekaligus sahabatnya itu
"Aku nggak apa-apa kok Win." balas Winda tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir, walaupun kecemasan tidak bisa di sembunyikan dari wajah cantiknya.
"Aku baik-baik aja Win. Jangan khawatir, aku juga akan lebih berhati-hati lagi sekarang," Nay menyakinkan Winda lagi. Karena Windalah satu-satu sahabat yang sangat mengetahui apapun yang berhubungan dirinya.
"Apakah kau belum berniat mememui Rendi?"
Nay menatap Winda, dia mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu
"Aku pasti menemuinya Win. Mengucapkan terimakasih banyak untuk bantuannya yang sangat besar sejak kejadian kemarin. Tapi nggak untuk saat ini Win," Nay menghela nafasnya dalam sebelum menghembuskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku benar-benar belum siap Win," jelas Nay lagi nanar.
Bahkan saat Rendi sering mengunjunginya di rumahpun, Nay selalu meminta bundanya agar tidak meninggalkannya. Entahlah Nay rasanya masih gamang harus bersikap bagaimana pada laki-laki yang pernah sangat di cintainya itu dulu.
Apalagi mengingat kejadian terakhir saat Rendi sempat menciumnya di mobil tempo hari.
Aaaghhh.....bagaimana bisa aku membiarkan dia menciumku waktu itu. Aku seolah menikmati dan memberinya lampu hijau. Ciuman lembut bibirnya saja masih kurasakan hingga detik ini, Nay kembali menerawang.
"Sudahlah Nay. Lupakan, kalau kau memang benar-benar belum siap," Winda memecah kesunyian
"Nay.....," tanyanya lagi ragu.
Apa yang hendak ditanyakannya, kenapa seperti orang bingung saja, ujar Nay dalam hati
"Apakah kau sudah mengetahui dua orang wanita yang membayar ******** itu?" ujar Winda berhati-hati, jangan sampai sahabatnya itu kembali mengingat kejadian memilukan itu.
Nayna tampak menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"Aku sudah mengetahui semua kejadiannya dari Rendi ...Win,"
"Apa kau tidak ingin melihat kedua wanita itu," kembali Winda bertanya dengan hati-hati sekali
"Padahal aku sendiri rasanya ingin menjambak rambut kedua orang itu," Winda berkata dengan geram.
Aku tidak ingin berurusan lagi dengan mereka dan ingin agar bisa cepat melupakan semua kejadian buruk itu," mata Nay tampak berkaca-kaca
Ahhh, Winda mwnyesal telah salah memulai pembicaraan.
"Aku sudah menyerahkan semuanya pada Rendi untuk mengambil tindakan apapun yang dirasanya baik dan menguntungkan posisiku sebagai korban Win," kali ini butiran bening itu benar-benar jatuh di pipi mulus Nay.
"Sudah....sudah...lupakan pertanyaan itu. Jangan sampai kau mengingatnya kembali," Winda sudah memeluk erat sahabatnya itu.
"Nay, apakah Rey tahu?" Nayna menggeleng
"Dan kau tidak berniat menceritakan kejadian yang menimpamu ini pada Rey?" Nayna kembali menggeleng.
__ADS_1
"Kau tau sendiri Win. Rey itu bisa bersikap seperti apa kalau menyangkut urusanku, lebih dari yang bisa Rendi lakukan. Aku tidak ingin dia ikut-ikutan repot dan sedih atas kejadian yang menimpaku. Sudah cukup selama ini aku terus menyakiti hati dan perasaannya," jelas Nay pilu.
Bahkan Bayupun tidak mengetahuinya. Nay melarang bundanya untuk mengabari tante Ratih mengenal kejadian yang menimpanya.