Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Inilah Pernikahan Yang Kau Pilih


__ADS_3

Sebelum Azan subuh Reyhan sudah bangun. Setelah mandi, bergegas ke mushola kecil di rumahnya, hendak mengerjakan sholat subuh. Reyhan sengaja membuat mushola kecil di samping rumahnya yang aksesnya persis melewati kamar tamu, hendak mengerjakan sholat subuh.


Saat baru màsuk ke ruangan mushola, Reyhan melihat seseorang hendak memakai mukena.


Apakah itu Karin, karena tidak ada orang lain lagi di rumah ini, pikir Rey.


"Assalammualaikum," sapa Rey


"Waalaikusalam," Karin menoleh


"Bagaimana kau tahu ada mushola di ruangan ini," tanya Reyhan


"Maaf, aku semalam tidak bisa tidur, jadi berjalan-jalan, dan sampailah di mushola kecil ini," jelas Karin teerunduk.


"Bolehkah aku ikut sholat berjama'ah bersamamu," tanya Karin ragu. Karena jika Rey menolahnya, Karin akan sholat sendiri di ujung mushola.


"Kau sudah berada di sini, tentu saja kita akan berjama'ah," ucap Rey datar.

__ADS_1


Selesai sholat, Karin mengulurkan tangannya hendak mencium tangan Reyhan, tapi laki-laki itu masih mematung menatapnya.


Sesaat kemudian dia membiarkan Karin mencium tangannya. Ah, bukankah baik, sehabis sholat istri mencium tangan suami. Tapi yang di bayangkan Rey berada di hadapannya adalah wanita lain.


"Seandainya itu kamu Nay, aku bukan saya membiarkan kau mencium tanganku. Tapi aku juga akan mengecup keningmu, sebagai rasa sayangku ini, batin Rey pilu.


Karin sudah beranjak, meninggalkan Reyhan. Bahkan ucapan salamnyapun tidak dijawab Reyhan, laki-laki itu masih sibuk dengan fikirannya sendiri.


Sehabis sholat, Karin sudah masuk dapur. Dia sudah sibuk menyiapkan sarapan. Ini hari pertamanya menjadi istri. Karin berjanji akan bisa membagi waktu antara karirnya dan suami. Karin ingin seperti janjinya dari dulu, menjadi istri yang baik, istri yang soleha bagi Reyhan.


"Maaf aku tidak tahu kau biasa minum apa setiap pagi, tapi aku sudah membuatkanmu segelas coffe," ujarnya dengan tertunduk.


Rey kembali menghela nafasnya. Mau bagaimanapun wanita ini sudah menjadi istriku, rela tidak rela hatiku, aku tetap harus menerimanya, batin Reyhan.


Dia tidak menjawab Karin, langsung duduk dan meminum coffenya.


"Kau tidak mau ikut sarapan," tanya Reyhan

__ADS_1


"Apa boleh aku ikut sarapan berdua denganmu," Karin malah bertanya.


"Duduklah, kalo sekedar sarapan atau makan siang tidak menjadi masalah. Toh nanti juga kita akan tidur di kamar terpisah," jawaban Rey kali ini membuat wajah Karin makin tertunduk.


Jangan menangis Karin. Bukankah ini yang kau inginkan, memaksa menikah dengan laki-laki yang tidak pernah mencintaimu, pekik hati Karin berusaha menahan air matanya agar jangan sampai tumpah.


"Aku harap kau bisa menjaga dirimu dan bayi di perutmu. Jangan terlalu berharapa lebih atas pernikahan ini. Maaf aku tidak bisa Karin," ucap Reyhan kembali.


"Baik, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti anak menjaga anak ini dengan baik," ucap Karin tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih datar.


"Kau bisa melakukan apapun, ini kan rumahmu," Karin dan Reyhan saling menatap.


"Tapi saat kita berada di luar. Di depan keluargaku, keluargamu, di depan orang lain. Tolonglah untuk bersikap baik seperti layaknya suami dan istri," pinta Karin.


Karin kemudian beranjak, mengambilkan nasi goreng ke piring Reyhan. Lalu ke piringnya sendiri dan menikmati sarapan pagi. Suasana sarapan kali pertama ini dirasakan Karin begitu hambar. Sehambar hati dan perasaannya saat ini. Karin masih tersenyum saat Reyhan memandangnya. Aku harus kuat, bagaimana bisa bertahan bersama anakku nanti, kalau aku tidak kuat, batin Karin.


Sampai anak ini lahir, setelah itu aku berjanji akan pergi Rey. Setidaknya saat pergi nanti, aku membawa darah dagingmu bersamaku. Seorang keturunanmu yang aku lahirkan sendiri, dialah kelak yang akan terus bersamaku, mencintai ibunya yang malang ini," Karin semakin membatin.

__ADS_1


__ADS_2