Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Mengulang Kesalahan Kembali


__ADS_3

Sesaat Rendi mencoba mengatur Nafasnya, mengendalikan nafsu yang mulai menyelimutinya. Dia masih terdiam dan menempelkan saja bibirnya pada bibir Nayna. Rendi ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu. Naynanya yang polos ternyata masih tetap polos, bisik hatinya kembali.


"Apakah belum ada yang pernah menyentuh bibir mungil ini," dia menjauhkan bibirnya dan berbisik lembut di telinga Nayna


"Pasti cuma abang yang berhasil mencurinya," bisik Rendi lagi.


Nay kembali menegang. Dia tidak pernah seintim ini dengan laki-laki. Bahkan memang hanya Rendilah yang berkali mencuri ciumannya. Andai Rendi tahu ciuman di mobil itu adalah ciuman pertamanya. Dia menjaganya untuk suaminya kelak, dan Rendi yang berhasil mencurinya.


Sapuan nafas berat Rendi saat berbisik di telinga Nay membuat darah gadis itu berdesir. Bahkan hembusan nafasnya juga terasa di leher Nayna, membuatnya semakin merinding.


Rendi kembali menatap Nayna, mengangkat dagunya agar kembali menatap Rendi, tapi mata gadis itu tampak masih terpejam.


"Nay, buka matanya," pinta Rendi lembut


Nayna masih merapatkan matanya. Rendi masih menunggu. Perlahan Naypun membuka matanya.


Rendi sudah sangat dekat, hidung mereka sudah hampir menempel. Rendi mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Nayna.


Nayna melotot, matanya mendelik lebar. Kembali Rendi mengecupnnya, kali ini dengan berulang, masih dengan sangat lembut. Rendi tidak ingin berbuat kasar pada Nayna. Dia ingin Nay menyukai kelembutannya, membuat gadis itu juga menginginkan keintiman mereka.


Nayna semakin tegang, Dia melongo, bibirnya sedikit terbuka. Rendi tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera dilumatnya bibir Nayna, bibir yang di atas, lalu ******* bibir bawahnya.


Ahhhh, dari dulu aku tidak pernah mencoba menciummu Nay. Ternyata bibirmu selembut dan semanis ini, desah Rendi. Tangannya merengkuh tengkuk Nayna, memudahkannya memperdalam ciumannya pada Nayna. Tangan Rendi yang satu lagi sudah memegang pinggang gadis itu. Mendorong tubuhnya lebih merapat pada Rendi.

__ADS_1


Sesaat Nayna ikut terbuai. Mengikuti saja irama ciuman dan ******* Rendi pada bibirnya. Nafas mereka sudah tidak teratur dan saling berkejaran. Entah memang sudah terbawa nafsu atau memamg dia menginginkanya, Nayna sudah membalas ciuman dan ******* bibir Rendi. Tangan Naynapun sudah melingkar di leher Rendi. Membuat mereka semakin terhanyut pada nafsu birahi.


Rendi tidak dapat menahannya lagi, sudah tidak lagi mengontrol kesadarannya. Bibirnya sudah menelusuri belakang telinga Nayna, lalu menuruni leher Nay.


Nayna terkesiap. Di tengah nafasnya yang memburu, tiba-tiba Nayna tersadar.


"Berhenti bang. Kita tidak bisa melakukan lebih dari ini," ingatnya dengan nafas yang naik turun.


"Bang Rendi, cukup, jangan perlakukan Nayna seperti ini," pintanya dengan nafas memburu.


Sementara Rendi sudah seperti kehilangan kesadaran. Permintaan Nayna sudah terdengar seperti desahan saja di telinganya. Gadis ini memohon, tapi tubuhnya malah merespon, batin Rendi.


Nayna terus meronta. Memohon Rendi menghentikan untuk terus memcumbunya. Nay takut Rendi akan semakin tidak bisa mengendalikan diri.


Rontahan Nayna sama sekali tidak berpengaruh. Tubuh kecilnya sudah tenggelam dalam rengkuhan badan besar tinggi kekar milik Rendi.


Ciuman Rendi mulai menurun saat dia berhasil menarik paksa dua kancing teratas kemeja Nayna.


Sontak membuat Nayna menyilangkan tangan di kedua dadanya, Nay merasa tangan Rendi sudah menjalar dari leher menuju atas dadanya.


"Lepasss.....Lapaasss bang....."teriak Nayna dalam tangis sambil terus berontak.


Tiba-tiba saja pintu sudah diketuk dari luar oleh Winda.

__ADS_1


"Nayna....Nay....," teriak Winda lagi.


"Windaaaaa.......Wiinnn......tolong gue Win," Nayna semakin kalut.


Winda tampak mengedor godor pintu dari dalam, karena terkunci Winda segera berlari mencari kunci cadangan.


Sementara Rendi yang mendengar gedoran pintu dan isak tangis Nayna seketika tersadar.


Dia menatap Nayna yang keliatan sangat kacau. Ya Allah, apa yang telah kulakukan, makinya dalam hati.


"Nayna....Nay.......," teriak Winda langsung menghampiri sahabatnya itu. Dia menatap Nayna yang tampak sangat kacau, aìr mata dan keringat membanjiri wajah dan tubuhnya. Bajunyapun sudah terlihat kacau dan terbuka sedikit di bagian atas dadanya. Winda jadi menyesal, kenapa tadi membiarkan saja Nayna hanya berdua dengan bang Rendi.


"Minggir....menyingkir," makinya pada Rendi


"Nay....maafkan abang. Abang tidak berniat menyakitimu," sesal Rendi menatap Nayna


"Menyingkir, jangan berani abang menyentuh Nay lagi," maki Winda lagi.


Dia memeluk sahabatnya itu, lalu membawanya pergi menuju parkir mobilnya. Dia berniat mengantarkan Nayna pulang.


Di dalam perjalanan menuju rumah Nayna, Winda menelpon Bayu dan menceritakan semuanya. Dia meminta Bayu membawa abangnya itu pergi.


"Bawa abang lo pergi dari kantor gue. Sebelum gue berubah fikiran, ngelaporin abang lo ke polisi atas tindakannya pada Nayna," ancam Winda mengakhiri panggilan telponnya.

__ADS_1


__ADS_2