Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Rumah Nayna


__ADS_3

Rendi sebenarnya bingung mau membawa gadis ini ke mana. Apakah dia masih tinggal di alamat rumahnya yang dulu. Karena setelah lima tahun tidak bertemu, bisa jadi gadis itu sudah berpindah tempat tinggal.


Untuk bertanya rasanya tidak mungkin, Nayna sedang tertidur, sepertinya dia benar-benar kelelahan ketika terus berontak melawan ******** tadi.


Cuba ku cek Kartu Tanda Penduduknya, pasti ada identitas di dalam dompetnya. Tapi tas itu menyelepang di tubuh Nayna, tertindih badan Nayna pula. Jika aku menarik dan mengambilnya, Nayna pasti terbangun. Dia bisa salah faham lagi nantinya.


Rendi memutar kunci mobil dan mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan. Dia memutuskan mengantarkan Nayna ke alamat rumah lamanya, itulah satu-satunya alamat yang diketahui Rendi, karena dia sangat mengenal rumah itu dulu. Kalau memang Nay tidak lagi tinggal di alamat itu, dia akan mengantarkan Nay ke rumah maminya, dia akan meminta maminya agar Nay tinggal di sana sementara sampai kondisi gadis itu membaik.


"Tolong.....tolong lepaskan aku," tiba-tiba Nay berteriak. Dengan sigap sebelah tangannya memegang gadis itu supaya tenang, sebelah tangannya lagi memegang setir. Untung jalanan hari ini cukup lenggang.


Nay sudah kembali tenang, nafasnyapun kembali tenang. Sepertinya kejadian itu masih membayanginya hingga terbawa ke alam bawah sadarnya, gumam Rendi.


Rendi menghentikan mobil tepat di depan rumah bercat abu-abu itu. Dia keluar dari mobil sambil mengedarkan pandangannya berkeliling. Tidak ada yang berubah, rumah ini masih tampak asri, teduh dan menenangkan, gumam Rendi


Ada rasa yang membuncah di hatinya, ada kenangan manisnya di rumah ini, bersama gadis manis yang ada di mobilnya kini.

__ADS_1


Rendi memutar ke samping mobilnya ke arah Nayna tertidur. Diangkatnya dengan perlahan tubuh gadis itu, pelan-pelan dan lembut seolah takut sampai membangunkan Nayna.


Badannya yang tegap dan tinggi besar tidak menyulitkan baginya untuk menggendong tubuh Nayna yang mungil dan kurus itu.


Setelah mengunci mobilnya, Rendi berjalan ke arah teras, berusaha meraih bel di samping pintu rumah itu.


Seorang wanita setengah Baya telah membuka pintu dan mematung menatap ke arah Rendi. Tapi melihat putrinya dalam gendongan laki-laki itu membuat kesadaran kembali normal.


"Ada apa dengan Nayna," tanyanya dengan nada khawatir.


Tante Meli, bunda Nayna bergegas membawa Rendi ke kamar Nayna.


Setelah Rendi meletakkan Nayna di atas tempat tidurnya, tante Meli hendak melepaskan jaket Nayna, sekilas dia bisa melihat baju putrinya itu seperti tercabik-cabik, pikirannya seketika ketakutan.


"Biarkan saja jaketnya dulu bunda, nanti Nay bisa terbangun, biarkan dia beristirahat," ujar Rendi membuat bunda Nayna mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Tante Meli mengambil selimut dan menyelimuti putrinya. Nayna tampak menggigil, dirabanya dahi putrinya itu, Nay demam.


Tante Meli bergegas keluar kamar mengambil air hendak mengompres Nayna, lalu masuk kembali ke kamar Nayna membawa kompres.


"Lepaskan aku ********," Nayna mulai berteriak kembali, matanya masih terpejam, tubuhnya menggigil dan badannya panas.


"Nay tenang sayang, ada bunda nak," ujar tante Meli sedih sambil terus mengompres Nayna.


Rendi masih duduk di sudut kamar Nayna memperhatikan. Hatinya seperti ikut tersayat sembilu melihat Nayna seperti ini.


Setelah dirasa Nay cukup tenang, badannya juga tidak lagi terlalu panas. Tante Meli memanggi Kayla, adiknya Nayna.


"Kay, jaga mbak, terus di kompres, jangan tinggalkan dia. Bunda hendak berbicara sebentar dengan bang Rendi," ujar tante Meli memberi perintah putrinya yang baru saja pulang sekolah tersebut.


Kayla yang masih memakai seragam SMAnya menganggukkan kepala dan mendekati ranjang mbaknya. Dalam hati diapun bertanya-tanya apa yang terjadi dengan mbak Nay tercintanya itu hingga jadi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2