
"Nay.....lepasin," Rey beranjak dan berdiri dari duduknya.
Nay tersentak. Dia sudah merendah begini, tapi Rey malah menolaknya, hanya sekedar hanya memeluk.
"Jadi cuma Karin yang boleh memeluk bahkan menciummu," balas Nay kesal
Rey berbalik dan menatap gadis di gadapannya.
"Bukan seperti itu maksudku Nay,"balas Rey
"Aku masih bisa waras saat bersama Karin. Tapi denganmu tentu berbeda, aku takut kewarasanku hilang, aku takut tidak mampu melawan godaan Nay." jelasnya lembut.
"Tapi aku kan hanya sekedar memelukmu," bela Nay lagi
"Ayolah Nay. Memelukku dengan pakaian seperti itu. Aku laki-laki normal Nay," Rey kembali menjelaskan.
Nay diam saja dengan masih memasang wajah cemberutnya.
"Baiklah kalau mau memelukku. Tapi jangan salahkan aku jika nanti tergoda ya," senyum Rey bahagia pada akhirnya.
Dia menyukai kecemburuan Nay. Dia menyukai gadis itu sudah bisa menyentuhnya, tentu saja sebatas pelukan hangat. Rasanya Rey seperti bermimpi dengan apa yang dilakukan Nay hari ini.
__ADS_1
Nay berlari, berhambur kepelukan Ray, laki-laki itu sudah menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.
Nay memeluk Rey sangat erat, kedua tangannya dia satukan di belakang punggung Rey sangking eratnya. Dadanya terasa menyentuh lembut badan Rey, begitu lembutnya dirasakan Rey. Kepala Nay hanya sebatas lehernya, sehingga dengan mudah bagi Rey mencium puncak kepala Nayna.
Hmmm......rambutmu begitu harum Nay, Rey menikmati mencium aromanya.
Sementara Nay makin mengeratkan pelukannya. Aroma tubuh Rey, dia tidak menyadari, betapa dia menyukai aromanya saat berada dalam rengkuhan tubuh Rey begini. Atau ini terjadi karena dia telah benar-benar membuka utuh hatinya, Nay bertanya sendiri.
Tapi sesaat kemudian Nay ingat, dia harus menjelaskan kejadian siang tadi pada Rey. Nay melepaskan pelukannya dan mengajak Rey kembali duduk di sofa panjang.
Rey duduk di kursi merentangkan tangan kanannya di belakang sofa. Nayna sudah duduk sambil menyandarkan kepalanya di lengan Rey.
"Rey, aku mau jelasin kejadian tadi. Semua tidak seperti yang terlihat," Nayna menatap wajah Rey.
"Maksudnya Nay," Rey memutar tubuhnya menghadap Nayna.
"Jadi kami sama-sama di kirimin pesan whatsapp mengajak bertemu di cafe itu. Dan anehnya whatsapp untuk bang Rendi bener dari nomor aku yang baru Rey,"
"Kok bisa," tanya Rey heran
"Aku curiga sama Karin Rey. Karena sebelumnya dia pernah mengajak aku bertemu,"
__ADS_1
"Jadi saat itulah kau teringat dia menyabotase handphone kamu,"
"Iya, karena saat itu aku inget pergi ke toilet meninggalkan tasku di meja," Nay berfikir kembali.
"Tapi kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti Nay,"
"Itulah yang sedang kufikirkan, andai cafe itu ada CCTVnya, mungkin aku punya bukti. Setidaknya aku bisa memegang bukti satu kelemahan Karin yang mencoba menjebakku,"
"Ya udah, nanti kita coba cek lagi ke cafe waktu itu," Rey menenangkan Nayna. Dalam hati dia tidak menyangka bahwa Karin bisa brrbuat begini. Dan Reypun yakin, pasti Karinlah yang juga mengirim pesan demgan mengirimkan foto Nay dan Rendi tadi.
Nay kembali menyadarkan kepalanya, kali ini di dada bidang Rey. Dia benar-benar merasa nyaman, harum tubuh Rey yang beramoma menthol dan mint berpadu di keringatnya justru sangat disukai Nay sekarang.
"Rey, sebenernya kenapa Karin bisa begitu terobsesi padamu," tanya Nay penasaran masih tetap menyandarkan kepalanya.
"Apa kalian pernah tidak sadar berbuat terlampau jauh, sehingga mwmbuat Karin jadi tidak mau terlepas begitu," Nay mengungkapkan kecurigaannya.
Rey memutar tubuh Nayna menghadapnya. Mereka berdua saling bersitatap.
"Nay, apa kau meragukanku," Rey tampak tidak suka.
"Aku percaya padamu Rey. Tapi mengingat Karin, dia bisa saja melakukan hal-hal yang mungkin tidak terfikirkan olehmu," keluh Nay kembali
__ADS_1
"Nay, andai kau mèmang tidak suka, aku bisa menjaga jarak dengannya. Tapi tolong jangan pernah ragukan hatiku. Sedari dulu, rasa di sini tidak pernah mau pergi," Rey memegang tangan Nay dan meletakkan di dadanya.