
Doni mengeram menahan kesal, saat mendengar ucapan sang kekasih.
"Khey ... kita udah pacaran satu tahun. Belum pernah sekalipun elo mau gue cium. Selama ini kita cuma jalan bareng, bergandengan tangan, cium pipi bahkan gue cium kening elo baru sekali doang. Itu pun karena elo ulang tahun. Sampai kapan elo jaga jarak mulu sana gue Khey?!" ucapan Doni terdengar cukup ketus.
"Don ... kita baru pacaran, bukan nikah. Elo tahu kan kalau gue gak dibolehin pacaran sama orang tua gue?! Nanti kalau saatnya tiba, kita sah menikah elo boleh ambil hak lo ke gue Don." Khey kembali mengingatkan sang kekasih.
"Tapi sampai kapan, kita aja pacaran backstreet. Elo gak pernah bolehin gue buat datengin elo ke rumah, padahal belum tentu juga orang tua lo nolak gue Khey!
Kita udah gede Khey ... bukan kek anak SMP yang kalau pacaran cuman gandengan tangan doang, kita bisa lebih dari itu. Jangan - jangan elo emang gak niat buat pacaran sama gue ...." Doni mulai kesal.
"Doni! Kok elo ngomong gitu sih, gue suka ... gue cinta sama lo tapi bukan berarti gue bisa elo cium seenaknya!" Khey meninggikan nada bicaranya karena kesal dengan ucapan sang kekasih. Padahal bukan kali ini saja Khey mengingatkan Doni tentang gaya pacaran yang diinginkannya, akan tetapi selalu saja Doni memancing amarahnya karena selalu ingin mencium bibirnya.
"Munafik lo Khey ... zaman sekarang gak ada pacaran yang gak ciuman, apalagi kalau cuma ciuman bibir. Itu udah biasa ... bahkan bocil wae pacaran kek gitu gak segan saling sebut papa mama." Doni menyanggah ucapan Khayyara.
Khey yang tersulut emosi beranjak dari duduknya.
"Tapi gue enggak kek gitu Don!!! Meskipun kita pacaran, gue masih berusaha menjaga semuanya agar bisa indah pada waktunya nanti. Gue gak mau kalau pacaran cuma mengedepankan nafsu doang. Sayang itu saling menjaga bukan menodai. Toh nantinya semua itu juga buat elo Don ...." Khey beranjak, melangkahkan kaki meninggalkan Doni yang masih duduk di bangku taman.
Doni yang melihat Khey pergi meninggalkannya, ia segera menyusul dengan langkah kaki lebar.
"Khey ... tunggu!!" Doni berlari kecil menyusul Khey.
"Belum tentu kita berjodoh nantinya Khey ... bisa saja elo maupun gue berjodoh dengan orang lain!!" seru Doni saat langkah kakinya hampir mendekati Khayyara.
Khey menghentikan langkah kakinya saat mendengar apa yang diucapkan oleh Doni sang kekasih. Sesaat menghela nafas pendek serta menelan ludahnya kelat, kemudian sedikit memutar tubuhnya menghadap Doni yang berada tak jauh di belakangnya.
"Memang belum tentu kita berjodoh nantinya Don ... makanya gue berusaha menjaganya dengan baik. Elo bayangin kalau elo dapetin jodoh cewek bekas oprekan orang lain, elo mau terima gitu aja??" Khey berucap datar namun penuh dengan penekanan.
Doni terdiam, bibirnya kelu seolah mulutnya terkunci dan tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Doni tidak menyangka jika ucapannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Enggak kan Don?!! Elo juga pasti ingin dapet yang masih segelan kan ... terus apa kabar gue yang udah elo oprekin kalau lo sama gue gak berjodoh??" Khey kembali membalikkan tubuhnya lalu berjalam meninggalkan Doni yang masih terdiam mematung tanpa berucap sepatah kata pun.
Setelah beberapa saat menyadari jika Khey sudah semakin menjauh, Doni berlari kecil menyusul sang pujaan hati.
__ADS_1
πππ
Doni membawa mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, akibat rasa kesal yang memuncaki ubun kepalanya.
Bahkan tubuh Khey merasakan goncangan yang cukup keras hingga membuat tubuh mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Namun Khey tetap terdiam menahan semuanya dengan kesal.
Setelah perdebatan di antara keduanya di taman tadi, Doni memutuskan untuk mengantarkan Khey pulang. Dirinya tidak menyangka jika kencan yang digadangnya akan menjadi kencan romantis dan menjadikan momen melepaskan rindunya pada sosok sang kekasih ternyata malah berakhir dengan kemarahan Khey. Bahkan kini mereka saling mendiamkan dengan berbagai pikiran yang memutari tempurung kepala masing - masing.
"Turun lo!!" Doni berucap ketus pada Khey saat mobilnya berhenti lumayan jauh dari minimarket kompleks perumahan dang kekasih.
Khey menoleh ke kanan dan ke kiri. "Tapi Don ... ini kan lumayan jauh, agak deketan sana ngapa?"
"Gak usah manja lo ... gue lagi gak mood buat nganterin lo sampek sana. Turun sini aja!" perintah Doni disertai dengan bentakan.
Khey menahan nafas kemudian membuangnya dengan kesal. Dengan kasar tangannya membuka pintu kemudian menutupnya dengan kasat, hingga mengeluarkan bunyi yang keras.
Doni bahkan sempat terjengit kaget, namun dirinya acuh karena sedang sangat kesal. Rasa marah menguasai benaknya, tidak peduli lagi dengan sikap sang kekasih.
Setelah Khey keluar dan menutup pintu mobil milik Doni dengan kasar, Doni pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Khey yang masih berdiri di trotoar dengan raut wajah yang tertekuk kesal.
Kedua telapak tangan Khey terkepal kuat. "Sialan lo Don ...."
Khey pun melangkahkan kakinya kembali untuk berjalan menuju rumah dengan perasaan sangat kesal.
Beberapa saat setelah berjalan, Khey merasa ada titik - titik air menerpa tubuhnya. Khey pun melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mencari tempat berteduh saat merasa titik air itu semakin intens dan langit tiba - tiba semakin gelap.
Huhft ...
Khey membuang nafas pendek setelah mendudukkan diri pada pos ronda yang ditemuinya untuk berteduh.
Kenapa jadi hujan gini sich, perasaan tadi terang benderang deh, Khey menggumam dalam hati sembari mengibaskan air hujan yang sempat menerpa wajah dan lengan tangannya.
Setelah mengusap dan mengibaskan air yang sedikit membasahi tubuhnya Khey menoleh ke arah kanannya yang terdapat seorang anak lelaki yang duduk membenamkan kepalanya di sela kedua kakinya, anak lelaki itu sepertinya merupakan pelajar SMA seperti dirinya karena terlihat masih memakai seragam sekolahnya.
__ADS_1
Khey kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, entah mengapa ada rasa sedikit takut saat melihat lelaki yang masih berseragam tersebut.
Khey takut jika anak lelaki itu merupakan salah satu anggota geng motor atau geng berbahaya yang sering dibicarakan teman - temannya di sekolah.
Khey pun membayangkan hal yang tidak - tidak sembari menggedikkan bahunya, ngeri.
Khey memegang tali tas selempangnya kuat, wajahnya menengadah ke atas. "Kenapa malah makin deras sich, gimana pulangnya ini?" Khey bergumam lirih.
Dhuaarrr ...
Tetiba suara guntur menggelegar terdengar memekakkan telinga.
"Astagfirullahaladzimi" pekik Khey sembari menutup kedua telinganya rapat dengan kedua telapak tangannya, kedua matanya pun terpejam saat mendengar suara guntur yang menggelegar tersebut.
Bahkan anak lelaki yang di sebelah Khey pun terlihat mendongakkan kepalanya, entah karena kaget dengan suara guntur atau kaget karena suara pekikan Khey.
"Gunturnya sudah pergi Mbak." anak lelaki itu bersuara hingga membuat Khey membuka mata dan menoleh pada asal suara.
"Elo!" Khey menunjuk wajah di sampingnya dengan kaget. Bahkan anak lelaki yang masih berseragam sekolah yang duduk di sebelahnya juga terlihat kaget, kedua matanya terbuka lebar.
ππππ
Have a nice day my beloved readersπ·π·π·
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
__ADS_1
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»