
Pagi ini Khey sudah siap di depan cermin dengan seragam sekolah yang sudah melekat, membalut tubuh rampingnya.
Khey sibuk memoles bedak pada seluruh wajahnya, lalu memoleskan lip tint di bibir mungilnya. Berulangkali mencecap kemudian mengoles kembali lip tint tersebut pada bibirnya. Bergaya sok imut di depan cermin meja riasnya, untuk memperoleh ketebalan warna yang diinginkannya.
"Udah cantik belum?" tanya Khey saat Fabian keluar dari kamar mandi.
Fabian menoleh sesaat. "B aja..." Fabian datar.
"Maksud lo? Yang jelas dong Bi..." Khey terlihat kesal sembari menghentakkan kaki.
"Biasa aja Ra..." Fabian dengan merapikan seragam sekolahnya. Fabian sesungguhnya tidak suka melihat bibir Khey yang terlalu merah.
Khey mengerucutkan bibirnya, lalu berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati Fabian, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Fabian.
"Lihat baik baik nih... mm... cantik kan??" ucap Khey dengan tersenyum manis. Membuat Fabian tertegun sebentar. "Sial..." Fabian mengumpat dalam hati karena bibir merah di depannya tersebut sangat menggodanya. Bisa runtuh imannya, pagi pagi begini.
"Hapus lipstik lo, norak. Warnanya kek darah. Kek bencong perempatan yang habis mangsa ayam mentah lo..." ejek Fabian hingga membuat Khey menjauhkan wajahnya dari Fabian dengan raut bingung.
"Gue pakek lip tint Bi, bukan pakek lipstik. Lagian ini warnanya nggak merah kok." Khey dengan kesal sembari menunjukkan lip tint yang masih di tangannya.
"Nggak ada yang lebih natural apa?" tanya Fabian dengan sesekali melirik bibir Khey melalui ekor matanya.
"Ini udah natural Bi, sama kek warna bibir gue." Khey memonyongkan bibirnya sembari
mendekatkan lip tint di dekat bibirnya. Bak model yang memasang iklan produknya.
"Hapus Khey." ucap Fabian tak suka. Menatap Khey sesaat lalu pura pura sibuk membetulkan dasi di lehernya, sembari menahan degub jantungnya yang mulai menggila.
"Nggak mau. Gue kan mau tampil cantik." Khey sewot.
"Elo udah cantik walaupun nggak pakek lipstik. Lagian elo tu mau ke sekolah, bukan mau ke tempat fashion show..." Fabian sedikit sewot.
"Lip tint Bi... lip tint not lipstik." Khey
"Serahlah... bagi gue sama aja. Sama sama bikin elo kek ondel ondel."
Sontak ucapan Fabian membuat bola mata Khey melebar. "Apa lo bilang Bi?"
"Elo kek ondel ondel..." ejek Fabian santai.
Khey terlihat kesal, mengayunkan tangan kanannya hendak memukul Fabian karena telah mengejeknya. Namun dengan cekatan Fabian menahannya.
"Makanya hapus."
__ADS_1
"Nggak!!" Khey kekeh menolak.
"Elo hapus sendiri atau gue yang hapus?" Fabian menatap tajam kedua manik mata khey, masih dengan menahan salah satu tangannya.
"Hapus aja kalau bisa, ini kan waterproof. Lagian gak ada tisu... wlekk..." ejek Khey dengan memeletkan lidahnya, mengejek Fabian tengil.
Khey berucap demikian karena memang tisu di atas meja riasnya habis. Lembar terakhir dipakainya beberapa saat lalu.
"Siapa bilang gue mau hapus pakek tisu?" ucap Fabian tengil dengan menaikkan sudut bibirnya.
"Terus...?" tanya Khey dengan kening mengerut karena bingung.
"Sekali lagi gue bilang hapus lipstik lo!" Fabian terdengar datar namun penuh ketegasan dalam ucapannya. Fabian tidak suka jika Khey dilirik banyak cowok karena penampilan bibir merahnya yang terlihat seksi, menurutnya.
Walaupun sebenarnya polesan pemerah bibir tersebut tidak terlalu tebal, namun Fabian menyukai Khey yang tampil natural. Karena menurut Fabian, Khey lebih cantik seperti itu.
"Gue tetep nggak mau hapus." Khey ngeyel tak kalah tegas dengan nada bicara Fabian.
Fabian sedikit menundukkan kepalanya, sedikit miring. Lalu tanpa persetujuan Khey,
Cup...
Lagi lagi Khey mendapatkan ciuman yang tanpa aba aba dari Fabian. Fabian mencium bibir mungil tersebut. **********, hingga warna lip tint yang disebut Fabian sebagai lipstik tersebut memudar warnanya.
Fabian yang menyadari saatnya sekolah semakin tipis, segera melepaskan tautan bibirnya.
"Sayang waktunya mepet. Coba kalau saat ini menjelang malam, udah gue bikin elo mendesah di atas kasur Ra..." ucap Fabian dengan cueknya, sebelum menghilang di balik pintu kamar.
"Biaaannn....!!!"
πππ
Khey berjalan di koridor sekolah dengan langkah kaki yang lambat.
Masih teringat dengan jelas kejadian di rumah tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Di mana Fabian telah memberikan suntikan imun pada bibir mungilnya. Meskipun itu bukan ciuman yang pertama baginya dan Fabian, namun entah mengapa cecapan manis itu masih terasa membekas di bibirnya.
Senyum tipis terukir di bibir Khey. Tanpa sadar Khey meraba bibirnya. Entah mengapa rasa senang menyelimuti hatinya saat ini. Bahkan rasa sakit hatinya pada Doni sejenak telah terlupakan olehnya.
Plak...
Sebuah tangan menepuk punggung Khey cukup keras, diiringi dengan suara yang familiar di telinga Khey.
"Wooyy!! Mikirin apaan lo... sampek jalan lo lemot kek keong tekdung lo..."
__ADS_1
Khey yang terkejut pun sontak menoleh ke belakang. Khey sudah dapat menebak orang yang telah berani mendaratkan telapak tangannya pada punggungnya.
"Sialan lo Rhe... ngagetin orang nggak kira kira. Gimana kalau gue jantungan trus terkapar di tempat, elo mau tanggung jawab. Mana gue belum ngerasain enaknya malam pertama jugak..." Khey dengan bibir mengerucut.
Khey terkekeh tanpa rasa bersalah.
"Baru juga tumbuh, udah mikirin malam pertama aje lo..."
"Enak aja bilang baru tumbuh, gue udah siap berkembang biak nih..." Khey sewot, tanpa menyadari ucapannya.
"Wiidddihhh... siap berkembang, lo kate elo pohon mangga. Punya suami aja belum, ngakunya siap berkembang biak." ejek Rhea.
"Kan gue udah bersuami..." tanpa sadar Khey keceplosan.
Hek... kedua mata Khey membola menyadari ucapannya. Khey pun menepuk mulutnya cepat.
Hakhakakakkkk...
Bukannya terkejut dengan ucapan Khey sahabatnya, Rhea justru tertawa terbahak saat mendengar ucapan Khey.
"Elo tu baru aja cerai dari Doni kemaren Khey... move on girl... move on..." ejek Rhea pada sahabatnya. Rhea mengira Khey belum move on dari Doni.
Bahkan Rhea menepuk nepuk pelan punggung sahabatnya, untuk membuatnya sadar. Rhea berfikir jika Khey masih menganggap memiliki kekasih tanpa tahu jika Khey memang benar memiliki suami. Bahkan suaminya adalah Fabian tengil yang selalu berada di dekat mereka.
"Khey... gue tahu elo belum sepenuhnya bisa mengikhlaskan hubungan lo sama Doni. Tapi gue yakin elo bisa melupakan dia kok. Gue yakin..." Rhea dengan menggenggam tangannya memberikan semangat pada sahabatnya.
Khey pun tersenyum tipis. Dalam hati bersyukur karena Rhea tidak menyadari ucapannya.
"Masih banyak cowok yang lebih baik dari pada Doni... entar gue cariin..." Rhea menghibur.
Khey pun tersenyum lebar mendengar ucapan sang sahabat.
"Mau nyariin gue cowok?" tanya Khey dengan menyipitkan matanya.
"Iya." Rhea mengangguk yakin.
"Yakin bisa??"
"Bisalah... gampang..." Rhea dengan pede.
"Gimana gue percaya sama omongan orang yang gak bisa cari cowok buat dirinya sendiri..." Khey dengan mengejek.
"Khey...."
__ADS_1
ππππ