Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA72


__ADS_3

Baru saja beberapa langkah, Fabian meninggalkan ruang VIP.


Tiba tiba saja.


Brukk...


Tubuh Fabian menubruk seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.


Sepertinya saat berjalan tadi Fabian dan seseorang itu tidak fokus memperhatikan jalan sehingga tubrukan pun tidak dapat terelakkan lagi.


Tubrukan tersebut membuat kedua terjerembab ke lantai.


"Maaf." ucapan itu terdengar bersamaan dari keduanya, membuat keduanya segera mendongak bersamaan.


"Bian..."


"Bella..."


Lagi keduanya berucap hampir bersamaan dengan tersenyum.


Fabian segera berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Bella berdiri.


"Tanks... Fab..." ucap Bella sudah berdiri dibantuboleh Fabian.


"Elo mau kemana?" tanya Bella saat menyadari penampilan Fabian yang tidak biasa.


"Em... gue mau ke ulang tahun temen gue."


"Cewek atau cowok... keknya formal banget..." Bella dengan tidak berhenti memindai penampilan Fabian yang sangat tampan dengan balutan jas mewah.


Jujur saja Bella terpesona akan wajah tampan Fabian yang berbalut setelan jas hitam tersebut, namun dia berusaha menutupinya. Bagaimanapun Bella sudah mengubur dalam rasa sukanya terhadap teman SMP nya tersebut. Bella tidak ingin menyakiti hati Fabian dengan memberi harapan kosong pada cowok jangkung di hadapannya tersebut. Apalagi jika mengingat sifat Doni kekasihnya yang selalu menganggap Fabian musuh, Bella tidak ingin membuat hubungan mereka semakin memburuk. Padahal dulu Bella, Doni dan Fabian bersahabat dekat, namun karena cinta hubungan ketiganya menjadi renggang.


"Cewek... temen sekolah gue." Fabian jujur.


"Oh... pacar lo bukan?" Bella menyelidik.


"Bukan." Fabian menjawab tegas.


"Dia temen kecil gue, rumah kakeknya deketan sama rumah gue... so gue sama dia berteman baik." Jelas Fabian.


"Elo ngapain di sini?" Tanya Fabian balik.


"Gue disuruh mama buat ambil baju pesenannya."


"Oh... ya udah... gue duluan ya.." pamit Fabian pada Bella.


Bella mengangguk.


Fabian pun beranjak meninggalkan Bella.


"Bian!"


Baru saja Fabian melangkah, Bella memanggil kembali. Membuat Fabian menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Iya... ada apa Bell?"


"Yang ulang tahun itu beneran temen lo?"


"Iya." Fabian dengan mengangguk.


"Bukan pacar lo kan?" Bella memastikan.


"Bukan. Kenapa emangnya?" Fabian dengan mengerutkan kening.


"Em... gue... gue boleh ikut?" cicit Bella.


Fabian terkejut akan permintaan gadis itu.


"Tapi Bell..."


"Kalau itu bukan pacar lo, dia nggak bakalan cemburu kan sama kehadiran gue..." Bella seolah mengerti apa yang akan diucapkan Fabian selanjutnya.


"Bukan begitu Bell... gue sih nggak papa lo ikut gue, tapi em... gue gak mau ntar bikin lo dimarahin sama dia." Dia yang dimaksud Fabian adalah Doni kekasih Bella sekaligus cowok yang memacari isterinya.


"Doni nggak bakalan tau, gue nggak akan cerita sama Doni. Lagian Doni bilang lagi ke luar kota buat jenguk neneknya yang sedang sakit."


Fabian bingung.


"Gue boring, gabut gak ada kegiatan Fab... boleh ikut ya... please..." Bella memohon dengan puppy eyesnya.


Fabian terlihat menimang permintaan Bella. Terlepas dari dirinya yang pernah memiliki rasa pada Bella, mereka berdua memang pernah sangat dekat sebagai sahabat.


"Kita juga udah lama nggak hang out bareng kan Fab...?!"


Apa gue ajak dia aja ya... Ara kan gak mau... lagian mungkin dengan gue bawa pasangan, Nina pasti bakalan nyangka kalau gue udah punya pacar trus dia bakal berhenti mepet gue... Ucap Fabian dalam hati.


Sesungguhnya Fabian menyadari gelagat tidak biasa yang Nina tunjukkan padanya namun itu masih praduga Fabian saja. Fabian tidak ingin berprasangka buruk, lagian Fabian merasa jika dirinya tidak punya rasa pada Nina. Fabian sudah membentengi hatinya pada siapapun makhluk berjenis kelamin perempuan. Fabian sudah bertekad bulat untuk menyerahkan hatinya pada Khey isterinya, meskipun itu masih dalam proses.


"Lo yakin kalau dia lagi di luar kota?" Fabian memastikan. Bukannya Fabian mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan Bella namun Fabian merasa tidak ada salahnya dia dekat sebagai teman.


"Iya. Doni bilang kek gitu kok sama gue." Bella meyakinkan.


"Baiklah... kalau gitu. Lo ikut gue." putus Fabian.


"Tunggu gue ganti baju sekalian ya Fab..." Bella dengan senyum berbinar membingkai wajahnya.


"Ok." Fabian menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk tanda bulat.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Bella selesai dengan aktivitasnya memilih serta mengganti bajunya dengan dress yang sesuai deng


"Berangkat yuk gue udah siap." Bella berdiri di hadapan Fabian dengan senyum mengembang di bibirnya.


Fabian yang menunduk fokus pada ponselpun mendongak.


Deg.


Jantung Fabian berdegub kencang saat manik hitamnya mendapati Bella yang nampak cantik dengan balutan dress selutut berwarna maroon membalut tubuhnya.

__ADS_1


Gadis yang pernah dipujanya tersebut nampak cantik dengan polesan make up natural. Wajahnya terlihat berubah, tak nampak lagi wajah polosnya berganti dengan wajah cantik jelita bak putri dongeng.


Sesaat Fabian terpana saat melihat penampilan Bella, namun seketika Fabian memalingkan wajahnya saat menyadari jika dia memiliki Khey yang sudah diikatnya dengan akad.


Kemudian Fabian segera berdiri dengan tersenyum.


"Ok... go." Ucap Fabian dengan memasukkan kedua tangan pada kantung celana hitamnya dan berjalan lebih dulu tanpa menggandeng maupun mensejajari langkah Bella.


Bella yang mendapati sikap Fabian yang seakan menjaga jarak darinya, sesaat terheran. Namun detik betikutnya tidak ambil pusing dan mengikuti langkah Fabian untuk keluar dari butik.


Saat berada di depan butik, Fabian celingak celinguk mencari keberadaan mobilnya namun sepertinya sopir keluarganya tersebut belum datang.


Fabian pun mengeluarkan ponsel pintarnya hendak menghubungi sopirnya kembali.


"Fab... nail mobil gue aja." Bella terdengar mengucap kata sambil mensejajari Fabian.


Fabian menurunkan ponsel yang sempat diletakkan di dekat telinganya, memandang Bella sesaat.


"Baiklah." ucap Fabian kemudian berjalan menuju mobil Bella berada sambil memberitahu sopor pribadi keluargnya untuk mengantarkan mobil sportnya ke villa milik kakek Nina, dimana pesta ilang tahun sahabatnya itu akan diadakan.


πŸ“πŸ“πŸ“


Setelah Fabian berangkat, Khey kembali fokus pada laptop di pangkuannya untuk menyelesaikan tugas sekolahnya meskipun hari ini adalah malam minggu.


Huhh...


"Akhirnya kelar juga tugas gue." Khey menutup laptop di pangkuannya kemudian merentangkan kedua tangan ke atas serta meliak liukkan tubuhnya untuk memberikan peregangan pada otot ototnya yang terasa kaku.


Drrtt... drrt...


Tiba tiba saja ponsel Khey bergetar. Tangan Khey terulur untuk meraih ponselnya di atas nakas.


Senyum Khey terbit menghiasi wajah cantiknya saat melihat nama Doni sang kekasih terpampang di sana.


"Hallo..." Khey berseru senang setelah menggeser ikon panggilan pada ponsel pintarnya.


"Hallo yang... lagi ngapain?" Doni tetap saja mesra meskipun sempat memergoki Khey berdua dengan Fabian di kedai coklat beberapa hari lalu.


Doni memang sengaja tidak mempertanyakan kejadian itu pada Khey. Karena Doni tidak ingin memercik api pada hubungannya dengan Khey. Doni yakin jika Khey sangat mencintainya dan tidak akan pernah goyah oleh bujuk rayu Fabian.


"Nggak ngapa ngapain. Habis ngerjain tugas sekolah." jawab Khey jujur.


"Udah kelar kan?" Doni memastikan.


"Udah."


"Keluar sama gue yuk..." ajak Doni.


"Kemana?" tanya Khey.


"Nggak usah banyak nanya. Ntar lo juga tau..." Doni merahasiakan tujuannya karena jika dirinya mengatakan yang sebenarnya Khey pasti tidak akan mau. Doni paham jika Khey tidak menyukai keramaian.


"Baiklah... gue siap siap dulu. Daa... sayang." Khey menutup panggilan Doni setelah mendengar jawaban dari sang kekasih.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2