Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA66


__ADS_3

"Eh... Khey elo tau nggak kenapa Fabian akhir akhir ini gak pernah gangguin lo?" Alya dengan mendekatkan wajahnya pada Khey.


Tau lah... dia kan sudah puas godain plus ngerjain gue di rumah.... tentu saja itu hanyalah ucapan Khey dalam hati. Mana mungkin Khey berani menyuarakan, bisa bisa kedua sahabatnya itu langsung pingsan di tempat.


"Mana gue tau, gue kan bukan cenayang..." Khey pura pura acuh.


"Gue tau lo alesannya..." Alya dengan mengedipkan salah satu matanya.


"Alah... palingan juga karena Nina si model itu. Pasti mereka balikan, mereka kan pernah pacaran. Lagian kemarin mereka juga pelukannya di sekolah kan..." Khey sok tau dengan wajah pura pura santai, padahal dalam hatinya terbit rasa tidak rela.


"His... bukan... nggak usah sok tau lo. Yang itu kan baru gosip, yang ini baru benar...." Alya menepuk dadanya dengan pongah, seolah apa yang akan disampaikannya adalah kebenaran.


"Apaan coba... Bian punya cewek baru lagi?" Khey mencoba menebaknya.


"Yah... kok elo tau sih...." ucap Alya dibarengi dengan cebikan kesal.


"Loh.... Emang bener?" Khey terjengit dengan diiringi kelopak mata yang melebar.


Alya menganggukkan kepala untuk mengiyakan pernyataan Khey.


"Beneran gue nggak bohong. Gue sama Rhea kemarin ketemu di moll. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan kek mesra gitu. Si cewek yang ngaku pacarnya Fabian itu langsung nggandeng kek posesaif gitu sewaktu liat kita berdua. Dia juga dengan pede ngaku sebagai pacarnya." Alya dengan melebih lebihkan untuk melihat reaksi sahabatnya. Alya berharap jika sahabatnya itu menyukai Fabian agar bisa segera memberitahukan kebusukan Doni. Jika hati Khey sudah mulai menyukai Fabian maka Khey nggak akan terlalu sakit saat dirinya mengungkapkan kebusukan Doni.


"Elo nggak bohong kan Al?"


"Ngapain gue bohong..."


Apa mungkin karena itu makanya Bian bilang lagi bahagia....


Khey memutar kembali ingatannya pada peristiwa semalam.


Flashback on...


"Ra kita praktekin yuk, yang kek gitu..." Fabian dengan suara serak berbisik pada Khey.


Bisikan yang terasa seperti ******* itu membuat jantung Khey berdentum seolah jantungnya berhenti saat itu juga.


Apalagi posisi bibir basah Fabian yang telah bergerak menyusuri kulit permukaan ceruk bahunya, membuat Khey harus menahan sensasi gelenyer aneh yang menjalari seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Akan tetapi bagi Khey yang sejatinya belum berpengalaman tentang hal hal yang berbau mesum, membuat Khey harus menahan kuat air liurnya yang mulai menggenang dalam mulutnya.


Mau tak mau Khey kembali mengingat manisnya bibir Fabian yang pernah mengajari dan memberikan pengalaman sentuhan pertama akan nikmatnya cecapan basah yang saling bertaut tersebut.


"Ra... boleh ya..."


Bingung, cemas serta bibirnya yang kelu membuat Khey seketika membeku, tak mampu menolak maupun mengiyakan permintaan sang suami tengil.


Kedua manik mata Khey menatap lurus pada layar datar yang masih saja mempertontonkan adegan sepasang kekasih yang berciuman. Sebenarnya adegan ciuman itu bukan ciuman panas layaknya di film film barat yang sangat erotis, melainkan hanya ciuman ringan yang terlihat tidak menuntut namun keduanya saling menikmati dan berbalas cecapan dengan sesekali menjeda untuk menghirup oksigen kemudian kembali melanjutkan kembali dengan wajah yang berbinar saling menikmati indahnya masa pacaran ala remaja.


Khey meneguk salivanya kuat, ingin rasanya mengangguk mengiyakan keinginan Fabian, toh mereka berdua sudah sah, sudah halal namun rasa malunya malah membuat tubuhnya membeku.


Tanpa disadari oleh Khey bibir Fabian telah berada pada sudut bibir Khey dengan memberikan kecupan kecil di sana.


Khey hanya mampu diam dengan jemari yang tidak berhenti saling meremas. Rasa gugup bercampur malu membuat kedua matanya memejam. Debaran lirih dari dalam dadanya menghadirkan rasa hangat yang menjalari seluruh tubuhnya. Khey tak mampu menutupi ketegangan tubuhnya yang menantikan sentuhan selanjutnya.


Beberapa saat menunggu Khey tidak merasakan apapun pada bibirnya, hingga akhirnya Khey pun kembali membuka kedua matanya. Lalu menoleh ke samping di mana Fabian duduk di sana.


Hek.


Wajah Fabian dengan senyuman khas tengilnya tepat di hadapan wajahnya. Sepertinya Fabian tidak jadi memberikan ciuman kepadanya.


Kenapa?


Ingin rasanya Khey mengungkapkan pertanyaan itu namun bibirnya terasa kelu, hingga Khey hanya mampu mengucapkannya di dalam hati saja.


"Untung gue lagi bahagia... jadi gue gak tega memaksa lo." Lagi Fabian dengan senyum tengil namun nampak manis menurut Khey saat ini.


Kedua tangannya menarik pinggang Khey lembut, merapatkannya ke sisinya kemudian membawa tempurung kepala Khey menyender pada dada bidangnya.


"Gue pengen saat kita ciuman nanti, bukan gue aja yang suka dan menikmatinya. Gue pengen elo juga rela dan menikmati manisnya." Fabian dengan mengusap lembut surai hitam Khey dengan sesekali mencium pucuk kepala sang isteri.


Khey hanya mampu menerima tanpa mampu menolaknya. Sesungguhnya Khey juga ingin merasakan kembali cecapan manis itu namun karena gengsinya yang cukup tinggi Khey tidak mampu mengatakannya pada Fabian.


Flashback off...


"Cewek yang ngaku pacarnya Fabian itu cakep juga, manis tapi menurut gue kek masih abg banget. Apa mungkin masih anak SMP ya..." Alya terlihat berfikir untuk mengingat raut wajah Septi yang dipikirnya adalah benar kekasih Fabian tengil.

__ADS_1


Kening Khey mengerut.


Tetiba saja rasa penasaran menyelimuti hati Khey setelah mendengar penuturan Alya.


"Dia beneran masih abg atau memang wajahnya yang imut ya..." Alya masih saja berusaha mengingat wajah yang kemarin telah mengaku sebagai kekasih Fabian.


"Bisa jadi keduanya." Khey menimpali.


"Maksud lo?" Alya menoleh dengan memincingkan mata pada Khey.


"Elo ingat nggak kejadian di kantin waktu itu, yang Jackson menyebutkan Fabian tengil pedofil..."


Khey dan Alya pun terlihat semangat, kembali mengingat peristiwa di kantin yang sudah berminggu minggu berlalu tersebut.


"Iya, gue inget." Alya dengan berseru.


"Hus... nggak usah kenceng kenceng napa Al..." Khey dengan memberi tanda menutup mulutnya dengan jari telunjuk sembari menoleh ke arah sekitar ruangan


kelasnya. Beruntung tidak ada yang bereaksi akibat seruan Alya.


"Gak papa, gak ada yang peduli juga. Lagian gue kan enggak nggosipin mereka. Yang gue gosipin ini mah palingan juga asyik ngendon di kantin." Alya menebak keberadaan Fabian sok tahu.


"Mungkin itu cewek yang fotonya disimpen Fabian dalam dompetnya. Masih ABG kan... imut kan..." Khey memastikan tebakannya.


Alya mengerutkan keningnya kemudian mengangguk cepat, seolah membenarkan ucapan Khayyara.


"Elo tau namanya nggak?" Khey menjadi semakin penasaran setelah melihat anggukan kepala Alya.


"Nama siapa?" Alya bertanya dengan wajah bodohnya.


Hissh... Khey mencebik sebal pada Alya yang sering kali lola saat dibutuhkan.


"Nama cewek itu... yang ngakunya pacar Fabian."


"Namanya siapa ya... kok gue lupa sih... Haduh siapa sih yak..." Alya menggaruk pelipisnya berusaha mengingat nama gadis itu.


😍😍😍😍

__ADS_1


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻


__ADS_2