
Tring...
Sebuah nada tanda pesan masuk menginterupsi istirahat siang Khey yang sedang bercanda dengan kedua sahabatnya.
Fabian
Temuin gue di belakang perpustakaan
Ara
Ngapain
??
Fabian
Lo bil mo jln brg
Ara
Ngetik paan sih...
Gak jelas beut
ππ
Khey dengan memberi emoticon tidak memahami ketikan pesan dari Fabian.
Fabian
Lo bilang mau jalan bareng
Ara
Sama lo???
Lo mau ngajakin gue bolos lagi?
Gue ogah ya...
Fabian
Bukan sm gue
Sama temen temen elo kan
katanya sama uang saku
Gak jadi nih duitnya?
Yakin..
Khey menepuk jidatnya saat membaca pesan dari Fabian tengil. Ternyata Khey telah melupakan negoisasinya dengan Fabian tadi pagi.
Ara
Sorry
Gw lupa
Ntar aja pulang sekolah napa
Fabian
Gue nggak bisa
Sekarang aja
Ara
Okey
Siap
Cuzz ambil
Khey segera beranjak dari duduknya untuk menemui Fabian.
__ADS_1
"Mau kemana lo Khey?" tanya Rhea saat Khey terlihat terburu buru beranjak dari duduknya.
"Eh... mau toilet gue." Khey memberi alasan.
"Mau ikutan?" Khey bertanya basa basi untuk meyakinkan kedua sahabatnya. Namun dalam hati sangat berharap jika kedua sahabatnya tidak mau.
"Toilet? ikut... Ogah..." Alya dengan mencebik.
"Gue juga nggak. Elo sendirian aja yak." Rhea.
"Sapa tau aja elo berdua juga pengen ke sana." Dalam hati Khey bersyukur karena kedua sahabatnya tidak mau menerima ajakannya.
Baru saja beberapa langkah.
"Khey tunggu..." Rhea tetiba sudah di belakang menepuk pundaknya.
Khey pun menghentikan langkah kakinya, menoleh sesaat ke belakang. Dalam hati Khey menggerutu karena sepertinya Rhea akan ikut bersamanya.
"Apa?" Khey dengan berusaha menutupi wajah enggannya.
"Gue nitip roti sama susu kotak di kantin ya...." Rhea menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan Khey dengan tersenyum memohon.
"Oh... kirain apaan." Khey dengan lega, itu berarti Khey tidak perlu main petak umpet dan mencari alasan lagi untuk menemui Fabian tengil.
"Khey tunggu!" Rhea berseru.
"Apa lagi sih..." Khey mengeram.
"Ntar belinya setelah dari toilet yak, jangan sebelumnya. Takutnya terkontaminasi sama..." Rhea sengaja menggantung ucapannya dengan terkikik geli.
"Njir... sialan lo Rhe..." Khey pun ngeloyor keluar kelas sebelum sahabatnya tersebut berubah pikiran untuk mengikutinya.
Khey melangkahkan kakinya dengan cepat. Entah mengapa rasa hatinya tak sabar untuk segera bertemu dengan Fabian tengil. Padahal semalaman cowok tengil tersebut memeluknya erat, bahkan pagi tadi mereka berangkat bersama meskipun Khey diturunkan di tikungan sebelum sekolah.
Sesungguhnya Fabian tidak masalah jika membonceng Khey hingga masuk ke area sekolah, namun Khey menolaknya karena belum siap melakukannya.
Ketika sampai di ujung koridor hendak membelok ke belakang perpustakaan sekolah tempatnya berjanji temu dengan Fabian, Khey melihat sosok jangkung Fabian tengil memasuki kantor kepala sekolah. diiringi dengan seorang guru di sisinya.
Khey pun menghentikan langkah kakinya dengan kening mengerut.
"Ngapain Fabian masuk ke ruang kepala sekolah, apa dia melakukan kesalahan ya..." tanya Khey dalam hati tanpa memutus pandangannya hingga sosok Fabian tengil menghilang di balik pintu kantor kepala sekolah.
Khey masih membeku di tempatnya dengan berbagai pertanyaan memutari tempurung kepalanya, sesekali memandang pintu ruangan kepala sekolah. Khey berharap Fabian segera muncul.
Namun beberapa menit menunggu, cowok jangkung bergelar suaminya itu tidak kunjung keluar.
Khey pun memutuskan untuk menunggu di tempat janjinya bertemu dengan Fabian.
Selama menunggu Fabian, Khey duduk dengan memainkan ponsel pintarnya untuk menghilangkan kejenuhannya.
"Sorry... lama nunggunya?" suara Fabian tertangkap pendengaran Khey hingga gadis itu pun mendongak.
Khey tersenyum. "Nggak kok, belum lama. Eh... elo tadi..."
"Kenapa?" Fabian dengan mengerutkan dahinya.
"Nggak ding ntar aja di rumah." Khey menurunkan niatnya untuk mempertanyakan kepentingan Fabian masuk ruang kepala sekolah.
"Mau langsung berangkat atau pulang ganti baju dulu nantinya?" Fabian dengan mendudukkan diri di sisi Khey.
"Langsung tancap, sepulang sekolah." jawab Khey.
"Oh gitu." Fabian dengan merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan dompet dan membukanya. Mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah lalu menyerahkannya pada Khey.
"Nih, gunakan dengan bijak..." Fabian mengangsurkan lembaran uang berwarna betah tersebut pada Khey.
Khey melebarkan kedua bola matanya setelah menerima dan menghitung jumlah lembaran uang kertas dari Fabian.
"Bi... ini kebanyakan..." ucap Khey saat mengetahui jumlah uang di tangannya.
Uang pemberian Fabian berjumlah dua puluh lembar, itu berarti uang ditangannya adalah senilai dua juta rupiah.
Meskipun jumlah itu tidak sebanding dengan pemberian uang saku dari kedua orang tuanya. Namun menurut Khey jumlah itu terlalu banyak mengingat Fabian yang harus bekerja setelah pulang sekolah.
"Nggak papa, nanti buat traktir temen lo makan Ra... nggak usah beli barang yang nggak penting."
"Tapi Bi..."
__ADS_1
"Nggak papa, ntar gue cari lagi. Bersenang - senanglah." Fabian dengan tersenyum.
"Thanks Bi..." Khey pun tersenyum senang. Tidak menyangka jika Fabian memanjakan dirinya.
"Jangan aneh aneh, jangan ganjen, nggak usah lirik lirik cowok. Ingat udah punya suami." Fabian dengan menahan tangan Khey karena gadus itu hendak beranjak pergi.
"Iya... tau.." Khey manyun.
"Nggak ikhlas banget keknya, pasti main belakang entar." Fabian bercanda.
"Enggak lah... enakan main depan daripada main belakang." Khey membalas candaan Fabian dengan mengerlingkan salah satu matanya.
Fabian terkekeh kecil.
"Nggak pamit sama suami..." Fabian sedikit berseru karena Khey berlalu begitu saja.
Khey pun menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya mengahadap Fabian.
"Dapat duitnya, cuekin orangnya kek gini mah..." Fabian berdiri dengan tatapan menggoda Khayyara.
Khey pun maju selangkah kembali.
"Mana tangannya..." Khey dengan mengangsurkan tangannya.
Fabian pun meraih tangan Khey. Khey segera mencium punggung tangan Fabian. "Makasih suami..."
"Gitu doang..." Fabian.
"Iyalah... dua jeti keknya setimpal lah dengan ciuman tangan." Khey terkekeh.
"Mehong bener istri gu..."
Cup...
Belum selesai Fabian berucap kata, Khey membungkam bibir Fabian sekilas dengan bibirnya kemudian dengan segera berlari meninggalkan Fabian dengan wajah cengonya.
πππ
"Asyik banget filmnya, tapi endingnya nyesek yak..." Rhea berucap kata saat dirinya, Khey serta Alya keluar dari blockbuster movie yang terdapat di salah satu mall besar yang mereka kunjungi.
Khey hanya mengangguk setuju karena mulutnya sedang mengunyah popcorn terakhirnya.
"Gue nggak suka ya sama ceweknya... lemah banget. Bikin greget aja..." Alya mengeram dengan mengepalkan salah satu telapak tangannya dengan kesal.
"Iya... cowoknya jadi bisa berbuat semuanya." Rhea pun mengoceh kesal.
Khey tertawa kecil melihat kedua sahabatnya yang mempersoalkan film genre remaja yang baru saja mereka tonton beberapa saat lalu.
"Kemana lagi nih?" Khey menginterupsi ocehan kedua sahabatnya.
"Hunting baju udah, makan udah, nonton udah... ke atas ngegame yuk..." Rhea memberi ide.
"Gue sih ayook aja." Khey dengan suka cita.
"Udah sore ini, kalian nggak pada absen dulu...?" Alya sembari melirik jam yang melengkapi pergelangan tangannya.
"Sorry gue lagi free..." sahut Rhea cepat.
"Gue juga... baru dua hari." jelas Khey.
"Yah... alone dong gue..." Alya terlihat tidak bersemangat.
"Kita anterin deh... temenin yuk Khey..." Rhea meminta persetujuan sahabatnya.
"Okey. Gue juga pengin nyemil rujak es krim di bawah." Khey mengangguk setuju.
Ketiganya pun berjalan beriringan dengan bergandengan tangan untuk menuju mushola yang letaknya di lantai bawah mall.
"Eh tunggu... tunggu..." Rhea menahan kedua sahabatnya yang hendak menginjakkan kaki pada eskalator.
"Apaan sih Rhe..." Alya dengan sedikit tersentak kaget.
"Itu kan..." Rhea menunjuk seorang gadis yang tengah berjalan sendirian dengan memakai seragam sekolah menengah pertama. Gadis itu berjalan menuju ke arah mereka bertiga.
"Pacar Fabian!" celetuk Alya dengan terpana karena melihat gadis yang telah mengaku sebagai pacar Fabian tersebut memakai seragam anak smp.
"Pacar Fabian..." gumam Khey dengan mengikuti arah pandangan kedua sahabatnya.
__ADS_1
ππππ