Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
Gadis itu


__ADS_3

"Katanya mau bawa gue ke tempat kerja, kok malah ke sini sih." Khey dengan mengernyit bingung saat Fabian mengajaknya ke restoran yang pernah menjadi tempat kencannya dengan Doni.


Karena cuaca hari ini yang mendung dan tidak mendukung untuk jalan jalan, Khey memang meminta Fabian untuk menunjukan tempat kerjanya saja. Supaya nantinya lebih gampang jika Khey ingin mengunjungi Fabian saat dirinya boring sendirian.


Dan dengan senang hati Fabian membawa Khey ke restoran miliknya yang telah ia percayakan pengelolaannya pada Farrel sahabatnya.


"Elo minta tunjuk tempat kerja gue kan?"


"Iya. Tapi..." Khey menjelang ucapannya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bukannya Khey meragukan kemampuan dompet Fabian. Namun Fabian seharusnya tahu jika ia sudah makan di rumah, dan rasa rasanya perutnya masih kenyang.


"Kok lo malah ngajakin makan sih. Gue kan udah makan Bi." Khey mengatakan isi hatinya dengan menunjukkan raut wajah bingung pada Fabian. Tidak mungkin kan Fabian lupa akan perkataannya saat dalam perjalanan tadi.


Fabian memang sempat menawari Khey untuk membeli makanan di pinggir jalan dan juga menawarinya untuk mampir ke kedai yang menyediakan makanan ringan selama perjalan tadi. Namun Khey menolak dan mengatakan jika ia masih sangat kenyang.


Akan tetapi sekarang Fabian malah mengajaknya berhenti di sebuah restoran mewah yang menjadi tempatnya bertemu dengan Doni beberapa hari lalu.


"Ini salah satu tempat kerja gue."


Fabian tersenyum seraya menggandeng tangan Khey yang masih nampak heran.


"Jadi di sini tempat lo markir itu Bi?" Khey dengan menahan tangan Fabian yang hendak membawanya masuk ke dalam restoran.


Khey masih saja teringat pengakuan Fabian yang menyebutkan dirinya menjadi tukang parkir untuk mendapatkan uang.


Meski Khey sangat tahu jika keluarga Fabian adalah orang yang sangat kaya namun Khey sedikit banyak mengetahui jika Fabian adalah sosok pekerja keras tak peduli dengan banyaknya kekayaan yang dimiliki kedua orang tuanya.


Fabian memanjangkan bibirnya tersenyum. Ternyata gadis itu masih saja mengira dirinya pulang malam karena jadi tukang parkir.


"Bukan. Lahan gue markir bukan di sini. Nanti aku tunjukin tempatnya. Sekarang gue tunjukin salah satu tempat gue belajar bisnis.


"Belajar bisnis." ulang Khey dengan mau tak mau mengikuti langkah kaki Fabian yang telah menarik pergelangan tangannya masuk ke dalam restoran.


Banyak tanya dalam benak Khey saat mendapati karyawan restoran yang membungkuk hormat kepada dirinya dan Fabian saat memasuki restoran.


"Ah... bukankah hal itu normal dilakukan mereka jika ada pengunjung yang datang." Khey membatin.


Keduanya berjalan semakin masuk ke dalam restoran.


Tak sedikit pun Fabian melepaskan pegangan tangannya dari tangan Khey. Meski gadis itu berjalan sedikit lambat karena kedua matanya bergerak menjelajah setiap sudut restoran yang membuatnya sangat kagum.


Padu padan interior restoran itu sangat pas dan mewah.

__ADS_1


Terhitung telah tifa lali Khey memasuki restoran tersebut, namun baru kali ini Khey dapat menikmati suasana restoran yang elegan dan mewah tersebut.


Di lantai bawah tempat Khey berjalan saat ini adalah tempat yang biasa dikunjungi oleh pasangan yang tekah berusia matang. Mereka biasa melakukan dinner atau melepas penat dari padatnya aktifitas pekerjaan bersama pasangan ataupun keluarga mereka di sini. Karena itu di lantai dasar ini dilengkapi dengan area playground yang cukup luas serta ramah anak.


Pasangan muda yang telah memiliki buah hati usia balita lebih menyukai tempat ini. Karena mereka bisa makan bersama pasangan tanpa khawatir buah hati mereka rewel.


Fabian menarik tangan Khey memasuki lift yang telah terbuka.


"Elo kan bukan sekali ini datang ke sini Ra." Fabian bukan bermaksud merusak kesenangan Khey mengagumi restoran miliknya.


"Iya. Tapi gue baru kali ini bisa menikmati suasana Bi." aku Khey dengan jujur.


"Emang sebelumnya enggak?"


"Enggak lah. Kan lo tau kemaren gue ke sini karena ketemuan sama Doni." Khey mengingatkan.


"Bisa juga kan sambil menikmati suasananya."


"Enggaklah. Gue aja keburu buru."


"Takut ketahuan sama gue kan?!" Fabian sengaja menggoda dengan merapatkan tubuhnya pada Khey.


Cup.


Fabian mendaratkan kecupan singkat pada bibir monyong Khey. Dan itu membuat mata Khey mendelik.


Melihat itu Fabian terkekeh. "Udah sah kan..."


"Tetep aja ini di luar Bi. Nggak ada cctv kan?" Khey menoleh ke setiap sudut lift yang mereka naiki.


"Tu kan Bi ada cctv nya. Ntar kalau disebarkan sana operator resto yang nggak bertanggung jawab gimana coba?" Khey melayangkan tatapan kesal pada sang suami.


"Nggak bakalan." Fabian santai dengan mengusapkan ibu jari pada bekas kecupan di bibir Khey yang masih meninggalkan jejak basah di sana.


Kling


Tiba tiba pintu lift terbuka diikuti dengan seseorang gadis yang memasuki lift saat Fabian masih mengusap bekas kecupannya pada bibir Khey.


Khey pun segera menepis tangan Fabian karena merasa malu ada yang memergoki. Meski dirinya dan Fabian adalah pasangan suami istri yang sah namun Khey tetap saja malu jika berada di luar rumah seperti ini. Pasalnya tak sedikit yang menduga keduanya hanyalah sepasangan remaja yang masih pacaran.


Fabian terlihat berdecak kemudian meraih pinggang Khey untuk merapat dengan tubuhnya. Terlihat posesif.

__ADS_1


"Bian."


Seketika Fabian mendongak mendapatkan panggilan dari seseorang yang barusan masuk lift.


"Eh elo Bell."


Fabian terdengar tidak ramah dan makin mengeratkan tangannya pada pinggang Khey seolah menunjukkan kemesraannya dengan Khey pada Bella.


Fabian sengaja melakukannya karena masih merasa kesal akan sikap Bella yang hanya diam tanpa memberi penjelasan saat di rumah sakit saat bertemu dengan papa gadis itu. Alhasil Fabian harus merasakan bogeman pada wajahnya dari papa Bella karena mengira dirinya yang telah menghamili anak gadisnya.


Meski masalah tersebut telah berlalu dan sudah ketahuan siapa pelakunya, Fabian tetap saja merasa kecewa pada sikap Bella. Untuk itu Fabian sengaja membuat jarak dengan Bella.


"Elo kenal Bi?" Khey dengan menatap Fabian.


"Dulu pernah satu esempe bareng. Kenapa cemburu?" Fabian dengan sengaja mencubit kecil pipi Khey dengan mesra.


"Sakit Bi." tepis Khey pelan.


"Nggak usah cemburu. Cuma temen doang." Fabian dengan membawa wajah Khey menghadap ke arahnya dan menatapnya lekat.


Cup


Dengan sengaja Fabian memberikan kecupan singkat tepat di bibir pink Khey.


Tak ayal membuat Bella terbelalak serta membekap mulutnya yang reflek terbuka dengan kedua tangan.


"You're the only one in my heart." ucap Fabian dengan menatap dalam manik hitam Khey. Gadis itu terlihat salah tingkah akan tindakan manis Fabian yang menurutnya tiba tiba.


Khey pun terhenyak saat menoleh, netranya menangkap Bella yang masih tetap pada posisi nya dengan membekap mulut.


Khey pun refleks mendorong tubuh Fabian menjauh darinya.


Sedangkan Bella memilih segera keluar tanpa pamit kerena pintu lift telah terbuka.


"Temen lo malu kan Bi." Khey dengan memandang punggung Bella yang telah keluar dari lift.


"Biarin." Fabian dengan menghembus nafas pelan. Dia memang sengaja melakukan di depan Bella.


"Eh tunggu... gadis itu bukane..." Khey menggantung kalimatnya lalu membuka tas selempang miliknya guna mencari ponsel pintarnya.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2