Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)

Mendadak Nikah 2 (Married By Accident)
MBA107


__ADS_3

Hiks... hiks...


Khey tidak berhenti terisak sembari menumpukan wajah pada punggung Fabian.


Posisi Fabian yang memunggungi Khey saat ini membuatnya segera berbalik ke arah belakang, menghadap Khey.


"Udah... nggak usah nangis, cuma seminggu jugak." Fabian lagi lagi harus menyusut air mata pada wajah Khey dengan sabar.


Semenjak semalam gadis bar bar itu tidak berhenti mengeluarkan air matanya, menangisi Fabian. Membuat Fabian yang biasanya bertingkah tengil bin konyol di hadapan Khey menjadi mati gaya.


Fabian tidak berani menggoda Khey lagi.


"Hey... udah. Malu diliatin banyak orang tuh..." Fabian dengan tetap sabar berusaha menenangkan sang isteri sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Seolah menunjukkan pada Khey jika saat ini banyak orang yang memperhatikan tingkah Khey.


Saat ini keduanya berada di bandara untuk melepas kepergian Fabian ke Bali.


Seharusnya Fabian sudah berangkat beberapa jam lalu bersama rombongan sekolahnya. Hanya saja karena dia tidak tega melihat kondisi Khey yang sepertinya berat berpisah dengannya, Fabian pun memutuskan menunda keberangkatannya.


Beruntung sekolah memperbolehkannnya. Dan kebetulan saat ini Ayah Fabian pun hendak bertolak ke Bali untuk mengurusi beberapa proyek di sana. Alhasil saat ini ada ayah dan bunda dari.


Ayah Fabian sesekali menyenggol lengan isterinya.


"Dasar suami isteri remaja ya Bun..." ucap ayah Fabian dengan senyum kecil.


"Ayah juga dulu seperti itu waktu pertama kali kita berpisah karena ayah tugas ke luar daerah." Bunda Fabian tersenyum kecil dengan nada mengejek sang suami. Ekor matanya tidak berhenti memandang Fabian dan Khey yang masih saja terlihat enggan berpisah.


Jarak mereka yang beberapa langkah dibelakang pasangan remaja itu berdiri membuat Khey tidak menyadari jika kedua orang tua Fabian mengamati mereka.


"Ayah enggak gitu gitu amat kok bun."


"Siapa bilang... ayah malah lebih parah dari mereka, ayah yang enggak mau ninggalin bunda padahal bunda mah seneng aja kalau ayah pergi pergi." Bunda masih saja menggoda ayah.


"Enggak." Ayah tetap mengelak.


"Iya. Padahal waktu itu ayah sudah berumur, bukan remaja lagi. Tapi kelakuannya lebih parah dari Abi. Abi malah keliatan tenang tuh, beda jauh sama ayah..." Bunda makin semangat menggoda ayah.


"Enggak usah diperjelas gitu lah bun..." Ayah terkekeh kecil lalu merangkul bahu sang isteri. Mendorong untuk melangkah maju.


"Ayah ngapain dorong sih..." Bunda berusaha tetap di tempatnya.


Bukannya menjawab ayah malah memperlihatkan benda hitam yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya.

__ADS_1


"Waktunya hampir habis, bentar lagi berangkat bun. Kita pisahin mereka yuk, biar habis ini mereka ngerasain rindu setengah mati." Ayah dengan mengerlingkan mata pada bunda.


"Ayah ih... masih aja..." Bunda tersenyum menyikut perut sang suami yang sedikit membucit.


"Bunda ih... jangan perutnya yang dicubit, kalau yang lain boleh. Apalagi kalau bawahnya lagi, ayah suka..." Ayah dengan tingkah konyolnya.


"Ayah!! Jangan konyol." Bunda dengan melotot serta mengencangkan cubitannya pada perut buncit sang suami.


Ayah pun terlihat meringis.


Sepertinya sikap tengil Fabian menurun dari ayahnya.


"Belum mau lepas nih..." Ayah menggoda Fabian dan Khey setelah berada di dekat pasangan remaja tersebut.


Khey yang semula menumpukan wajah pada dada Fabian pun sontak mendongak.


"Eh... maaf." Khey malu dengan merenggangkan pelukannya pada tubuh Fabian.


"Peluk suami nggak salah kok, nggak perlu minta maaf." Lontar ayah Fabian, masih dengan nada menggoda. Lagi lagi tidak bisa menahan sikap tengilnya. Membuat sang menantu semakin menunduk malu.


"Semalem nggak diservis Bi..." Lontar Ayah Fabian dengan mengerling pada anak semata wayangnya.


"Sah sah aja ABG nya udah nikah kok." masih saja ayah Fabian menggoda anak dan menantunya.


Khey tetap menunduk, gugup, malu, rasanya bercampur aduk menjadi satu. Ini adalah pertama kalinya Khey bertemu kembali dengan kedua orang tua sang suami semenjak acara ijab qobul pernikahan mereka beberapa bulan lalu.


Bunda Fabian yang melihat akan hal itu berjalan mendekati Khey kemudian mengusap lembut punggung sang menantu.


"Nggak usah didengerin omongan ayah. Ayah memang kek gitu, konyol." ucap Bunda Fabian dengan lembut.


Sontak Khey pun mendongak saat mendengar ucapan lembut penuh keibuan yabg disertai dengan usapan lembut berulang pada punggungnya.


Kheh pun membingkai senyum tipis pada wajah cantiknya yang masih setengah sembab.


"Cuek aja. Ara udah biasa dengan konyolnya suamimu kan...?! Mereka sebelas duabelas kelakuannya." Lagi bunda dengan senyuman lembut. Membuat Khey sedikit tertegun sesaat.


Bunda Fabian memilih memanggil Khey dengan sebutan Ara karena itu adalah nama kecil gadis yang telah menjadi menantunya tersebut.


Dulu sekali bunda Fabian juga terbiasa memanggilnya dengan sebutan Ara. Bahkan Ara kecil yang selalu menyebutkan dirinya sebagai isteri Abi itu suka menempel dengan bunda Fabian. Bahkan cenderung manja. Hanya saja Khey belum menyadari siapa Fabian dan keluarganya. Hingga saat ini Khey belum menyadarinya.


"Ara lama lama bakal terbiasa nanti." lagi Bunda berucap kata dengan senyuman lembut yang bakal membuat siapapun merasakannya sebagai perhatian yang tulus.

__ADS_1


Perlahan Khey menganggukkan kepala berulang dengan senyum yang masih malu serta canggung.


Fabian mengusap lembut lengan tangan Khey yang masih dalam genggamannya.


Dalam hati Fabian bersyukur karena memiliki seorang ibu yang penuh kasih dan perhatian. Nyatanya mampu membuat isteri bar barnya sedikit tenang dan tersenyum.


Di saat saat seperti ini kehadiran bundanya sangat membantunya.


"Mau tinggal sama bunda selama gue tinggal ke Bali?" tanya Fabian penuh perhatian setelah bundanya mendekat pada ayahnya.


Fabian bertanya demikian karena merasa jika kedua orang tua Khey jarang di rumah. Fabian takut jika Khey merasa kesepian.


Khey menggelengkan kepalanya perlahan, menolak tawaran sang suami.


"Biar ada temennya." bujuk Fabian.


"Enggak. Di rumah aja." Khey tetap menolak dengan gelengan.


"Kenapa? Bayangin ibu mertua jahat kek di sinetron ikan terbang?" Fabian menggoda dengan mendekatkan wajahnya.


"Enggak... bukan gitu Bi..." Khey dengan manyun.


Fabian tertawa kecil.


"Lantas?"


"Belum terbiasa aja. Takutnya canggung. Nanti aja kalau lo udah pulang dari Bali kita nginep di rumah orang tua lo." jawab Khey dengan alasan.


"Janji ya..." mengacungkan jari kelingkingya pada sang isteri.


"Janji." Khey dengan mengangguk setuju, menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Fabian. Tak lupa menyunggingkan senyum pada wajahnya.


"Baik baik ya di rumah, jangan lupa telfon gue buat penawar kangen." Fabian dengan memeluk Khey tak lupa menyematkan bibirnya pada kening Khayyara cukup lama. Khey pun menutup kedua kelopak matanya seolah menghayati cuman sang suami.


"Harusnya di sini Bi... bukan di sini" seru ayah menggoda Fabian dengan menunjuk bibir lalu kening miliknya sendiri. Sesaat setelah Fabian menyelesaikan ciumannya.


"Ayaahh..." Bunda dengan melotot.


Fabian terlihat cengengesan, menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Sedangkan Khey menundukkan wajah, menyembunyikan semburat merah malunya.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2