
Fabian hanya bisa terdiam dengan melajukan mobil milik Farell segera keluar dari area gedung olah raga.
Dalam hati Fabian menyayangkan kejadian tersebut. Maksud hatinya ingin menutupi kebusukan Doni agar tidak terlihat oleh Khey, namun pada akhirnya Khey dapat melihatnya dengan cara yang lain.
Fabian hanya bisa mengumpat dalam hati serta mencengkeram kemudi mobil dengan kuat.
Suasana di dalam mobil hening seketika tanpa ada pembicaraan antara Khey dan Fabian. Keduanya berkutat dengan pikiran masing masing.
Fabian dengan fokus mengemudi sedangkan Khey membuang pandangannya ke arah luar. Fabian tahu Khey tidak baik baik saja saat ini, namun bibirnya terasa kelu untuk berucap kata atau hanya sekedar berbasa basi pada gadis yang duduk di kursi penumpang tersebut.
Seett...
Fabian tetiba menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu membuka pintu dan keluar. Setelahnya berjalan keluar memutari mobil lalu membuka pintu pada sisi penumpang dari luar.
Fabian melongokkan kepala ke dalam mobil, dimana Khey masih duduk di sana dan memandang Fabian bingung.
"Keluar gih..." Fabian dengan mengambangkan tangan di hadapan Khey agar gadis bergelar isterinya itu menyambut tangannya dan keluar dari dalam mobil.
Khey menatap wajah serta tangan Fabian silih berganti dengan terlihat enggan.
"Turun cepet." Fabian seolah memaksa.
"Ngapain turun, mau kemana?" Tita terlihat malas dengan membuang pandangan dari Fabian.
"Kita cari udara segar." Fabian dengan kembali mengulurkan tangan di hadapan Khey.
Khey pun mau tak mau menyambut uluran tangan Fabian lalu menegakkan tubuhnya dan beranjak keluar. Mungkin saja dengan menuruti Fabian, bisa sejenak melupakan kejadian dimana dirinya melihat Doni memeluk seorang gadis beberapa saat lalu.
Setelah Khey keluar Fabian menarik pergelangan tangan Khey untuk mengikuti langkahnya dengan tak lupa menutup dan mengunci pintu mobil milik Farell sebelum meninggalkannya.
Dengan satu tangan dimasukkan ke dalam kantong celana seragam dan satu tangannya menuntun pergelangan Khey, Fabian mengajak Khey berjalan melewati sebuah taman yang tak asing bagi Khey.
Khey mengedarkan pandangan ke seluruh taman tanpa berucap kata, dirinya hanya terdiam dengan mengiringi langkah kaki Fabian di sisinya.
Dalam hati Khey merasa tidak asing dengan taman yang dilaluinya bersama Fabian tersebut, namun dirinya lupa kapan pernah ke sana.
Beberapa saat berjalan masuk ke dalam taman, sampailah keduanya pada sebuah danau yang memberikan pemandangan yang indah dan menyejukkan. Bahkan di ujung danau terdapat sebuah air terjun kecil yang menyatu dengan sebuah bukit kecil di balik danau.
Wow... gumam Khey lirih pada bibir mungilnya. Khey terlihat sangat terpesona akan pemandangan indah di depannya.
Fabian melepaskan pergelangan tangan Khey, membiarkan gadis itu berjalan mendekati pinggir danau.
Euhmm...
Khey menghirup oksigen dalam sembari memejamkan mata, seolah ingin menghirup oksigen tersebut sepuasnya. Merentangkan kedua tangannya, seolah melepaskan ketegangan dari seluruh tubuhnya.
Semilir angin yang lembut membuat rambut hitam Khey yang tergerai bergerak bebas ke belakang. Menyibakkan wajah putih Khey yang terlihat sangat cantik.
Fabian tersenyum tipis saat melihat Khey tidak setegang beberapa saat lalu. Fabian dapat melihat jika wajah gadis itu mulai berbinar. Entah itu berbinar karena pemandangan indah di depannya atau benar berbinar karena telah melupakan kejadian yang pastinya menyesakkan beberapa saat lalu.
"Seger kan...?" Fabian berucap kata setelah melajukan langkah kakinya sejajar dengan Khey yang masih memejamkan mata menikmati oksigen dan angin yang semilir.
Khey pun perlahan membuka kedua matanya lalu mengangguk mengiyakan ucapan Fabian.
"Gue suka." Khey dengan menatap lurus ke depan, pada danau yang berkilau karena terkena sinar matahari sore.
"Ini tempat favorit gue." Fabian dengan mengikuti arah pandangan Khey yang menatap lurus ke depan.
"Lo sering ke sini?" Khey bertanya.
"Iya."
"Lo pernah ngajakin siapa aja?" entah mengapa dari sekian pertanyaan, keingintahuan Khey tentang siapa saja orang yang diajak Fabian ke tempat tersebut membuatnya penasaran. Sedikit berharap jika dirinyalah satu satunya yang ditunjukkan tempat favorit Fabian tersebut.
"Banyak." Fabian jujur.
Khey terdengar menghembuskan nafas pelan. Ternyata bukan cuma gue yang diajaknya ke sini. Khey membatin sedikit kecewa.
"Temen temen lo?"
Fabian menggangguk.
"Cowok... cewek...?" Khey terlihat penasaran.
__ADS_1
"Cowok juga cewek. Dulu gue sering ke sini sama sahabat gue. Tapi udah lama enggak." Fabian terdengar menghembuskan nafas berat.
"Sama pacar?" Khey memandang Fabian dengan tatapan menyelidik.
"Anggap aja pernah." Fabian ambigu.
Khey mengernyit.
"Maksud lo?"
"Anggap aja gue pernah ke sini bawa pacar sah gue." Fabian melirik sesaat pada Khey lalu tersenyum tipis.
Ohh... luruh Khey tanpa memahami maksud ucapan Fabian.
"Mau cobain naik itu?" Fabian dengan menunjuk sebuah perahu kecil yang bersandar di pinggir danau.
"Takut." Khey terlihat enggan.
"Takut jatoh?" Fabian.
Khey mengangguk.
"Gue gak bisa berenang." Khey memberikan alasan.
"Gue ngajakin naik itu bukan ngajakin elo berenang." Fabian memaksa dengan menarik pergelangan tangan Khey untuk menuju perahu kecil tersebut.
"Gue tau... tapi kalau jatuh..." Khey terlihat menggerutu namun terpaksa mengikuti langkah kaki Fabian karena cowok bergelar suaminya tersebut menarik tangannya kuat.
"Gue gak bakalan bikin lo jatoh. Kalaupun jatuh tenang aja... ada gue." Fabian dengan menarik pinggang Khey mendekat. Lalu dengan kedua tangan yang menangkup pinggang Khey dan sedikit mengangkat tubuh ramping itu menaiki perahu.
"Bi... gue takut." Khey mencengkeram kuat pergelangan tangan Fabian seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, apalagi perahu kecil tersebut sedikit bergoyang goyang.
"Tenang aja. Pegangan di sini." Fabian mengalihkan kedua tangan Khey untuk memegang pinggiran perahu.
Setelah Khey terlihat lebih rileks, Fabian lalu mengambil dayung dan menceburkannya ke danau untuk mengayuh perahu tersebut menuju tengah danau.
"Asyik kan?!" Fabian dengan terus mengayuh dayung.
"Kalau lo butuh ketenangan, tempat ini cocok." Fabian terdengar santai namun seperti menyindir.
"Sepertinya elo udah biasa sama tempat ini?" Khey bertanya.
"Udag gue bilang kan kalau ini tempat favorite gue." Fabian mengingatkan.
"Sorry lupa."
Fabian hanya tertawa kecil, dirinya sadar jika Khey tidak fokus saat ini. Otak dan pikiran gadis itu tidak bisa menyembunyikan kekacauan hatinya.
Fabian menghentikan kayuhan dayungnya, keduanya sekarang telah berada di tengah tengah danau.
"Gak usah berpura pura tegar, kalau memang lo gak kuat menangislah." Fabian dengan memandang Khey teduh.
Khey tersengih, hatinya kembali tercubit. Mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu tanpa tersadar jika bulir bening mulai mengalir pada pipinya.
Grep...
Fabian membawa tubuh ramping Khey yang mulai bergetar tersebut ke dalam pelukannya.
"Gak usah sok kuat." Fabian mengusap punggung Khey lembut.
Khey yang sejatinya menahan rasa sedih dan sakit di hatinya, semakin terisak pada dada bidang Fabian. Meluapkan kerapuhan hatinya yang semula hanya ditahan olehnya.
Beberapa saat menangis Khey pun merenggangkan tubuhnya.
"Sorry... baju lo basah." Khey mengusap baju seragam Fabian yang terkena air matanya.
"Ntar kering sendiri." Fabian menghentikan tangan Khey yang mengusap bajunya seolah ingin mengeringkannya.
"Udah puas?" Fabian berganti mengusap bekas air mata pada pipi Khey.
Khey mengangguk malu.
"Maaf"
__ADS_1
"Elo gak ada salah sama gue, hentikan ucapan maaf lo."
Khey terkekeh kecil.
"Gue banyak salah sama lo Bi." Khey lirih dengan membuang pandangan dari Fabian.
Khey sungguh tidak sanggup memandang wajah Fabian saat ini. Berbagai rasa berkecamuk di hatinya. Rasa sakit akibat perbuatan Doni juga rasa bersalah pada Fabian bercampur aduk menjadi satu, membuatnya tidak mampu berkata hingga suasana menjadi canggung diantara keduanya.
"Elo mau belajar mendayung?" Fabian berusaha mengusir kecanggungan.
"Mana gue bisa..."
"Bisalah... sini gue ajarin." Fabian menggeser tubuh Khey membelakanginya.
"Bbi... ntar jatoh."
"Enggak... santai aja, gak usah takut." Fabian merapatkan tubuhnya pada punggung Khey.
"Pegang ini." Fabian memposisikan dayung pada kedua tangan Khey.
"Coba kayuh." Fabian dengan membantu menggerakkan daging di tangan Khey.
Khey pun mencoba menggerakkan dayung di tangannya dengan bantuan Fabian.
Perahu kecil yang semula berhenti pun kembali bergerak.
"Gimana? Mudahkan?!" Fabian dengan mengucapkan tepat di telinga Khey.
"Iya..." Khey mengangguk dengan tersenyum.
"Bi... sepertinya gue pernah ke sini deh..."
"Yakin...?"
"Iya... yakin." Khey sudah mengingat jika malam itu Doni mengajaknya ke tempat tersebut, bahkan berjanji akan mengajaknya kembali saat siang hari dan mengajaknya menaiki perahu seperti yang saat ini dilakukannya dengan Fabian.
"Berarti gak surprise lagi dong." Fabian.
"Elo gak nanya gue ke sini sama siapa..." Khey sedikit takut menyinggung Fabian.
"Gak... gue udah tahu siapa orangnya yang bawa lo ke sini." Fabian santai dengan masih membantu Khey mengayuh dayung.
"Elo tau?" Khey terdengar heran.
"Tau." Fabian datar.
"Elo gak marah?"
"Enggak. Meskipun gue bukan yang pertama ngajakin lo ke sini, tapi gue kan yan pertama ngajakin lo kencan di atas perahu ke gini..." Fabian dengan berbisik pada telinga Khey dan bahkan menumpukan dagunya pada pundak Khey.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Khey pun berdisko kencang karena bisiksn Fabian dan posisi Fabian yang seolah memeluknya erat dari belakang.
ππππ
My beloved readers, tengyu so much for :
Like ππ»
Vote π
Rate βββββ
Komen π
Tambahkan favorit β€
Salam halu dari author yang narsis abishh ππ»ππ»ππ»
__ADS_1